Surat Tanggapan Terhadap Hai-Hai

Dear  Hai Hai Bengcu,

Dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang (Ezra 5: 1; Daniel 9: 9).

Semoga Yesus Kristus Sang Al-Masih senantiasa membimbing Anda di Jalan Kebenaran.

Surat komentar ini saya tujukan khusus kepada artikel anda yang menarik yang berjudul “Bengcu Menggugat Karena Penciptaan Manusia Belum Selesai” sebab saya pernah berkomentar di situ tapi tampaknya terhapus atau tak dimuat oleh Anda dan saya berprasangka baik kepada Anda jikalau tidak berkenan memuatnya.

Pertama, saya hendak menegaskan terlebih dahulu kedudukan saya dalam mengomentari tulisan Anda yang menarik itu. Anda pasti mengenal saya adalah seorang Muslim. Tetapi seperti juga penganut Kristiani, di dalam Islam juga terdapat banyak denominasi/mazhab teologi.

Walaupun saya tidak menyukai istilah Sunni, Syiah, Ahmadiyah, Ismailiyah, Manhaj Salafi, Sufi, dsb, tetapi dalam sisi ini perlu saya tegaskan bahwa saya adalah seorang pengikut Ahlulbayt. Orang umum lazim menyebutnya Syiah, sebab mereka hanya menerima keimamahan Imam Ali dan seterusnya. Lebih jauh lagi, saya juga mengikuti suatu tarekat (jalan spiritual) yang secara metode berbeda dari kebanyakan tarekat sufi yang memiliki amalan wirid-wirid dsb, melainkan amalan sederhana berupa pembacaan/pengajian Empat Kitab Suci (Taurat, Mazmur, Injil dan AlQur’an) serta penghormatan terhadap Hari Sabbath, dalam hal ini menjadikan Dekalog (10 Perintah Allah) sebagai fondasi atau poin-poin utama menjalankan syariat yang lebih detail lagi. Oleh karena, kebanyakan dari kami mengikuti fikih Ja’fari (Imam Syiah ke-6) dalam hal pantangan dan liturgi yang ternyata semua itu sama sekali tidak bertentangan dengan Alkitab [seperti pantangan makan yang dijalani Adventist contohnya tidak memakan ikan yang tidak bersisik, sujud di atas tanah (misalnya Keluaran 34:8, Markus 14: 35), bentuk wudhu/ablution hanya wajah, tangan dan mengusap air pada kaki (misalnya Keluaran 40: 31-32) dll]. Dan terkhusus lagi dalam tarekat ini, kami mungkin sedikit berbeda penyambutannya terhadap Alkitab jika dibandingkan kaum Muslim lain dalam menggunakannya sebagai standar kebenaran.

Kedua, mengapa saya perlu menegaskan kedudukan saya ini, walaupun pada dasarnya saya seorang yang sangat menghargai perbedaan dan berusaha sebaik mungkin menghormati setiap agama dan mazhab di muka bumi ini? Semata-mata supaya arah pembicaraan saya nantinya jelas bagi Saudara Hai-Hai yang baik, yang kemungkinan mengenal Islam dari sisi mazhab tertentu,  sama seperti tadinya saya menduga Anda adalah seorang Katolik yang taat – tapi setelah saya mengamati barangkali bukan demikian – sehingga kemudian Anda memberikan kritikan yang tajam terhadap Islam dalam artikel Anda tersebut. Juga supaya jelas arahnya bahwa saya (dan saudara-saudara seordo kami) tidaklah sependapat bahwa di dalam Alkitab terdapat ”corruption” melainkan korupsi penterjemahan dan hal-hal yang menurut kami tidak esensial.  Jadi standard kebenaran saya adalah Empat Kitab Suci tersebut sebagai Kesatuan Wahyu Tuhan.

Ketiga, maaf jika ini terlalu panjang, saya hanya ingin mengkongsikan (sharing) informasi saja kepada Saudara Hai Hai tanpa bermaksud melakukan debat yang panjang dan melelahkan. Toh, saya yakin pada akhirnya kita semua ini pasti berujung pada perbedaan yang niscaya adanya. Karena itu, dalam perbedaan ini biarlah kita menemukan dan menangkap setiap pemikiran yang ada dengan arif dan bijaksana.


MARILAH SAYA MULAI KOMENTAR SAYA TERHADAP ARTIKEL ANDA.

(1)

Bengcu    : Pada mulanya memang Allah berencana menurunkan Alquran dari sorga namun hal itu sama sekali tidak pernah terlaksana. Anda tahu kenapa hal itu tidak terlaksana? Karena nabi Mohamad SAW buta huruf. Tiga kali malaikat Jibril mengujinya namun Nabi tidak bisa membacanya. Itu sebabnya malaikat Jibril lalu memutuskan untuk mendiktekannya. Selain buta huruf, nabi juga tidak bisa menulis, itu sebabnya yang didiktekan oleh malaikat Jibril tidak dicatatnya namun didiktekan kembali dan dicatat oleh sahabat-sahabatnya. Apa yang diajarkan oleh Alquran itu sangat gamblang dan tegas sehingga mustahil menyangkalnya. Alquran yang kita miliki saat ini didiktekan oleh malaikat Jibril kepada nabi dan dicatat oleh para sahabat nabi ketika nabi mendiktekannya. Anda punya alasan lain? Perlukah saya mengutip ayat-ayat Alquran untuk mendukung apa yang saya katakan?

Jawaban: Pernyataan Anda jelas-jelas mengambil sudut pandang salah satu mazhab dalam Islam, yang memang salah satu denominasi mayoritas.

Pertama, Nabi Muhammad tidak diangkat sebagai Nabi untuk Agama baru bernama Islam. Istilah ”Islam” muncul dalam Al-Quran dan dijadikan nama bagi pengikut Muhammad, tetapi istilah ”Islam” itu sendiri telah ada dalam Alkitab (ini akan saya jelaskan lebih jauh lagi). Kalau kemudian ”Islam” menjadi agama baru yang ”established” demikian adanya itu karena perjalanan sejarah dan takdir Tuhan juga yang mengaturnya seperti halnya Katolik dan Protestan. Nabi Muhammad menerima Wahyu salah satunya sebagai memenuhi Janji Allah kepada Ibrahim, selain sebagai penerus ajaran Ibrahim itu sendiri.

Dalam hal ini, karena Anda sendiri sudah menolak AlQuran, maka saya akan berbicara dari Alkitab sendiri – seperti yang anda katakan selalu dalam banyak artikel anda, bahwa ia adalah kitab yang paling jelas dan gamblang, dan saya sepakat dengan Anda.

Jika Anda berkesempatan untuk membaca Alkitab dalam bahasa Ibrani (Hebrew) dan bukan terjemahan LAI atau KJV, maka Anda akan menemukan apa yang ditemukan oleh Thomas McElwain sebagai berikut dalam pendahuluannya pada The Beloved and I New Jubilees Version sebagai berikut:

”Bertentangan dengan para penterjemah yang dikenal oleh saya, saya memilih untuk meninggalkan TIGA KATA dalam Taurat tanpa diterjemahkan, cukup hanya menyediakan transliterasi  ”Ali” dan meninggalkan pembaca menafsirkan sesuai kehendaknya. Situasi serupa didapati dalam tigabelas teks dengan kata Ibrani yang seakar katanya dengan kata ”Muhammad” (Hamda) sebagai contoh dalam Mazmur 106: 24 mestilah diterima sebagai prediksi profetik dari seorang yang akan datang dengan nama tersebut jika KITA JUGA MENERIMA Yesaya 7 yang dikaitkan dengan figur Yesus. Konsistensi diperlukan yaitu apakah kita mau menerima keduanya atau mengabaikan keduanya.  Untuk menerima ”Muhammad” sebagai kata yang layak dalam satu contoh membuatnya lebih mudah untuk menerima salah satu atau seluruh dari duabelas atau lebih contoh yang memungkinkan untuk itu. Saya telah membaca sejauh ini asumsi dari kata Ibrani yang asli terkait dengan bahasa Yunani dalam suatu kalimat pada Kitab Sirakh, dan di balik sejumlah kalimat dalam (kitab dari) Ethiopia pada kalimat-kalimat dalam Kitab Enokh dan Kitab Jubilees. Kata-kata seakar dengan Ali dan Muhammad secara sederhana muncul dalam Kitab-kitab yang berbahasa Ibrani, dan para pembaca berhak mengetahui hal ini, tanpa peduli apakah dia mau menerimanya secara profetik atau tidak.” *(Contoh ada pada catatan kaki)


Kedua, Nabi Muhammad tidaklah buta huruf. Jika memang ada orang Islam yang mengatakan demikian itu adalah sesuai aliran mereka. Paling tidak menurut mazhab yang saya ikuti, tidak demikian adanya. Begini ceritanya, supaya Anda juga mendengar dari sumber-sumber lain selain yang selama ini anda telah dapatkan:

Pada saat Muhammad saw berumur 40 tahun, pada 27 Rajab, 610 M, sebagaimana sering yang beliau lakukan yaitu berkontemplasi/bermeditasi di Gua Hira, Malaikat Jibril muncul di hadapannya, ”Recite!” (terjemahan ”bacalah” dengan ”recite” agak mereduksi). Tentu saja Muhammad heran dan kaget, ”Apa yang mesti saya recite?”. NAH DISINI. Bedanya. Bukan karena Muhammad buta huruf, kalau Anda disuruh membaca tetapi tidak ada yang diberikan Anda mau baca apa?

Kemudian Jibril terus memberikan wahyu dari-Nya, “Recite O Muhammad!”

Nah baru kali yang ketiga malaikat Jibril mengatakan, ‘Recite in the Name of Your Lord Who created. He created the human being from a clot. Recite and your Lord is Most Honourable, Who taught (to write) with the pen, taught the human being what he knew not’ (96:1-5).

Dengan kalimat-kalimat inilah Jibril mengumumkan bahwa Muhammad adalah Nabi Allah secara resmi yang akan membawakan Risalah dan Nubuat – walaupun kenabian beliau telah secara de facto sejak beliau lahir hanya saja baru pada umur 40 tahun dikukuhkan dengan resmi/pelantikan.

Ketiga, Jika Anda hendak menyatakan bahwa di dalam AlQuran terdapat penegasan bahwa ayat bahwa buta huruf Muhammad itu ada, maka saya ingin luruskan. Kata “ummi”, menurut Alquran adalah orang-orang yang tidak, atau belum diberi satupun Kitab oleh Allah. Bani Israil dari keturunan Ishak telah diberi tiga buah kitab melalui Musa, Daud dan Yesus – peace be upon them. Karenanya, mereka disebut ahli kitab. Sedangkan keturunan Bani Ismail, belum diberi satupun kitab sebelum Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad yang merupakan keturunan Ismail. “Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi kitab, dan orang-orang “ummi” (yang belum diberi kitab), sudahkah kamu tunduk patuh?” (Qs Ali Imran: 20).

Maka jelaslah, tidak seluruhnya kata “ummi” itu bermakna buta huruf. Lantas, apakah Muhammad buta huruf? Alquran membantah pendapat ini secara terang-terangan dan
berkali-kali. Banyak ayat di dalam Alquran yang mengisahkan nabi diperintahkan supaya membaca ayat-ayat-Nya kepada orang-orang yang berada di sekelilingnya. Hal ini menunjukkan nabi pandai membaca.

Contoh ayat dimaksud antara lain; “Katakanlah (Muhammad), ‘Marilah, aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu….” (QS 6:151). Atau, “Demikianlah Kami mengutus kamu (Muhammad) kepada satu umat yang sebelumnya beberapa umat telah berlalu, agar engkau bacakan kepada mereka (Alquran) yang Kami wahyukan kepadamu.…” (QS 13:30). Atau, : “Dia yang mengutus kepada kaum yang ummi (orang Arab) seorang rasul (Muhammad) di kalangan mereka untuk membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,” (QS 62:2). Baca juga dalam QS 5:27, QS 17:106, 27:91-92, QS 33:33-34, QS 39:71.

Keempat, Jika anda hendak menyatakan bahwa sahabat-sahabat yang mencatat, tentu saja mereka mencatatnya tetapi bukan berarti Nabi Muhammad tidak bisa membaca. Di samping itu, dalam Islam, terdapat dua aliran utama dalam penerimaan riwayat-riwayat mengenai nabi dan catatan-catatan ajaran nabi. Secara mayoritas menerima penerimaan hadist atau riwayat dari seluruh sahabat pada masa Nabi, tetapi seperti mazhab Syiah hanya menerima riwayat-riwayat dari jalur Ahlulbayt saja. Ini hampir mirip seperti mengenai penetapan kitab mana yang apokripa dan non-apokripa. Namun dalam hal al-Quran seluruh mazhab sepakat dengan ketentuan dan pengaturan seluruh ayatnya dan susunannya.


Bengcu    : mengenai doktrin keselamatan

Jawaban:

Jawaban dalam laman berikut ini sangatlah memuaskan bagi saya dan sejalan dengan keimanan dan sesuai dengan standard kebenaran yang saya anut.

http://www.facebook.com/topic.php?uid=440235620231&topic=15877

Tapi saya sangat suka dengan penjelasan dan pikiran anda mengenai Keselamatan dan Injil sebagai Kabar Baik.


Bengcu  : Mengenai ayat-ayat membunuh orang kafir

Pertama, perlu saya luruskan bahwa Anda sedang mengutip penafsiran salah satu golongan (yang mayoritas) dalam Islam yang menyatakan bahwa “kaum kafir” adalah orang-orang yang bukan Islam.

Syahid Murtadha Muthahari seorang ulama dari mazhab kami menyatakan bahwa ada beberapa golongan yaitu di antaranya Muslim, non-Muslim, dan kafir – yaitu orang menutupi kebenaran, dari akar katanya itu sendiri. Dalam pemahaman lebih jauh lagi, yang sufistik, Di kalangan umat Islam sesungguhnya juga terdapat golongan kafir.

Anda misalnya mengutip QS Al Baqara 190-196, dan al-Nahl 126 untuk membuktikan ajaran Islam yang keras harus membunuh atau melawan musuh dengan kekerasan. Padahal di dalam Alkitab juga ada ayat-ayat yang menekankan ketegasan atau ada sabda Yesus yang menyuruh tidak mematuhi orangtua, padahal semua ini tampaknya bertentangan dengan Dekalog. Lalu adakah ini semua satu sama lain bertentangan dengan Dekalog? Tentu tidak! Jika membunuh satu orang musuh/penjahat/perampok dapat menyelamatkan 10 nyawa, bukankah itu bukan pembunuhan namanya?

Saudara Hai Hai, jika Anda hendak membaca suatu buku atau kitab, sebaiknya tidaklah setengah-setengah dan mengutip sepotong-sepotong tanpa melanjutkan atau mengutip ayat yang sebelumnya dan dalam konteks apa ayat itu diturunkan/dinyatakan.

Tetapi secara utuh membaca dialog Anda itu dalam bentuk pengadilan dan anda bertindak sebagai hakim, merupakan gagasan yang menarik sebab di situ anda hendak bersikap arif di antara kedua pemikiran yang ekstrim dari golongan Kristen dan Islam.


TERAKHIR

Mengenai istilah “Islam” yang tadi telah saya janjikan untuk saya bahaskan, maka saya akan uraikan sekarang.

Istilah “Islam” itu seakar dengan “salam” (peace) dan juga “shalom” dalam bahasa Ibrani. Maknanya juga sama yaitu “Damai” dan lebih jauh lagi adalah “Berserah diri kepada Tuhan” (submit to Allah). Kita tahu bahasa-bahasa Semit memiliki kebiasaan mengembangkan satu kata menjadi banyak bentuk menurut jenis kalimat, kata gantinya sebelumnya, dst. Mungkin ada istilah yang lebih baik untuk ini dalam ilmu bahasa.

Kata yang seakar dengan “Islam” telah banyak ditemukan dalam Alkitab dalam bentuk bahasa Ibrani, “shalom”.

“Akhir kata, saya telah adakalanya menterjemahkan kata Ibrani dalam Alkitab “shalom” tidak kepada damai, melainkan sebagai Islam, dengan pandangan yang merujuk kepada maksud kata itu sendiri, bukan kepada suatu pendirian agama tertentu, tetapi kepada berdamai (berserah/submit) pada Tuhan yang tiba melalui penyerahan diri kepada kehendak-Nya yang diwahyukan. Tidak ada implikasi yang hendak untuk menguntungkan agama established tertentu. Malah, para pembaca AlQuran yang tidak bias akan kemudian menyadari bahwa niatnya tidaklah untuk menciptakan suatu tradisi keagamaan baru, melainkan suatu seruan kepada seluruh umat manusia dari seluruh sekte untuk kembali kepada iman Ibrahim,” Thomas McElwain dalam “The Beloved and I: New Jubilees Version, pendahuluan Vol. 1.” ** (Contoh ada di catatan kaki)

Maka, sebagaimana Anda telah membahas dengan menarik istilah “Kabar Baik” atau “Injil” sebagai misi Yesus di dunia, maka di dalam pembahasan ini saya lebih kurang mirip dengan pemikiran Anda dalam menghadapi “Mbah Paijo” yang merupakan orang Buddha.

Saya meyakini bahwa misi Muhammad SAW adalah untuk menyerukan kembali kepada umat manusia bahwa agama yang terbaik di sisi-Nya adalah “Submit to God” – bukan nama agama tertentu, malahan jika orang ternyata beragama “Islam” tetapi ternyata perilaku tidak pernah menunjukkan “Submission to God” itu sendiri, maka itu bukanlah agama yang terbaik bagi-Nya.

Menurut pendapat kami, “Submission to God” ini lebih jauh lagi terangkum jelas pada dua hingga empat sila dalam Dekalog, yang menekankan penyembahan hanya kepada satu Tuhan, dan seterusnya, dan seterusnya, kemudian sebagai bekal kehidupan kemanusiaan dan kemasyarakatan dalam sila-sila berikutnya pada Dekalog. Kemudian dalam setiap agama dan setiap mazhab yang established detail setiap inti perintah dalam Dekalog itu berbeda-beda. Tuhan menurunkan nabi atau wali atau utusan-utusan-Nya kepada setiap umat dan setiap zaman untuk melembutkan kembali hati manusia yang terlanjur mengeras dan membatu dengan adanya hukum-hukum “tambahan” atau pelengkap bagi Dekalog itu sendiri.

Akhir kata, saya merasa sungguh senang bisa bertukar pengetahuan dengan Anda, sebagai sesama pencari kebenaran.

Semoga Tuhan merahmati Anda (God bless you), dan Yesus  as. senantiasa membimbing Anda. SALAM DAMAI SELALU!!!

P.S: Mohon yang tidak terkait tidak memberi komen di sini. Hehehehe.

Catatan Kaki:

(1) Tentang “Muhammad” dan “Ali”

A. Muhammad

PSALMS 106:

13 They soon forgot His works, did not
Wait for His counsel loving taught,
14 But in the wilderness greatly
Lusted to eat their meat freely,
And in the desert tested Him,
Alohim with plaints sour and grim.
15 He gave them their request, but sent
Leanness into their soul and spent.
16 They envied Moses in the camp,
And Aaron saint of YHWH and lamp,
17 The earth opened and swallowed there
Dathan, and covered, soil and air,
Faction of Abiram with care.
18 In their midst there was kindled fire
The flames consumed wicked desire.
19 They made a calf in Horeb, and
Worshipped the moulded image grand.
20 Thus they changed their glory into
The ox’s image that eats dew
Upon the grass. 21 And they forgot
Alohim their Saviour, who taught
Great things in Egypt, 22 wondrous works
In the land of Ham, awesome dirks
By the Red Sea. 23 Therefore He said
That He would destroy them instead,
Had not Moses His chosen one
Stood up before Him in the sun
To bear the breach, to turn away
His wrath, lest He destroy that day.
24 So they despised Muhammad’s land,
And they believed not his command.
25 They sat complaining in their tents,
Heard not YHWH’s voice for arguments.
The golden calf was looking back to that
Monolatry of Egypt where they’d sat
At feet of priest and king. The wilderness
Was too bucolic for such well-read slaves.
A scientific, golden worship raves
In town and ear with civilized finesse.
So even then, before the prophet’s birth,
They questioned him because of land and
worth.
Belovèd, they did not believe his word,
Although their hot souls burning in them
stirred
To hear the Unity, its recitation.
A dearer thing it was to be a nation.
Destroy me too, Beloved, wherein I am

Besides You, I’m a sacrificial lamb.
If erets Hemda does not mean the land
Of Muhammad, despite the name at hand,
Then Isaiah cannot mean Jesus Christ
When he spoke to Ahaz, for whom sufficed
The word without the sign. In fact his fate
Was to live to see the sign come not late.
If Isaiah gave sign to king and then
Prophesied of Messiah among men,
Then David does a better job when he
Mentions the very name in clarity.
Both passages relate to days of old
Before both Christ and Arab prophet bold,
But You, Beloved, not silent, came and told
Us messengers should come to set us free.

(The Beloved and I, New Jubilees Version, Vol.2)

(B) Ali

Exodus 8
1 And YHWH spoke to Moses, “Go to
Pharaoh and tell him, ‘Thus says YHWH,
“Let My people go, that they may
Serve Me. 2 “But if you block their way,
Indeed, I will smite all your land
With frogs. 3 “And so the river sand
Shall bring forth frogs abundantly,
Which shall go up and come freely
Into your house, into your room,
Upon your bed, in your costume,
Into the houses of your servants,
On your people, for your observance,
Into oven and kneading bowl.
4 “And the frogs shall come on your soul,
On your people, on all your servants.”‘”
5 Then YHWH spoke to Moses, “Say to
Aaron , ‘Stretch out without ado
And tend your rod over the streams,
Over rivers, over ponds’ gleams,
And cause frogs to come up upon
The land of Egypt before dawn.'”
6 So Aaron stretched out his hand over
The waters of Egypt, and rover
Frogs came up and covered the land
Of Egypt. 7 The magicians’ hand
Of their enchantments did so too,
And brought up frogs and not a few
On the land of Egypt. 8 Then Pharaoh
Called to come faster than an arrow
Both Moses and Aaron, and said
“Entreat YHWH that He may be led
To take away the frogs from me
And from my people and country,
And I will let the people go,

That they may sacrifice to YHWH.”
9 And Moses said to Pharaoh, “May
Ali be honoured! When, I pray,
Shall I intercede for you, for
Your servants, and your people more,
To destroy the frogs from you and
Your houses, that they may leave land,
Remaining in the river strand?”
Beloved, destroy the frogs from me and
mine,
The frogs of unbelief as well as wine
Of false belief, and honoured be Ali
Whom You appointed at Ghadir to be
The Prophet’s viceroy and the one to speak
In favour of Your law, defend the weak,
And raise the banner of the Unity
Of God as one, Muhammad and Ali.
Some flatter kings and bow before their
reign,
And greet them with the finest words in vain,
For none of them seek justice nor attain
To right rule in a world of loss and gain.
But Moses greets the king with right
submission
To God’s appointed. Let that be my mission.

(The Beloved and I, New Jubilees Version, Vol.1)

(2) Tentang kata “Shalom” dan “Islam”

EXODUS 18:

7 Moses went out to meet the father
Of his wife and bowed without bother
And kissed him, and they asked each other
Of their Islam, or how the brother
Did, then they both went in the tent.
8 Moses told his wife’s father bent
What YHWH did to Pharaoh and to
The Egyptians for Israel’s due,
And all the hardship that had come
Upon them on the way, and YHWH
Had saved them from what they’d gone
through.
9 Jethro rejoiced for all the good
Which YHWH did where Israel stood,
Whom He delivered from the hand
Of the Egyptians and their land.
10 And Jethro said “Blessèd be YHWH,
Who has delivered all of you
From the Egyptians hand and out
Of Pharaoh’s hand in turn about,
Delivered the people from under
The hand of the Egyptians’s thunder.
11 “Now I know that YHWH’s greater than
All the gods invented by man,
For in the very thing in which
They behaved proudly, for a switch

He was above them.” 12 Then Jethro,
Moses’ wife’s father took below
A burnt offering and sacrifices
To Alohim for His devices.
And Aaron came with all the old
Ones of Israel to eat bread cold
With Moses’ wife’s father before
Alohim whom they all adore.
Jethro was heathen I suppose to those
Today who find all belief must repose
On human sacrifice, although he took
Offerings to Alohim before the book
Of legislation had been written. Now,
It seems to me his faith was just a bough
Of that planted by Abraham before
And spread as far as Ethiopian shore,
Perhaps seeds blown there by the feisty wind,
Or floating on the Red Sea scaled and finned.
At least his genes go back to Abram’s stealth
In taking Keturah and her bride-wealth.
Beloved, the desert’s filled with those Your
own
And lonely thus no servant stands alone.
Jethro rejoiced for all the good You did
To Israel in Egypt where they hid.
He did not thank you for the evil act
That fell on them, nor for the rod exact
Taskmasters used to scar the people’s backs.
I guess his faith was not faith of the axe
As some today who find Your finger where
Oppression cracks and suffering seethes the
air.
Some thank for good and bad and some
rejoice
Alone to hear, Beloved, Your still small
voice
In justice and in mercy always given,
And never partisan to evil driven.
Beloved, I thank You for the things You do,
And in the evil I am silence, true.

(The Beloved and I, New Jubilees Version, Vol.1)

EXODUS 18:

17 Moses’ wife’s father said to him,
“The thing you do’s not good, but dim.
18 “Both you and these people with you
Will surely wear yourselves out too.
For this thing is too much for you,
You by yourself cannot do it.
19 “Listen now to my voice that’s fit,
I shall give you some good advice,
Alohim will bless your device:
Stand before Alohim to bring
For the people every hard thing.
20 “And you shall teach them the statutes
And laws, and show beyond disputes
The way in which they ought to walk
And the thing they must do and talk.
21 “Moreover you shall select from
All the people able men, some
As fear Alohim, truthful men,
Hating covetousness, and then
Place such over them to be rulers
Of thousands, hundreds, but not foolers,
Rulers of fifty, and of ten.
22 “Let them judge the folk at all times.
Then it will be that greater crimes
They shall bring to you, but the small
Matters they themselves shall recall.
So it will be easier for you,
For they’ll bear the burden with you.

23 “If you do this thing, Alohim
Commands you to, then you will seem
Able to endure, and all these
Will also find their place in peace
Or in Islam as the wise sees.
24 So Moses heeded the voice of
His wife’s father whom he did love
In all that he had said above.
25 And Moses chose able men out
Of all Israel, and gave them clout
Over the people: rulers of
Thousands, rulers of hundreds too,
Rulers of fifties to be true,
Rulers of tens. 26 And so they sat
To judge the people where they’re at
At all times, the hard cases they
Brought to Moses, what he would say,
But they judged every small case for
Themselves. 27 Then Moses let therefore
His wife’s father depart the strand,
And he went into his own land.
Note well, Beloved, how my tribe has refused
To follow in Your plot and been confused.
You set Your leader, guide duly appointed
To teach the laws and statutes as anointed,
And rulers over groups to try the cases
To see who’s in the right or wrong in races.
The rulers do not establish what’s right,
But rather who hit first when two men fight.
Law and order are different things I see,
You are the one appointing law to be,
While Your prophet sets officer for order,
Who is not divine guide but only boarder
In Your house. Now, Beloved, I set aside
Usurpers who rule in their wrong and pride.

(The Beloved and I, New Jubilees Version, Vol.1)

2 responses to “Surat Tanggapan Terhadap Hai-Hai

  1. Ciao Gayatri. Menarik penjelasannya. Saya juga merasa diri (dengan segala hormat) calon Islam, dalam arti orang yang berusaha, dengan segala keterbatasan dan kelalaian, untuk berserah kepada Allah.
    Ciao dan terima kasih

    Matteo

    • gayatri wedotami

      Benar Matteo,
      Setiap orang yang telah berserah diri kepada Tuhan adalah “muslim” – setidaknya secara etimologis maklum istilah ini kan sudah dimonopoli juga, jadi kita mesti terima takdir juga…hehehe
      Maaf sekali ya Matteo kalau ada tulisan saya dalam artikel ini yg mungkin menyinggung Matteo.
      Btw, perasaan di situ sudah ada tulisan yg tdk berkepentingan mohon tidak komen, hohoho, tapi untuk brother Matteo yg khusus mengenal grup The Beloved and I no problemo. Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s