Wejangan Syekh Hünkar (2)

~ dan Nyanyian Murid-muridnya di Kebun Mawar ~

(Bagian II)

Ke-aku-an dalam puisi yang saya kutip dari Yunus Emre pada bagian pertama tulisan saya merupakan sesuatu yang dianggap oleh semua Sufi sebagai salah satu penghalang utama bagi penyerahan diri secara utuh kepada Tuhan, bersatu dengannya sehingga ”aku” menghilang dan hanya memastikan Dia saja yang hakiki.

Sebelum melanjutkan bahasan mengenai Bektashisme, saya akan kutipkan cerita awal-mula Yunus Emre menjadi murid Syekh Hünkar, dapat menyanyi bersama-sama di dalam Kebun Mawar-nya:

Syekh Hünkar atau Hajji Bektash pada masa itu dikenal sebagai seorang mursyid terkemuka di berbagai penjuru sehinga para murid dan para muhib berdatangan untuk menjumpainya. Mereka yang melarat berkunjung dan menjadi kaya, dan mereka yang mengharap sesuatu meminta tolong Syekh Hünkar untuk didoakan kepada Tuhan agar menjadi kaya.

Di selatan Sevrihisar, ada sebuah desa yang dikenal sebagai Sarıgök. Di sanalah Yunus Emre dilahirkan. Makam Sang Eren Hünkar juga terdapat dekat dengan tempat ia dilahirkan. Di sana Yunus Emre mencari nafkah dengan bercocok tanam, dan ia seorang petani yang melarat. Pada suatu ketika, setahun lamanya terdapat kekeringan sehingga tanamannya tidak tumbuh sama sekali. Yunus Emre mendengar bahwa Haci Bektash datang di daerahnya, lalu dia berkata dalam hati, ”Aku akan pergi menemuinya, dan memohon untuk sesuatu.”

Lalu dia mempersiapkan lembunya, dan membawa buah-buah beri ke atasnya, dan sampai ke Karahüyük. Ia pun berkata kepada Hünkar, ”Aku orang yang tak punya uang; Aku tak punya apapun dari ladangku. Ambillah buah ini, dan berikanlah aku dengan sesuatu yang dapat menghiburku sesuai nilai buah-buahan ini. Keluargaku dan kerabatku akan makan dari pembayaranmu dalam cinta-kasihmu.” Lalu, Syekh Hünkar memberikan murid-muridnya, dan mereka memakan buah-buah beri tersebut.

Selepas satu atau dua hari, Yunus memutuskan kembali ke rumahnya. Syekh Hünkar mengirimkan darwis-darwisnya dan berkata, ”tanyakanlah kepadanya, apakah kita memberikan gandum atau nefes?” Maka darwis-darwisnya pergi dan bertanya kepada Yunus Emre dan Yunus tentu saja menjawab, “Apa yang dapat kulakukan dengan nefes? Aku lebih membutuhkan gandum!”. Para darwis pun pergi memberitahu Syekh Hünkar yang kemudian berkata, “Kami akan memberikan sepuluh nefes untuk setiap biji beri.” Mereka pun memberitahu jawaban Syekh Hünkar, dan Yunus menjawab, ”Tetapi aku mempunyai keluarga dan kerabat, aku membutuhkan gandum!” Dengan persetujuan ini, mereka pun mengangkut gandum ke atas lembunya dan bersiaplah dia pergi ke jalan raya.

Ketika Yunus di tengah jalan, sampai di turunan suatu jalan, baru saja melintasi suatu jalanan menurun yang curam di tepi hamam, tiba-tiba dia membatin, “Betapa bodohnya perbuatan yang baru saja kulakukan? Aku pergi kepada sang eren, dan menawarkan nasib kepada ku dan beliau bersedia memberikan aku sepuluh nefes untuk setiap biji beri-ku, tetapi aku malah tidak mau menerima! Ini gandum yang diberikan kepadaku akan habis dimakan dalam waktu beberapa hari.  Apakah untuk hal ini aku memiliki nasib yang serba kekurangan? Aku akan kembali lagi dan mudah-mudahan dia akan membenarkan aku lagi.” Maka Yunus pun kembali dan mendatangi kembali tekke. Dia menurunkan gandumnya dan berkata kepada penghuninya, “Biarlah Sang Eren memberikan nasib yang ditawarkan kepadaku, aku tak membutuhkan (lagi) gandum.”

Para halifes, murid-murid Hünkar pergi dan memberitahu Syekh Hünkar akan hal ini.  Maka, Syekh Hünkar berkata ”Maafkan aku. Perbuatan semacam ini tidak dapat diperbaiki, sebab aku telah memberikan kunci bagi mereka yang mengunci, kepada Tapduk Emre.  Bawalah Yunus kepadanya dan terimalah nasibnya dari-nya. Maka para halifes menyampaikan kata-kata Hünkar kepada Yunus Emre. Dia lalu berjalan ke Tapduk Emre dan menyampaikan sambutan Hünkar dan menjelaskan apa yang telah terjadi. Tapduk menerima sambutan tersebut dan berkata: “Kedatanganmu membawa kegembiraan, karena engkau membawa keberuntungan. Keadaanmu telah pun tersingkap kepada kami. Mengabdi dan kerjalah untukku dan nanti kau akan menerima nasib-mu.” Maka, Yunus pun mulai mengumpulkan kayu-kayu, dan memanggulnya ke dalam tekke Tapduk Emre. Dia tidak pernah memotong batang kayu yang hijau (yang masih muda) atau pun membawa batang kayu yang retak (untuknya). Yunus mengabdi selama 40 tahun.

Suatu hari kegembiraan menghampiri Tapduk Emre dan ia pun menjadi seorang eskatik. Di dalam majlis terdapat seorang penyair bernama Guvende dan Tepduk berkata kepadanya: “Menyanyilah!” Namun Guvende enggan dan tak mau menyanyi. Tapduk berkata, “Bicaralah! Kami sangat ingin mendengar(mu).” Lagi-lagi Guvende tak mau menyanyi. Pada saat inilah Tapduk menoleh kepada Yunus dan menyempurnakan nefes Syekh Hünkar. Ia berkata kepada Yunus:

“Telah tiba waktu bagimu, dan kami telah membuka kunci bagi harta karunmu. Kami memberikanmu sang nasib! Menyanyilah!” Maka, hijab yang menyelubungi segala yang tak terlihat kini terbuka di hadapan mata Yunus Emre, dan Yunus Emre pun mulai menyanyi. Nefes yang ia nyanyikan sejak saat itu  terbentuk menjadi suatu himpunan yang sangat besar….

 

whirling dervishes

Walaupun Tarekat Darwis Bektashi masih dinyatakan illegal oleh pihak berwenang Turki, elemen-elemen budaya dari prakteknya masih terpelihara tidak hanya di museum di Haci Bektas Köyü di dekat Nevsehir di Anatolia, tetapi juga dalam perkumpulan-perkumpulan musik dan sastra di seantero negeri darwis tersebut. Grup-grup tarian juga mempersembahkan karakteristik whirling yang khas. Whirling ala Bektashi berbeda daripada Mawlawi karena jauh lebih sederhana dan jauh lebih mudah untuk dipelajari. Pada dasarnya ia merupakan gerakan berjalan mengikuti arah jarum jam kendati dalam beberapa masa dan di beberapa tempat lain gerakan bergaya lainnya juga ditambahkan. Lelaki dan perempuan keduanya menari bersama, dan aspek inilah yang menyebabkan gosip akan skandal di sepanjang masa.

Secara historis, terdapat suatu sistem pemondokan yang kemudian mengembangkannya menjadi dua aliran, yang hierarkis salah satunya, secara turun-temurun. Namun, sistem pemondokan ini telah diredam (oleh pihak berwenang). Namun, jutaan dari kaum Alewi di seluruh negara (Turki) tetap berhubungan akrab dengan bentuk spritualitas dalam berbagai variasinya, menyanyikan lagu-lagu Bektashi-Alewi dalam iringan musik baglama.

Pada akhirnya, di mana-mana terdapat pula darwis yang berkelana dari satu tempat ke tempat lain yang tetap memelihara amalan dan kedalaman spiritualitas Bektashi (tanpa terikat dalam sistem pemondokan dan tarekat), terkadang dapat kita jumpai mereka di antara kalangan yang memiliki semangat religius yang mendalam; dan mereka inilah yang telah lama dilahirkan oleh Islam dan sufisme.

Terdapat beberapa organisasi Bektashi yang masih beraktivitas di Eropa.Beberapa grup masih beraktivitas di Albania. Pondok di Skopje di bawah bimbingan Halife Ibrahim sangatlah terkenal. Kaum imigran Turki telah membawa tradisi itu bersama-sama mereka ke Jerman dan selatan Eropa, dan perhimpunan Bektashi-Alewi di Mannheim telah mempublikasikan materi-materi lama dan baru yang menyediakan program kebudayaan yang penuh semangat tak hanya bagi kaum Alewi Turki tapi juga untuk orang-orang Eropa yang berminat mendalaminya. Ketertarikan terhadap gaya Balkan dalam Bektashisme telah diperkenalkan oleh sejumlah publikasi luarbiasa para sarjana Perancis di antara publikasi-publikasi lainnya. Pada akhirnya, tampaknya muncul pula spiritualitas darwis yang datang dan pergi di antara para individual yang merupakan keturunan dari mereka yang terpengaruh oleh Dinasti Usmaniyah sejak abad ke-16 M.

Barangkali di antara begitu banyak darwis Bektashi yang beraneka warna di Eropa adalah seorang saudagar sutra Inggris bernama Edward Elwall (1676-1744), yang pernah bergabung dengan suatu pondok dalam salah satu perjalanan bisnisnya ke Turki. Elwall kembali ke Inggris dengan mengenakan jubah dan turban, dan akhirnya pada tahun 1720 menjadi orang terakhir di Inggris yang diadili sebagai seorang bid’ah. Elwall dengan luarbiasa melampuai eksentritas belaka pada saat menolak Trinitas Kudus di depan masyarakat umum, pernah terlihat mengganggu suatu kotbah di Gereja Anglikan. Mungkin dia lebih dikenal dengan kegiatan amalnya menyediakan tempat tinggal bagi orang-orang miskin. Perpaduan unik antara kebebasan, kesetaraan sosial, mistisime, dan kegembiraan dalam mengejutkan mereka yang serius serta tradisional, kesemuanya tak melepaskan diri dari tarekat,  kendati ada kecebderungan modern untuk lebih menitikberatkan kepada sejarah, budaya, musik dan tarian-tariannya (saja).

Sulit untuk menggambarkan yang mana liturgi maupun kepercayaan dan praktek Bektashi secara khusus. Ia cenderung bervariasi tidak hanya dari satu tempat ke tempat, tetapi dari individu ke individu Ada beberapa corak khas tetapi ada  yang tampaknya hampir universal di antara para darwis Bektashis. Norma-norma terhadap Kitab Suci sangatlah terbuka dan beragam, bahkan selalu mencakup empat buku yakni Bible (Taurat, Zabur, Injil) dan al-Qur’an. Demikianlah aneh kelihatannya, Kitab Suci yang telah menjadi iman orang Eropa. Mungkin Bektashisme adalah satu-satunya tradisi spiritual yang menggunakan baik AlQuran maupun Bible secara bersamaan, dan mereka menemukan konsistensi di antara keduanya. Interpretasi mereka, bagaimana pun, cenderung amat mistis dan individualistis, berbeda secara jauh dari interpretasi  yang dikenal secara tradisional dalam Judaisme, Kristen dan Islam.

 

Para darwis berwhirling di Kosovo

Pokok dari doktrin-doktrinnya dapat ditemukan di sumber-sumber terawal berkaitan dengan empat gerbang dan empat macam orang yang mengalaminya. Pintu gerbang pertama adalah syariat, dan ini mewakili legalitas dan formalitas agama. Ada beberapa, menurut keyakinan Bektashi, orang-orang yang memiliki kebutuhan agama untuk mengenal Tuhan sebagai Yang Maha Kuasa dan harus ditaati. Pintu gerbang kedua adalah gerbang tarekat atau Jalan seorang darwis. Ini adalah bagi mereka yang memiliki kebutuhan religius untuk mengenal Tuhan sebagai Sang Kekasih. Mereka ini menekankan cinta-kasih dan sering kali mengalami ekstase dalam menyadari kehadiran Illahi. Pintu gerbang ketiga adalah makrifat. Inilah pengalaman di alam semesta dengan kesadaran yang melampaui panca indra dan rasionalitas. Dalam kata yang sederhana, dapat dikatakan mereka yang mengenal seluruh alam semesta tak lain sebagai (manifestasi) Tuhan, maka ia akan mengenal-Nya. Pintu gerbang keempat adalah hakikat atau gerbang realitas hakiki, yakni mengalami kesatuan dengan Tuhan sehingga ia  mampu menjangkau kehilangan kesadaran dari  perpisahan (dengan-Nya). Tahapan keempat ini tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata dan digambarkan oleh apapun jua. Terdapat banyak karya sastra, terutama di kalangan orang Albania dan Turki, dari daerah yang berbeda, yang memaknai dan memperhalus pengalaman-pengalaman ini, masing-masing dengan serialnya praktek dan kewajibannya sendiri. Namun, tidak ada keseragaman di antara kesemuanya.

Tarian whirling, nyanyian himne Bektashi, berdoa dalam lingkaran, dan meditasi dalam semua cara untuk memperoleh dan meningkatkan pengalaman sampai ke gerbang lebih tinggi. Kesemua ini tidaklah secara ideal berakhir dalam diri mereka. Seorang Bektashi sejati, bagaimana pun, akan menunaikan dalam dirinya apa yang mampu dijangkaunya bahwa mereka mampu menemukan yang mana yang paling bermakna untuk memasuki  pintu gerbang Bektashi dan mengalaminya. Pengalaman seorang sufi secara tipikal adalah berkhidmat sebagai murid atau mengikuti seorang murshid atau pemimpin tertinggi yang dibentuk oleh hierarki Bektashi. Terutama di Albania, hierarkinya telah ditetapkan, dengan tradisi-tradisi yang tepat  untuk pertemuan mereka. Bektashisme kemudian diatur ke dalam pemondokan, terkadang dihuni oleh mereka yang memilih hidup selibat, dan membentuk pusat-pusat komunitas untuk masyarakat  yang bergantung kepada pondok tersebut untuk ritual-ritual berkenaan kelahiran, penyambutan akil baligh seorang anak, pernikahan, maupun kematian. Namun, tidak kurang dan tidak lebih, semua praktek yang dilakukan para darwis ini berkenaan dengan keempat gerbang tersebut.

Walaupun demikian, terdapat beberapa pengecualian. Sejumlah individu Bektashi dikenal sebagai penganut Islam yang suka mengabaikan fikih atau hukum Islam. Mereka tidak melaksanakan sholat, puasa, atau bahkan pergi naik haji ke Mekkah. Ada suatu kecenderungan untuk menolak Hari Akhir, dan lebih memusatkan perhatian kepada kehidupan masa kini. Bektashiyah akibatnya juga dikenal karena melanggar hukum Islam yang mengharamkan minuman beralkohol, tetapi hal ini juga terjadi karena adanya persepsi yang salah dalam majaz-majaz puisi Bektashi tentang kesatuan dengan Tuhan yang digambarkan sebagai “mabuk kepayang.”

 

Syekh Hünkar

Memang ada sejumlah kelompok Bektashi yang menenggak alkohol sebagai bagian dari ritual mereka, tetapi apakah semuanya begitu? Apakah semua darwis Bektashi tidak setuju dan menaati syariat dasar Islam itu sendiri? (Bersambung)

Yunus Emre bernyanyi (sebelum anda menduga-duga tentang Kebun Mawar ini!):

Mereka yang menjadi utuh

tidak menjalani kehidupan ini dalam kemunafikan

tidak mempelajari makna segala seusatu

dari membaca komentar-komentar

Hakikat adalah samudra; Hukum adalah sebuah bahtera

Banyak yang tak pernah meninggalkan bahtera,

Tak pula pernah melompat ke dalam lautan.

Mereka mungkin saja datang untuk Beribadah

tetapi mereka berhenti pada ritual-ritual

Tak pernah mengetahui atau pun masuk ke Dalam
Mereka yang berpikir Keempat Kitab

bermaksud untuk dibicarakan,

barangsiapa yang mengalunkannya hanya untuk membaca penjelasan-penjelasan

dan tak pernah memasuki maknanya

sesungguhnya mereka berdosa.

Yunus berarti “teman sejati”,

bagi siapa saja yang perjalanannya telah dimulai

Sampai kita menjelmakan Nama-nama kita,

kita belum menemukan Jalan.

(Sumber-sumber: “Vilateyname of Haji Bektash Veli”, dan ringkasan mengenai Bektashisme oleh catatan seorang mursyid dari  muridnya, dan puisi-puisi karya Yunus Emre yang saya terjemahkan secara bebas)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s