Wejangan Syekh Hünkar (4)

dan Nyanyian Murid-muridnya di Kebun Mawar ~

(Bagian III)

Bunga mawar adalah simbol paling penting bagi seorang darwis, dalam hal ini para darwis Bektashi. Sedangkan taman atau kebun merupakan simbol dalam tasawuf yang paling terkenal, tanpa memandang tarekat maupun aliran mana pun. Para syekh atau mahaguru tak hanya memberi wejangan atau khotbah, tetapi juga lazim bersajak dan berpuisi, dan murid-muridnya menyanyi, bermain musik maupun menari; tetapi, kesemua itu dilakukan bukan untuk berhura-hura mabuk dunia, tetapi semua aktivitas itu adalah simbol-simbol yang dijalani untuk mencapai gerbang demi gerbang.

Dalam bukunya Taman Kebenaran: Mereguk Sari Tasawuf, Seyyed Hossein Nasr menyatakan bahwa Bektasiyyah didirikan oleh Hajji Bektash Wali yang berasal dari Khurasan, Persia, namun sangat berjiwa Turki. Bektasiyyah mendapat bentuk yang mantap pada abad ke-16 M berkat jasa Balim Sultan, sehingga ia dipandang sebagai guru kedua setelah Hajji Bektash Wali. Pondok, zawiyah atau tekke mereka, terdapat di wilayah Kayseri, Anatolia. Di Turki mereka pernah mempengaruhi kesalehan popular serta kedudukan sosial istimewa karena elit Janiseri yang menerapkan dimensi spiritualitas Bektashiyyah.  Namun, pada 1826 Sultan Mahmud II menghancurkan Janiseri sehingga situs-situs Bektashi hancur, dan baru muncul kembali pada sekitar abad ke-19 M khususnya di wilayah Balkan, terutama di Tirana, Albania. Namun, Bektashi mengalami masa-masa sulit akibat modernisme sekuler Kemal Attaturk yang mengharamkannya dan juga kejayaan Komunisme selama beberapa waktu di Albania. Walau demikian, para syaikh tarekat yang disebut baba masih dapat dijumpai di sejumlah wilayah di Balkan, seperti Albania, dan juga Turki.

Yang menarik adalah istilah Baba di tengah-tengah wilayah Balkan yang dekat Rusia. Istilah “Baba” yang barang tentu berasal dari pengaruh Bahasa Persia, berarti ayah. Istilah ini justru pertama kali saya kenal bukan dari Ali Baba atau semacamnya, melainkan dari dongeng ”Vasilissa si Gadis Cantik” kisah rakyat yang dikumpulkan oleh Alexander Afanesyev. Kisah ini mengenai nasib seorang gadis mirip Cinderella, namun yang satu ini mengalami petualangan yang lebih mistis ketimbang Cinderella, sebab ia mempunyai boneka dan juga masuk ke hutan tempat kelak ia menemui Baba Yaga, seorang wanita bijaksana, penyihir yang berkesan jahat, tetapi sebetulnya tidak – melainkan berusaha untuk mendidiknya dengan suatu cara yang tak lazim. Baiklah mungkin tidak terlalu berkaitan, tetapi cobalah mencari dongeng menarik ini, dan memahami makna batin dongeng yang selama bertahun-tahun amat membekas dalam diri saya walau hanya membacanya beberapa kali waktu kanak-kanak.

Bektasiyyah juga terdapat di Bosnia. Mulhid Vahdeti (w 1603 M) adalah salah satu penyair Bosnia yang diduga kuat seorang Bektashi, barangkali seorang darwis pengelana yang tidak terikat dan tidak terinisiasi oleh pondok Bektashi mana pun, tetapi dari karya-diketahui bahwa ia seorang perpaduan unik antara Hurufi yang dilahirkan Fazlullah Astarabadi (abad ke-14 M) dan gerakan Hamzawiyyah, salah satu pondok Bektashi yang kemudian bergerak politis, yang didirikan Hamza Bali di Bosnia untuk melawan Turki Usmaniyyah.

Salah satu Diwan karya Mulhid Wahdati (Vahdeti) selalu merujuk kepada Fazlullah atau pun Imam Ali as, baik sebagai satu orang maupun sebagai sebagai sebagian dari entitas yang sama.

Di tangan Ali adalah golok, panah, dan pedang bermata dua, Bulu, kata-kata dan syarah, garis dan huruf.

Ketika orang-orang berubah semakin membenci lebih dari para anjing, ”Ali, Sang Singa Allah, menjadi tempat pengungsian bagi kaum fakir.

Sementara itu dia, Oh hati! Bangkit dari kematian pada setiap waktu. Jiwaku mi’raj ke langit demi langit.

Syukur kepada Allah saat ini, Oh Wahdati! Fazlullah dan Ali bicara melalui mulutmu.

Dari nyanyian tersebut kita akan semakin memahami mengapa Bektashiyyah terkadang begitu eklektik dan terkadang dengan jelas dan tak dapat disangsikan sangat eksluksif dengan iman Syi’ah mereka. Ini-lah yang sedikit membedakan sebab kaum sufi Bektashi – dan siapa saja yang diklaim oleh para murid dan pencinta Hajji Bektash Wali – memiliki corak khas menyatakan kecintaan kepada Imam Ali, terang-terangan, dan tidak bertaqiyah dalam hal ini apabila mengajarkan murid-murid mereka. Tetapi, kepada umat Muslim berbeda mazhab, efektivitas pun dipertimbangkan dengan dalam, sehingga apa yang tampak lebih sering seorang Bektashi yang tidak Islami sama sekali.

Hubungan Bektashi dengan kaum Muslim lain adalah persoalan berbeda. Meski pun para anggota tarekat diperkenankan untuk mengikuti mazhab fikih mana pun yang mereka kehendak, pengikut Bektashi dikenal memiliki reputasi yang tidak baik di antara kaum Muslim karena tidak mau ikut bersama (dengan mereka) dan sama sekali tidak peduli kepada mereka. Mazhab Hanafi yang lazim diikuti di Turki diikuti oleh mereka taat kepada hukum Islam atau kemudian praktek Syi’ah. Namun, nampaknya terdapat semacam kebencian antara para Bektashi dan Muslim yang lain, terutama karena liberalisme (diperkenankan dalam) Bektashi dalam menjalankan praktek pemisahan antara lelaki dan perempuan, mewajibkan jilbab bagi wanita dan penggunaan alkohol.

Kebencian ini bahkan kemudian menimbulkan suatu humor yang menarik. Dongeng Bektashi tentang seorang Bektashi yang mendapatkan kaum Muslim Sunni dalam banyak argumen. Mereka semua sangat cerdas, dan beberapa bahkan mereka melakukan taqiyah terhadap keyakinan dan praktek keyakinan mereka.

Terdapat suatu cerita terkenal mengenai seorang Bektashi yang pergi ke masjid untuk sembahyang. Sewaktu berada dalam shaf, bahu di samping bahu dengan yang lain, dalam solat, pria Bektashi itu mengangkat kepalanya dan berseru, ”Ya Allah, berilah aku sebotol wiski,” dan bukannya berkata, ”Tunjukilah kami jalan yang lurus.” Tatkala sholat selesai, orang-orang yang merasakan itu suatu skandal mulai geger dan menuntut penjelasan dari sikapnya yang merusak sholat. Dia kemudian menjawab, ”Setiap orang memohon kepada Tuhan apa pun yang tidak dia miliki.” (Cerita-cerita semacam ini, seperti Abu Nawas dan Nasaruddin Khoja, bertujuan mengguggah yang mendengarnya, tetapi sering disalahpahami dalam berbagai bentuknya)

Beberapa orang mungkin akan bertanya bagaimana caranya untuk menjadi seorang pengikut Bektashi. Karena adanya pembatasan terhadap Bektashiyyah di Turki beberapa dekade terakhir, hanya mereka yang tertarik akan melihat sisa peninggalan budayanya cukup merasa puas dengan mengunjunginya.  Pondok pusat yang berada dekat Nevsehir sekarang adalah museum, masih dijadikan tempat ziarah (oleh para pengikutnya).  Orang Albania yang mengikut Bektashi cenderung pula nasionalis dalam karakter mereka. Mereka yang datang ke pondok itu dan berharap untuk diinisiasi mungkin akan kecewa. Ada sebuah cerita menarik tentang seorang pria yang mengalami kekecewaan itu. Dia merupakan penganut mazhab Syi’ah imamiyah dan sangat taat. Dia menyatakan bahwa orang-orang di dalam pondok sangatlah ketat dalam menjalankan syariat Islam. Ia akan terasa sangat ortodoks dan kuno bagi selera orang Eropa, dan tentu saja anggota-anggota tarekat itu sangat taat dalam menjalankan ibadah cara Syi’ah, termasuk dalam sholat, berpuasa, dan segala bentuk syariat Islam (bermazhab Ja’fari lainnya).  Hal kedua, pondok dipenuhi oleh tipudaya semacam darwisiyah yang terkenal. Seorang mursyid bercerita tentang pengalamannya yang aneh kepada mursyid yang lain. Di sana dia ditanyai (pemandunya) apakah dia mencintai Imam Ali. Tentu dia menjawab dia mencintai Imam Ali. Dia kemudian ditunjukkan sebuah paku panas berwarna merah dan disuruh untuk menusukkannya ke tangannya jika memang dia mencintai Imam Ali. Dia menjawab, “Aku mencintai Imam Ali, tetapi aku tidak akan menusuk paku itu ke tanganku.” Pemandu itu kemudian mengambil paku dan seakan-akan menusukkan paku ke tangannya. Setelah hal itu terjadi, tidak terjadi luka bakar dan luka tusuk di tangannya. Meski para turis Swedia menikmati pertunjukan semacam itu, tidaklah disangsikan bahwa orang umum mendapatinya sebagai bonus tambahan bagi mereka yang menjalani praktek-praktek spiritual.

Alternatif lain yang mungkin lebih menarik adalah kontak-kontak sosial dan budaya yang telah terjalin dengan kaum imigran Turki. Ini dapat dicari di internet dan ketiklah istilah Bekta (pada search engine seperti google dsb) yang mengabaikan persoalan bahasa, maka muncullah situs-situs dalam bahasa Turki, sekaligus juga Jerman dan Inggris.

Seorang darwis modern yang kini hidup di puncak gunung bersalju Eropa Utara, menceritakan pengalamannya saat berjumpa dengan seorang pria yang mengaku sebagai keturunan Yunus Emre. Pria tersebut adalah darwis pengelana yang tidak terinisiasi dengan pondok manapun. Pertemuan dengan darwis pengelana itu sangat membekas dalam dirinya karena ia sangat terkesan akan kedalaman ilmu dan spiritualitas sang pengelana, serta menunjukkan pula bahwa dalam beberapa keadaan, lebih disukai untuk menghindari hierarki organisasi. Tradisi darwis pengelana sudah sangat tua, dan juga sama sahnya dengan yang lainnya, di samping fakta bahwa saat ini para sarjana sangat mengabaikan darwis pengelana semacam mereka, sama halnya dengan massa yang populer.  Tatkala dia ditanya siapa mursyidnya, dia menjawab, ”Mursyidku adalah Allah.” Tatkala dia bertanya kepada sang pengelana siapakah musahibnya, lalu dia pun menjawab, ”Allah adalah musahibku”  Maka dia pun ditanyai pula silsilah spiritualnya, dan dia menjawab bahwa silsilah spiritual-nya hanyalah para duabelas imam (alaihissalam). Kendati tanpa institusi atau kawan spiritual, sang darwis modern merasa darwis pengelana itu adalah yang paling spiritual di antara semua sufi yang ia kenal sepanjang perjalanan spiritualnya di Turki, Afrika, dan Timur Tengah.

Darwis modern inilah yang menyampaikan kepada saya artikel menarik ini dan kemudian saya olah menjadi empat bagian. Seorang mursyid di mata dan di hati saya, dalam pengertian sebagaimana halnya saat ia berjumpa dengan sang darwis pengelana! Sebab dia menegaskan: seorang yang hendak menjadi darwis pengelana yang mengikuti Bektashi, syarat utama adalah menjadi seorang pencari kebenaran atau hakikat sejati. Seseorang tak memerlukan institusi atau pun inisasi melampaui penerimaan bahwa Allah-lah satu-satunya mursyid sejati. Duabelas imam, tampaknya, sudah jauh lebih cukup untuk memberikan silsilah spiritual dan capaian sosial.

Ajaran Hajji Bektash yang paling terkemuka adalah:

Jadilah tuan bagi lidahmu, tanganmu dan perutmu.”

Itu saja sudah merupakan ajaran untuk menjalankan kehidupan di dunia ini.

Kita sudah mengetahui ada banyak bentuk dari sufi dan ada bentuk-bentuk longgar di luar zawiyah atau tekke atau pondok serta tanpa inisiasi atau baiat formal kepada seorang mursyid khusus semacam darwis  pengelana atau mungkin saja kita sendiri adalah salah satunya. Nah, bagaimana dengan riwayat murid-murid Syekh Hunkar, terutama mereka yang paling terkemuka, menjadi baba atau pun syekh, atau hanya seorang darwis pengelana yang mengembara menyanyikan sajak-sajaknya? (Bersambung)

whirling dervishes

Mari sebelum dapat terjawab, ikut mendengar nyanyian sendu ini.

Di Antara Kuil dan Masjid. Seuntai Gazal.

Di antara kuil dan masjid aku duduk dengan tepat

Mungkin untuk menyiapkan di mana diriku terdapat

Maulana mendengkur lima puluh yar jauhnya

Tetapi aku di Konya untuk sehari sahaja

Putra Yunus Emre menemukanku di sana

Saputangan selayarnya dilempar ke udara

Dan dasi senada selebarnya di dadanya

Pakaian linennya putih dan terbaik baginya

Dia melayangkan dirinya di rumput yang terhampar

Mengabaikan noda hijau di belakang pangkal pahanya

Dia menatapku dalam hati, bibirnya mendekati bibirku

Dan berkata ”El-Haqq” dengan mata serta wajah lemah-lembut

Dia menunjukkan, terserak sekeliling, dedaunan rumput

Dan coba berbicara mengatasi bunyi-bunyi yang bergemuruh

Demikianlah “la ilaha illallah” terus disebutkannya

Pengulangan yang angkuh, demikian tampaknya, untuk berdoa

Dia menunjukkan denyutan pada dadanya dan bersuara

Dengan berbisik  pada hiruk pikuk di luar

Darah mengalir bak arus dan teruslah ia berkata  sepenuh hati

Al-Haqq Al-Haqq Al-Haqq dan tidaklah dilebih-lebihi

Jama’ah solat memenuhi masjid pada akhirnya

Dan dia akhirnya pergi bertemu juga menyapa mereka secepatnya

Menari whirling dan berputar-putar di jalanan mabuk kepayang

Secepat yang ia bisa bersungkur pada kakinya

Maka Ali Haydar melangkah dalam sembahyang

Dan tak dapat menemukan akhirnya di mana pun jua

Namun malam dan siang dia terus berwhirling melayang

Sebab dia di Konya hanya sehari sahaja

(Ali Haydar)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s