Aku bergantung pada-Mu

Renungan Sabda Kehidupan

Focolare April 2011

“Janganlah apa   yang  aku  kehendaki, melainkan apa yang Engkau   kehendaki.”  (Markus. 14:36)

Renungan pribadi:

Ketika lahir ke dunia manusia pada umumnya bagaikan kosong akan kesadaran tentang-Nya.

Ketika manusia bertumbuh dan berkembang dalam fisik maupun pikiran dan rohaninya, dunia di sekitarnya mempengaruhi caranya berpikir.

Dia mulai bertanya, apakah Tuhan ada? Apakah Hakikat dunia dan kehidupan ini? Mengapa aku dilahirkan, hidup (dalam keadaan seperti ini) dan mengapa aku lahir dan hidup kemudian hanya berakhir dengan kematian?

Jikalau dia beragama tertentu atau dibesarkan dalam tradisi agama tertentu, sudah pasti pikirannya tentang Tuhan dibatasi oleh sekat-sekat teologis hasil penafsiran dari kitab-kitab suci. Sedangkan yang dibesarkan oleh orang tua atheis atau theis tanpa agama,  pikirannya tentang Tuhan dipagari sekat-sekat filosofis dan penemuan saintifik. Tetapi, apakah Tuhan yang ada dalam pikirannya adalah Tuhan yang sesungguhnya?

Krisis Manusia Modern:  mereka meninggalkan Tuhan dengan sains dan agama (established religion) baik secara diam-diam, tak sadar, maupun dengan pemberontakan yang nyata.

Dengan sains, mereka menuntut keberadaan Tuhan secara empiris dan positivistik, menuntut hakikat Tuhan hadir di alam semesta secara rasional sesuai jalan pikiran mereka (seperti keharusan Tuhan mengatur alam semesta tanpa penderitaan anak manusia).  Mereka menggali ilmu pengetahuan melalui ujicoba-ujicoba klinis atau laboratorium dan fenomena-fenomena di lapangan, segalanya serba sesuatu yang zahir, yang dapat dilihat oleh mata fisik. Melihat jiwa dan tubuh dengan bantuan alat-alat, mesin, yang kesemuanya hanya dapat bergerak dengan tenaga-tenaga yang zahir (seperti listrik). Seribu orang menghasilkan seribu obat untuk penyakit kanker, tetapi kanker tetap mengganas. Seribu psikolog serta seribu psikiater menghasilkan seribu penemuan untuk menolong para penderita stress dan para pasien penderita sakit jiwa, tetapi mereka yang dinyatakan gila, skizofrenia, dan sebagainya terus bertambah, bukannya berkurang. Berapa banyakkah pakar ekonomi di dunia, tetapi apakah semua manusia hidup dalam kesejahteraan? Berapa banyakkah ahli pangan, tetapi mengapa begitu banyak orang tetap kelaparan? Berapa banyak insinyur yang ahli membangun dam dan semacamnya, tetapi apakah semua manusia memiliki akses terhadap air bersih?

Dengan agama, mereka menuntut Tuhan sesuai keinginan mereka. “Jikalau aku berbuat baik, maka Tuhan tidak semestinya menghukum aku dengan bencana, penyakit, kemiskinan dan berbagai penderitaan.” Mereka menyatakan Tuhan Maha Kuasa, namun meyakinkan kami bahwa hanya golongannya sajalah yang akan masuk surga. (Tuhan, oh Tuhanku, ampunilah aku saat mengatakan ini:  golongan orang seperti ini telah membuatku menjauh dari-Mu selama ini…) Sebentar-sebentar mereka akan berkata: “Berdosakah jika aku membaca doa begini dan bid’ah aku jika aku memuja-Mu dengan cara begini? Apakah hukumnya melakukan ini dan itu?” Dan jikalau aku mengambil jalan lain untuk menuju Engkau, mereka akan berkata, “Kafir, Fasik, atau Bid’ah atau Sesat!” Berapakah banyak agamawan yang telah melahirkan orang-orang seperti Terry, Georgie, Usama dan Imam Samudra? Berapa banyakkah orang yang gigih mengatakan kami religius, kami yang paling kaffah dalam berIslam, kami yang paling Salaf, yang tulen Syiah, atau yang asli Kristen-nya,  yang mengatur Tuhan sehingga pemboman, kekerasan terhadap bangunan dan umat agama lain, diskriminasi terhadap kaum minoritas,  atas nama keselamatan agama mereka sendiri itu (menurut mereka:) dibenarkan oleh Tuhan?

Para darwis modern demikian sering mengingatkan kepada kita tentang Jalan yang dapat ditempuh oleh setiap orang, tak peduli dari “Gereja” (baca: institusi agama) manapun ia berasal untuk sungguh-sungguh kembali kepada Tuhan. Hajji Bektash Wali menekankan pentingnya Dekalog untuk menuju-Nya. Sang Guru menekankan pentingnya “Empat Kitab Suci” sebagai salah satu sarana untuk menuju-Nya.  Mengapa mencampakkan kitab-kitab suci sebagai narasi-narasi dan deskripsi-deskripsi fiksi? Tapi mengapa pula meletakkan kitab-kitab suci setara dengan tafsir kitab-kitab suci manusia-manusia yang belum teruji kesuciannya? Banyak Jalan menuju Tuhan, tetapi tak ada satu pun Jalan yang dapat terhindar dari menuju kepada-Nya, kata terakhir itulah kata Hajji Bektash Wali dan Sang Guru sering mengingatkan.

Maka…Dapatkah Jalan Sains dan Jalan Agama Institusional menghindar dari Hakikat Sejati, Dia Yang Absolut, Kebenaran Mutlak?

Karena kita semua berasal dari Sang Maha Ada, maka keber-ada-an kita tidaklah lain dari Sang Maha Ada. Dia melekat pada segala sesuatu dan segala sesuatu bergantung kepada-Nya untuk meng-ada. Maka, satu-satunya yang “natural” atau alamiah tentang keber-ada-an kita sebagai manusia adalah kebergantungan kita kepada-Nya. Hakikat kemanusiaan kita terletak pada sejauh mana kita menyadari dan mengakui kebergantungan kita pada Sang Maha Ada, Sang Diri yang Sejati. Karena itu, semakin kita rela menerima dan mengikuti kehendak-Nya, semakin pula kita me-manusia-kan diri kita. Kehendak bebas yang kita miliki sebagai salah satu anugrah yang  dimiliki umat manusia itu juga kehendak-Nya. Memanfaatkan atau mendayagunakan kehendak bebas kita sesuai dan sejalan dengan kehendak-Nya akan semakin mendekatkan kita kepada-Nya.

Sejauh dan sepanjang ini, apakah Sains dan Agama Institusional itu dapat sungguh-sungguh menolong kita untuk mengetahui Realitas Mutlak? Jawabnya bukan ya atau tidak….Mereka mungkin hanya dapat mengantar kita sampai di Pintu Gerbang Pertama menuju-Nya…Selanjutnya, bukan bergantung kepada siapa dan apapun jua…mesti kita tempuh sendiri…seperti kematian kita…menjadi sendirian lagi dalam kematian kita masing-masing….

“Karena Engkau meng-ada-kan aku, maka keber-ada-anku bergantung dalam keberadaan Engkau… Karena Engkau melekat padaku, maka aku bergantung pada-Mu … Bukan apa yang ku-kehendaki, tetapi apa pun yang Engkau kehendaki…Engkau: tidak dapat kuhindari!”

MARKUS 14:

(28) Setelah aku bangkit, akan aku

Menuju senyum Galilea mendahuluimu

(29) Tapi Petrus berkata padanya, “Biarpun semua

Terguncang, tiada imanku tumbang pula

(30) Lalu kata Yesus kepadanya, “Sesungguhnya

Aku berkata padamu, lihatlah malam ini juga

Sebelum ayam berkokok dua kali, akan engkau

Menyangkalku tiga kali demi menurutimu

(31) Tetapi dengan lebih bersungguh-sungguh Petrus berkata,

“Sekalipun aku mesti mati bersama denganmu, aku tidak akan

Menyangkalmu bahkan dalam alur tuturan

Dan semua yang lain pun juga berkata demikian

(32) Sampailah mereka ke suatu tempat yang bernama

Getsemani secara singkat dan sederhana

Berkatalah Yesus kepada murid-muridnya di sana,

“Duduklah di sini sementara aku berdoa,”

(33) Dan ia membawa Petrus  dan Yakobus serta

Yohanes bersama dengannya untuk mengamati tipu daya

Dan ia sungguh gentar serta ketakutan

(34) Berkatalah Yesus kepada mereka, “Jiwaku dalam kekurangan,

Sangatlah sedih, seakan mau menjemput nyawaku,

Tinggalah di sini, berjaga-jagalah, hiruplah nafasmu “

(35) Ia maju sedikt, kemudian

Ke tanah dirinya direbahkan

Dan ia berdoa sekiranya mungkin pada ini jam

Berlalu darinya, yang pahit dan asam

(36) Katanya, “Ya Abba, Ya Bapa, segala sesuatunya

Bagi-Mu tidak ada yang mustahil adanya

Ambillah cawan ini dariku, tapi janganlah apa

Yang aku kehendaki melainkan apa yang Engkau kehendaki untuk menutupnya


Tatkala terdapat suatu pilihan atau seolah-olah terdapat pilihan

Jiwaku menarik diri dari kematian dan merasakan kegembiraan

Bagi keselamatan manusia dikatakan ia sudah tiba

Sejauh mana  yang tersesat dalam nyala cahaya

Untuk mengulurkan pertolongan. Tetapi, pada saat menderita

Ia melempar tatapan ketakutan dan berpaling darinya

Apa yang semua manusia mesti kecap dari kematian dan menyesalinya

Ia menemukan nyaris terlampau berat karena kebimbangan hatinya

Kekasih, Engkau berada di puncak, Engkau tidak ketahui

Kesengsaraan sebagai manusia yang kujalani

Tetapi, jika Engkau melihat Yesus pada persembahannya

Engkau akan melihat apa yang semua manusia hadapi dalam cahaya merah kematiannya

Lebih teguh daripada malaikat-malaikat dalam kekuasaan-Mu jua

Ditemukan dalam hati manusia, dalam diri manusia yang berbunga

~~~~

(Diterjemahkan secara bebas dari karya sang guru, Thomas McElwain,

The Beloved and I, New Jubilees Version vol. 4)

Comments are closed.