Wejangan Syekh Hünkar

~ dan Nyanyian Murid-muridnya di Kebun Mawar ~

(Bagian I)

Pada umur kira-kira 17 atau 18 tahun saya menemukan sebuah buku kumpulan puisi sufi yang diterjemahkan oleh ayah saya, Abdul Hadi WM, di dalamnya ada terdapat begitu banyak karya puisi para Sufi terkemuka. Ada sebuah nama yang masih lekat dalam ingatan saya, namun selama membaca buku tersebut saya ingat betapa saya selalu mengabaikannya, tidak sekali pun membaca puisi-puisinya. Dia adalah Yunus Emre.

Sekarang saya sungguh menyesal karena tidak sejak dahulu menaruh kagum pada karya-karyanya. Justru bukan dari ayah saya sendiri, baru-baru ini saya berkesempatan mengenal karya-karya Yunus Emre dari seorang guru yang asing, yang dalam setiap kesempatan ingin saya katakan bahwa dia adalah seorang darwis modern, yang hidup dengan menanggalkan jubah sufinya, dan hidup sebagai orang biasa di lereng gunung bersalju, menyembunyikan apa yang ia imani dan ketahui.

Pengalamannya beberapa dekade lalu bertemu seorang darwis yang mengaku sebagai keturunan Yunus Emre sangat menarik perhatian saya. Dia bercerita bahwa darwis yang hidup mengembara itu dan tidak pula terikat dengan tarekat formal mana pun itu memiliki cara pandang serta ajaran-ajaran yang memikat hatinya. Dan, saya menemukan diri saya juga terpikat oleh cerita mereka, pengalaman-pengalaman spiritual mereka. Tiba-tiba saya heran sendiri, bagaimana mungkin saya bisa ingat Yunus Emre sedang saya sebelumnya tidak pernah peduli pada puisi-puisinya? Saya percaya itu bukan kebetulan. Apalagi sebelumnya saya sudah tertarik dengan karya-karya darwis modern itu sebelum berkenalan dengannya. Juga itu bukan suatu kebetulan.

Yunus Emre (1240-1320)  meninggalkan kepada kita banyak cerita menarik, termasuk perjumpaannya dengan sang sufi terkemuka Jalaluddin Rumi (1207-1273). Tetapi, cerita-ceritanya akan saya simpan untuk bagian-bagian berikutnya.

Yunus Emre berasal dari Anatolia, atau Asia Kecil, sekarang wilayah ini berada di Turki, dan Rumi yang berasal dari kota Konya juga berasal dari wilayah tersebut. Yunus Emre “diklaim” sebagai seorang Bektashis, seorang darwis pengikut Syekh Hünkar. Syekh Hünkar lebih dikenal sebagai Hajji Bektash Wali (1209-1271).

Tarekat Bektashi mungkin adalah salah satu dari bentuk sufisme yang paling membingungkan di dunia. Ia dijuluki bermacam-macam: bentuk Islam yang paling liberal, sayap Kristenisasi radikal dalam Islam, bahkan juga dijuluki selubung pantheisme, shamanisme, semacam klub pemabuk dan pesta pora. Ritual-ritual dalam tarekat ini secara umum terselubung misteri, sebab ia adalah suatu perkumpulan rahasia, sehingga tidaklah mengherankan jika ia menimbulkan gosip di sana sini. Pengaruhnya mencapai Eropa dan melampaui wilayah kekuasaan Kekaisaran Usmaniyah, bahkan meluas sampai ke ceruk-ceruk tempat beradanya gerakan free-mason sejauh Eropa utara, Amerika dan Australia.

Tarekat ini berkembang sampai kepada bentuk mistisme militan ala Khoja Ahmad Yasefi (1093-1166)  di Asia Tengah, tetapi tidak pernah menjadi gerakan populer sebelum masuk ke Anatolia melalui misi pendirinya Hajji Bektash Wali. Ia kemudian menjadi pesaing darwis whirling terkemuka yang didirikan oleh Jalaluddin Rumi pada era yang sama. Ia sangat kontras dengan Tarekat Mawlawi, karena menggunakan bahasa yang sama dengan penduduk setempat dan bukannya bahasa Persia, serta memainkan musik rakyat yang sama, lirik lagu serta instrumen setempat, dan menekankan emansipasi perempuan, pendidikan serta  tidak mewajibkan kaum wanitanya untuk berjilbab, suatu corak yang seterusnya menjadi ciri khasnya. Ia pada akhirnya sangat kontras dengan Mawlawi, dengan menyembunyikan keimanan Syi’ah di sanubari mereka, dan dalam penekanan pentingnya para imam, dan pada hari ini mereka tetap setia bertawassul kepada  duabelas imam dan menyebut nama mereka dalam zikir dan shalawat mereka.

Pada mulanya Tarekat Bektashi sangat sederhana dalam keyakinan maupun ritual mereka. Paling tidak,  semacam ritual kecil melampaui pengorbanan sederhana, berdoa dalam lingkaran sambil mengaji al-Qur’an dan kemungkinan sekali sejumlah porsi ayat-ayat Bible, serta tarian whirling kaum darwis yang tipikal di Anatolia. Pada mulanya, mungkin hanya delapan dari duabelas imam yang disertakan (dalam doa-doa tawassul mereka). Selain menekankan pentingnya keadilan sosial dan para Imam Syi’ah, tentunya ia sangat mistis sedari awal.

Satu-satunya teks yang masih ada dan dinisbahkan kepada Hajji Bektash sendiri adalah risalah sangat tipis mengenai tema-tema besar bahwa manusia tak dapat berharap untuk menyesuaikan dengan suatu standar spiritual tertentu. Ada banyak hal lain, dari berbagai jenis, yang membutuhkan kebebasan dalam keyakinan dan menjalankan keyakinannya. Kejeniusan dan keganjilan sang wali adalah dalam menyadari bahwa orang-orang yang berbeda membutuhkan hal-hal yang berbeda pula. Ini kemudian bersumbangsih bagi perkembangan Bektashisme sendiri menjadi banyak arah dan rupa, bahkan termasuk hampir segala bentuk keyakinan dan prakteknya.

Pada abad ke-16 M Bektashisme diasosiasikan dengan militer. Ia menjadi kurikulum wajib bagi elit pasukan Janiseri Turki, dengan  dimensi mistis yang harus ditaati. Kecenderungan Syi’ahnya, bagaimana pun, adalah ancaman bagi Sultan dari waktu ke waktu, dan bahkan ada upaya peredaman (terhadapa Syi’ahismenya) di dalam tarekat ini bahkan sebelum masa Attaturk demi berbagai alasan politik. Walaupun Bektashisme meluas di Anatolia dan merupakan gerakan populer dan para pendakwah dikirim dengan jumlah yang tak sedikit, Bektashisme meluas di Kekaisaraan Usmaniyah terutama karena militer. Inilah mengapa sisa-sisa tarekat tersebut dapat ditemukan sejauh dan seluas wilayah taklukan Turki Usmaniyah. Bahkan masih terdapat pondok-pondok yang sampai hari ini terorganisasi dengan baik di Makedonia, Bulgaria, dan Kosovo, bahkan mungkin juga di Hungaria. Perkembangannya di Albania cukup spesial, sebab ia pernah memikat hati raja setempat. Dengan kemerdekaan Albania, keberadaan tarekat tersebut mulai muncul dan bangkit kembali dengan kuat, terutama di wilayah selatan negara tersebut.

Abad ke-16 M merupakan era pemulihan tarekat ini. Kendati puisi-puisi Bektashi telah pun dikenal lebih dulu di hati sastra Turki, tetapi baru pada masa inilah puisi-puisi yang paling terkenal berkembang dan pada akhirnya membentuk dasar dari liturgi ordo. Doktrin Hurufi kemudian  menjadi terkenal dan bahkan melahirkan ketertarikan pada numerologi, sehingga keduanya menjadi corak terkemuka dari banyak corak khas Spiritualitas Bektashi. Ciri khas pakaian, turban bergalur duabelas, tak dapat disangsikan lagi menjadi ciri khas darwis Bektashi paling masyhur di periode ini. Setelah masa keemasan ini, Bektashisme tampil lebih statis, dan kurang berkehendak untuk mengadopsi keyakinan dan praktek baru – sebagaimana periode awalnya yang boleh dikatakan sangat eklektik. (Bersambung)

~ ♥♣♦ ~

Inilah Yunus, mengikut Hünkar menari di Kebun Mawar, menyanyilah ia, dan pernah terdengar nyanyian yang indah:

Sepatah kata dapat mencerahkan wajah

darinya yang mengerti nilai dari kata-kata

matang dalam kesenyapan, sepatah kata

memerlukan segenap energi untuk dikerjakan

Perang seketika dihentikan oleh sepatah kata

dan hanya sepatah kata menyembuhkan luka-luka,

dan itulah ia sepatah kata yang mengubah

racun menjadi mentega dan madu

Biarkan sepatah kata masak dalam dirimu

Menahan pikiran yang tidak matang

Datanglah dan pahamilah kata semacam itu

yang dapat mengurangi uang dan kekayaan menjadi debu

Ketahuilah saat mengucap sepatah kata

dan saat tak bicara sepatah kata pun

Sepatah kata mengubah alam neraka

menjadi delapan firdaus

Ikutilah Jalan.  Janganlah tertipu!

oleh apa yang telah kauketahui. Awasilah.

Renungkanlah sebelum kaubicara

Mulut yang bebal dapat menandai jiwamu

Yunus, katakanlah  satu hal terakhir

tentang kekuatan kata-kata –

Hanyalah kata “Aku”
memisahkanku dari Tuhan.

~ Yunus Emre ~

Untuk bagian ke-2:

Sulit untuk menggambarkan yang mana liturgi maupun kepercayaan dan praktek Bektashi secara khusus. Ia cenderung bervariasi tidak hanya dari satu tempat ke tempat, tetapi dari individu ke individu Ada beberapa corak khas tetapi ada  yang tampaknya hampir universal di antara para darwis Bektashis. Norma-norma terhadap Kitab Suci sangatlah terbuka dan beragam, bahkan selalu mencakup empat buku yakni Bible (Taurat, Zabur, Injil) dan al-Qur’an. Demikianlah aneh kelihatannya, Kitab Suci yang telah menjadi iman orang Eropa. Mungkin Bektashisme adalah satu-satunya tradisi spiritual yang menggunakan baik AlQuran maupun Bible secara bersamaan, dan mereka menemukan konsistensi di antara keduanya. Interpretasi mereka, bagaimana pun, cenderung amat mistis dan individualistis, berbeda secara jauh dari interpretasi secara tradisional dalam Judaisme, Kristen dan Islam.

(Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s