Wejangan Syekh Hünkar (3)

dan Nyanyian Murid-muridnya di Kebun Mawar ~

(Bagian III)

Bagaikan Di Padang Mawar

Kita sekarang mengerti mengapa Yunus Emre dikenal sebagai pengembara yang suka mengajar di kalangan kaum fakir miskin di perkampungan, menyanyikan lagu-lagu dalam bahasa Turki, bahasa orang awam di Turki. Sementara itu, saudara sufinya Maulana Rumi hidup dalam “istana” dan menyampaikan sajak-sajak dalam bahasa Persia – jika diibaratkan pada masa kini di Indonesia, seorang pujangga yang membaca sajak bahasa Inggris, bahasa yang hanya dipahami oleh kalangan terpelajar.

Maulana Rumi dan Yunus Emre konon sering berjumpa dan salah satu sohbet tentang keduanya yang terkenal adalah kisah tatkala Rumi menanyakan pendapat Yunus Emre tentang karyanya “Mathnawi.” Yunus Emre berkata, “Sangat bagus! Sangat bagus! Tapi, jikalau aku, aku akan membuatnya dengan sangat berbeda.”

Rumi tentu saja terkejut dan bertanya, “Bagaimana?” Maka, Yunus pun menjawab, “Aku akan menuliskan seperti ini, ‘Aku datang dari Keabadian, mengenakan pakaian untuk diriku dalam daging, dan mengambil nama Yunus’.” Demikianlah sohbet tersebut yang menunjukkan kesederhanaan Yunus Emre, yang membuatnya sangat dicintai murid-muridnya…

Dari puisi yang dikutip pada akhir bagian kedua, saya telah memberi petunjuk bahwa Yunus Emre menekankan pentingnya syariat.

 

Menurut Kitab Kejadian, setelah biji-bijian, manusia diperkenankan makan buah

Memang, tak dapat dipungkiri di dunia Barat Bektashisme terlanjur dikenal sebagai dimensi mistis Islam yang amat liberal. Namun, di sisi lain, Bektashisme (Bektashiyyah) telah membentuk tradisinya sendiri, yang tak akan sudi bagi pengikutnya untuk menghancurkannya. Bektasishme mengikuti pola makan yang ketat sesuai ajaran Islam, berbeda daripada tetangga-tetangga Sunni mereka, merujuk kepada aturan makan di kalangan Syi’ah. Mereka (mengingatkan kita juga kepada penganut Kristen Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh) menghindari makan kerang dan semacamnya dan merujuk kepada Alkitab (Bible) yang hanya menghalalkan makan ikan yang memiliki sisik dan sirip (derma denticles). Mereka pula taat kepada Taurat yang melarang makan daging kelinci dan terwelu, bahkan menghindar untuk bersentuhan dengannya, dan akan mengubah arah mereka apabila bertemu dengan salah satunya di jalan. Dasar sikap ini adalah merujuk kepada tradisi Syi’ah atau suatu anekdot yang diketahui dari syahidnya Imam Husein as di Karbala. Ambang pintu dari setiap rumah dianggap keramat dan tak boleh disentuh. Oleh karena itu, di rumah-rumah orang Alewi-Bektashi, ambang pintu dibuang tinggi dan harus dapat dilangkahi cukup tinggi. Sepatu diletakkan di sebelah kiri paralel dengannya. Dalam bentuk-bentuk Bektashiyyah semacam itulah, yang memelihara suatu derajat tertinggi dari ritual, ambang pintu merupakan simbol yang melambangkan Imam Ali as juga Ka’bah di Mekkah. Sebelum masuk ke dalam pondok, seorang pengikut harus berlutut untuk mencium ambang pintu, lazimnya mencium baik tiang pintu maupun kemudian berlutut dengan kedua tangannya di atas ambang pintu dan mencium kedua punggung tangannya.

Seperti orang-orang Mawlawiyyah, para Bektashiyyah dikenal akan toleransinya terhadap Yudaisme dan Kristen, dan juga Islam. Bahkan mereka lebih eklektik lagi dalam menjalankan keyakinan dan ritual yang lazim dari luar tradisi Islam. Ini khususnya berkaitan dengan Kekristenan. Persamaan ini bagaimana pun sebenarnya tidaklah membuktikan benar-benar adanya hubungan. Sifat eklektik Bektashisme sudah barang tentu memudahkan muallaf yang tadinya Nasrani di Anatolia dan Albania untuk menerima Islam dalam bentuk Bektashisme. Ada persamaan antara legenda Hajji Bektash Wali dengan St. Choralambos. Para baba Bektashi atau para pemimpinnya berfungsi dengan banyak cara sebagaimana halnya para pastor Kristen lebih daripada kyai-kyai Islam pada umumnya. Mereka bahkan menyediakan pelayanan yang berfungsi seperti halnya sakramen Kristen. Kehidupan selibat di sejumlah tarekat Bektashi sulit pula dibedakan dari bentuk monasticisme Kristen. Pada akhirnya, malahan, para peneliti menyatakan bahwa Bektashi membuat trinitas Muhammad, Ali dan Allah. (Kekeliruan ini muncul, kendati para Bektashi tidaklah menerima Trinitas, sebagaimana halnya kaum Kristen secara umum).

Sejauh yang dapat diketahui, belum ada peneliti yang menandai keserupaan antara Bektashi dengan kaum Yahudi. Padahal dapat diperkirakan adanya kontak-kontak sosial budaya dengan sejumlah komunitas Yahudi dalam berbagai macam, kegagalan para peneliti ini sungguh mengejutkan. Terdapat berbagai corak yang tentu saja berasal dari tradisi Yahudi. Pola makan para darwis Bektashi lebih mirip kashrutnya orang Yahudi daripada kehalalan orang Sunni, hanya berbeda dalam menerapkan percampuran susu dan daging. Walaupun tidak ada semacam ketaatan terhadap Sabbath, beberapa aktivitas diharamkan pada hari Sabtu, khususnya dalam menikmati hiburan dan melakukan perdagangan. Kuku harus digunting pada awal Sabbath yaitu pada hari Jum’at, wudhu sepenuhnya, dan bahkan perkawinan maupun upacara pemakaman dihindari pada hari Sabtu. Walaupun tidak terbatas untuk Yudaisme, bintang Daud atau segel Sulaimon merupakan dekorasi terkenal di Haci Bektash Köyü. Ia dapat ditemukan di semua sumur kuno di tempat tersebut, bahkan pada ember besar, dan  pada ceret besar di dapur, sebuah perlengkapan yang hampir dapat dipandang keramat. Dari kesemuanya, tampaknya Bektashisme secara khusus telah beradaptasi untuk dapat menarik orang-orang baik yang berlatar belakang Yahudi maupun Nasrani.

Segel Sulaiman

Lalu, bagaimanakah hubungan mereka dengan umat Muslim yang lainnya? (bersambung).

Sebelum kita bertanya-tanya mari kita mendengarkan wejangan Syekh Hünkar, yang akan diikuti oleh nyanyian Yunus Emre, Sultan Balim, dan kemudian oleh sang darwis dari puncak gunung bersalju:

”Seorang manusia yang (tampak) menyia-nyiakan waktunya

Sementara hatinya sepenuhnya hanya mencintai Tuhan

Jauh lebih baik daripada mereka yang (tampak)

Setiap hari setiap malam membaca al-Qur’an tetapi

Di hatinya hanya dipenuhi nafsu akan dunia.”

(Hajji Bektash Wali)

“Aku ialah sebelum, Aku ialah sesudah

Jiwa bagi semua jiwa dengan segala cara

Aku-lah dengan tanganku yang ringan tulang

Siap untuk mereka yang telah liar, tersesat.

Aku telah membuat dasar yang datar tempat ia terhampar,

Di atasnya Aku mempunyai gunung-gunung menjulang,

Aku merancang langit-langit

Sebab Aku memegang segala sesuatu dalam ayunanku

Kepada para kekasih yang terbilang jumlahnya Aku telah

Menjadi pemandu iman dan agama

Aku adalah pelanggaran terhadap yang keramat dalam hati manusia

Juga iman sejati dan jalan Islam

Aku menciptakan manusia mencintai damai dan bersatu;

Menggoreskan kata-kata hitam di atas putih

Aku menuliskan keempat kitab suci dengan benar

Aku-lah Al-Qur’an bagi mereka yang berdo’a

Ini bukan Yunus yang mengatakan semua ini:

Ia berbicara tentang hakikatnya sendiri

Menyangkalnya dapat berarti menghujat:

”Aku ialah sebelum-Aku ialah sesudah,” Aku berkata.

(Yunus Emre)

“Mataku berusaha keluar beristirahat;

Wajahku adalah sang tujuh* yang acapkali diulang

Kata-kataku menyerukan “Akulah Kebenaran”

Mi’raj kita adalah tangga demi tangga

Kita telah insaf akan ’huruf-huruf nan kukuh’

Kita tak akan mengabaikan esensi  maupun sifat

Balim bicara dalam batin dari Tuhan;

Ajaran kita adalah suatu misteri.”

(Sultan Balim); [*al-Fatihah]

Berapa banyakkah leluhurku zaman dahulu lagi

Seperti Edward Elwall yang diam-diam berteriak begini

Dan dari lubuk hati, ”Ali, Ali, Ali”?

Seperti Musa di hadapan singgahsana Fira’un yang  menetap,

Untuk menyaksikan perairan Nil tersusun siap*,

Seperti Israel di atas hamparan padang pasir

Untuk bertahan bergantung  kepada sumur perigi

Mereka mengangkat hati dan asa, seperti juga tangan** ini

Duhai Kekasih, aku pun mengangkat suara dan memukul dada

Dan menemukan di dalam namanya suatu tempat untuk merebah

Sebagaimana aku bermadahkan kata-kata yang berkilau dengan gairah

Bahwa dari pertama adalah terakhir, bila bukan yang paling terserlah

Marilah Al-Qur’an dengan kata-kata Alkitab bergabung

Untuk bernyanyi bersamaku dengan bersayap dan berbulu”

[*Lihat AlKitab, Keluaran 8:9 ~ ** Bilangan 21:17; 24:6]


(Sumber-sumber: “Vilateyname of Haji Bektash Veli”, dan ringkasan mengenai Bektashisme oleh catatan seorang mursyid dari  muridnya, dan puisi-puisi karya Yunus Emre yang saya terjemahkan secara bebas, serta wikipedia untuk sajak Balim Sultan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s