Aku “Manusia”

Renungan Sabda Kehidupan Maret 2011,

(Focolare April yang tak dapat kusertai)

— Mereka selalu bicara tentang  manusia, manusia –
Apakah seorang manusia itu, sekarang aku tahu.
Mereka selalu membicarakan hati, sang hati –
Apakah sang hati itu, sekarang aku tahu. —

Muhittin Abdal telah menyelam demikian dalam
Dan telah terbang demikian tinggi
Guru kami telah lebih dulu berkata di muka
Pintu gerbang — “Kitab yang terbaik dari segala kitab adalah manusia,”
— Ya manusia. Haji Bektash Wali semoga beliau diberkati,
telah pun menyampaikan demikian –
Maka, telahkah kita membaca ‘Manusia’?

Allah berkehendak agar aku hidup di dunia ini. Pada zaman ini. Tak ada satu pun cara agar aku bisa keluar dari kehendak Allah yang satu ini. Kecuali aku mengambil pisau dan hendak membunuh diriku sendiri. Pada zaman inilah, ketika dunia hampir-hampir tidak berbatas lagi. Dan, aku, suka atau tidak suka, mau tidak mau, mesti juga menjalaninya. Dengan kehendak-Nya pula, Allah memberiku “kehendak bebas”, “free-will”, sebab aku manusia, dan dengan izin-Nya pula aku bebas menjalankan “ijtihad”ku sebagai manusia, mau melakukan apa, mau berpikir bagaimana, dan mau merasakan ini dan itu, diam atau bergerak. Tetapi, apapun yang kulakukan dan kupikirkan, selalu ada yang membatasi gerak-gerikku, ada yang membatasi daya pikirku, dan ada yang mengubah rencana-rencanaku. Aku menyerahkan pada kalian (pembaca yang budiman) untuk menemukannya sebagai apa atau siapa. Tetapi, aku meyakini Allah, dan meyakini akan kehendak Allah. Maka aku berserah diri pada kehendak Allah, dalam wujudnya yang jelas maupun samar-samar, dan dengan kehendak bebasku, kuberusaha sejauh potensi yang diberikan padaku untuk mengikuti kehendak-Nya.

Di dunia maya dan di dunia nyata, aku sudah biasa berjumpa dengan orang-orang yang taat beragama, beragama secara institusional – apakah ia Muslim, Katholik, Protestan, Hindu, Buddha, Konghuchu, Baha’i, Sikh, Yahudi dan sebagainya – maupun secara spiritual, seperti para Sufi, para biarawan atau biarawati Katholik dan Buddha, atau penempuh jalan spiritual lainnya. Di dunia nyata dan maya pula aku sudah biasa menemukan mereka yang menolak agama, baik sepenuhnya, atau separuhnya, yang lazim disebut liberal, atau pun yang menolak Tuhan yang disebut atheis, atau yang disebut agnostik – yang tidak beragama namun meyakini Tuhan.

Aku berterimakasih kepada Mark Zuckerberg, pendiri facebook, yang kudengar atheis, walaupun ia keturunan Yahudi, wallahualam, aku tidak peduli, siapapun beliau, karena berkat temuannya aku bertemu dengan banyak sekali orang secara maya, dan kemudian akhirnya, sebagiannya dapat pula bertemu secara nyata.

Orang-orang yang kejam kepadaku banyak sekali berkeliaran di dunia maya. Yang pertama kejam, karena mereka membenci pilihanku dalam menjalankan agamaku sebagai Jalan bukan sebagai institusi. Mereka sanggup menghina aku dan hendak melakukan kekerasan padaku, hanya karena aku berbeda pendapat dalam imanku di Jalan ini. Yang kedua, tidak kurang kejam, adalah yang tidak menghormati pilihanku dalam menjalankan agamaku sebagai Jalan walaupun mereka mengakui diri mereka seorang Pluralis dan menghormati Kebinekaan. Mereka sanggup menghina dan mengolok-olok pilihan beragama dan hidup orang lain hanya karena orang-orang seperti aku tidak sama dengan mereka dalam menafsirkan dan menjalaninya.

Manusia benar-benar kitab,
Hanya saja saat membuka halaman demi halaman.
Satu persatu lembaran kitab ini tidak pernah berakhir –
Itukah yang dimaksud dalam Alkitab dan AlQuran, dan
Kitab-kitab kearifan Timur serta Barat.
Tinta-Nya tidak akan pernah kering?

Yang pertama bisa saja membicarakan panjang lebar dan detail dalil-dalil agama tentang kesesatan dan kesalahan pemahaman atau penafsiranku, tetapi apakah mereka menyadari bahwa apa yang mereka jelaskan tetap tidak bisa melepaskan penggunaan akal mereka saat membaca ayat-ayat-Nya sama seperti yang kulakukan?

Yang kedua bisa saja membicarakan panjang lebar dan lengkap tentang hal-hal rasional dan empiris tentang kekurangan dan kelemahan dalil dan praktek agama.  Tetapi, apakah mereka menyadari bahwa apa yang mereka sampaikan tetap tidak mampu menjelaskan segala sesuatu yang penuh misteri dan tanda tanya di dunia yang luas ini?

Akal manusia dapat bergerak, berjalan begitu jauh,
Berpikir begitu luas, merentang demikian lebar,
Melahirkan begitu banyak pemikiran dan pemahaman,
Menjawab begitu banyak hal,-berspekulasi begini dan begitu
Tetapi di lubuk Hati yang terdalam ini,
Kutahu akal manusia tetaplah memiliki batasan (seperti juga tubuhnya)

Sebagian besar dari kita mau tak mau taklid kepada fatwa-fatwa ilmuwan tentang sesuatu (seperti hukum gravitasi), sampai penemuan baru dihasilkan (seperti hukum tata surya). Begitupun kepada para agawaman yang menafsirkan ajaran agama mereka, sejauh apapun mereka berusaha memaksakan dogma dan dokrtin mereka, kemutlakan hanyalah milik Tuhan.

(wahai Saudaraku yang mengaku saleh) Anda bicara tentang surga dan neraka, tetapi Anda belum pernah ke sana, jadi jangan biarkan aku mengira Anda-lah yang memiliki kuncinya dan berhak menentukan apakah aku masuk ke pintu surga atau ke pintu neraka, sampai-sampai dengan angkuhnya anda hendak mengatakan aku sesat, dan dengan angkuh menghukumi aku (dan orang lain) berdosa.

(wahai Saudaraku yang mengaku pejuang HAM) Anda bicara tentang peristiwa-peristiwa di masa lampau tentang orang-orang suci yang anda katakan sebagai orang-orang yang melanggar hak-hak asasi manusia, membunuh, memperistri banyak wanita, atau bahkan meninggalkan keluarga demi kehidupan spiritual mereka; tapi Anda sendiri belum pernah ke masa lalu itu. Jadi jangan biarkan aku mengira Anda menguasai masa lalu, dan berhak menentukan bahwa aku salah memahami masa lalu.

“Carilah dan temukanlah”
Demikianlah pesan guru kami
Haji Bektash Wali, semoga Allah merahmatinya,
Dan beliau juga berkata,
“Apapun yang engkau cari,
Carilah di antaranya.”
Dan katanya lagi,
“Carilah kuncinya di antara (hakikat)
kemakhlukan engkau yang paling dalam.”
Demikianlah. Maka, aku pun terus membaca.
Mencari. Mencoba menemukan.

Comments are closed.