Rasisme, Cinta dan Hakikat Wujud

Oleh: Chen Chen Mutthahari

Beberapa hari ini, saya mengunjungi beberapa blog yang memiliki tampilan keren yang awalnya saya pikir memberikan informasi-informasi menarik mengenai sejarah suatu suku bangsa atau etnis. Semakin saya jauh ke dalam catatan-catatan yang ada pada blog-blog itu, semakin saya kecewa. Seperti pergi ke sebuah ladang jagung yang subur, saya terpesona oleh warna kuning emasnya yang menyala, tetapi begitu melihat ke bagian bawah, saya menemukan hama berbahaya sedang menggerogoti jagung-jagung yang telah berkembang indah itu: apalagi kalau bukan si hama rasisme…

Apa itu rasisme?

Rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur yang lainnya [1].

Search Wikisource Wikisource memiliki naskah sumber yang berkaitan dengan Penghapusan Diskriminasi Ras Dan Etnis

Beberapa penulis menggunakan istilah rasisme untuk merujuk pada preferensi terhadap kelompok etnis tertentu sendiri (etnosentrisme), ketakutan terhadap orang asing (xenofobia), penolakan terhadap hubungan antarras (miscegenation), dan generalisasi terhadap suatu kelompok orang tertentu (stereotipe) [2][3].

Rasisme telah menjadi faktor pendorong diskriminasi sosial, segregasi dan kekerasan rasial, termasuk genosida. Politisi sering menggunakan isu rasial untuk memenangkan suara. Istilah rasis telah digunakan dengan konotasi buruk paling tidak sejak 1940-an, dan identifikasi suatu kelompok atau orang sebagai rasis sering bersifat kontroversial.

Rasisme yang Tak Disadari

Pada zaman purba, ketika manusia baru saja beralih dari era berburu ke era bercocok tanam, perempuan dan laki-laki memiliki tugas masing-masing berdasarkan keadaan biologis masing-masing. Karena perempuan yang melahirkan dan menyusui, maka perempuanlah yang berada di rumah, sementara kaum laki-laki bertani, bekerja di luar rumah. Pada mulanya ini hanyalah persoalan pembagian peran dan tugas masing-masing. Tetapi, kita tahu lambat laun ia berkembang sebagai suatu tradisi, berkembang menjadi kebudayaan…

Pada kelompok-kelompok manusia dahulu kala itu, jika sistem pengambilan keputusan diserahkan kepada laki-laki maka yang berkembang adalah budaya patriarkat, dan begitu pula sebaliknya — apakah yang di rumah atau yang berada di luar rumah memiliki kekuasaan lebih atau peranan yang dianggap lebih signifikan, hal itulah yang menentukan. Munculnya tradisi patrilineal maupun matrilineal pun, pada mulanya, menurut saya pun bukan karena yang satu lebih rendah haknya daripada yang lainnya. Ini hanyalah persoalan pragmatis dan atau politik praktis. Misalnya, di suatu kelompok yang berbudaya patriarkat maka otomatis penerus kepemimpinan adalah anak laki-laki (yang tertua biasanya) dan karena itu siapa saja yang lahir dari benih si laki-laki itu dianggap sebagai keturunannya. Lalu, kita tahu lambat laun itu semua kita terima sebagai sistem genealogis (pencatatan silsilah) pada komunitas tempat kita lahir dan dibesarkan. Kemudian ia menjadi begitu saklek, dari yang pada awalnya hanya bertujuan untuk “mempermudah” pewarisan dan atau penerusan kepemimpinan, lalu menjadi suatu bibit rasisme yang jarang kita bahas selama ini: seorang dianggap tidak bisa dianggap sebagai orang Yahudi jika ibunya bukan orang Yahudi walau bapaknya Yahudi, pun seorang tidak layak disebut sebagai orang Cina karena bapaknya bukan orang Cina tetapi ibunya saja yang orang Cina.

Pada akhirnya “perkawinan campur” menjadi “haram”, “bid’ah” dan juga merupakan suatu pengkhianatan terhadap komunitas tempat seseorang dilahirkan.  Dan, apa yang terjadi apabila “perkawinan campur” tidak terjadi? Tentu, akibatnya adalah semakin suburnya etnosentrisme sampai kepada rasisme itu sendiri.

Pertanyaan saya yang paling mendasar: sebelum Anda lahir ke dunia, apakah Anda bisa meminta kepada Tuhan (kalau Anda mempercayai-Nya) untuk menjadi seorang India, Arab, Melayu atau Italia?

Berikutnya, ketika seseorang terlahir ke dunia atas jasa-jasa siapakah ia bisa terlahir ke dunia? Apakah hanya karena jasa ibunya belaka atau ayahnya belaka? Kalau pun sistem genealogis tempat ia dilahirkan memiliki kecendrungan unilineal atau pada satu garis tertentu saja, apakah tidak terpikir bahwa hal itu hanya untuk persoalan pragmatis bukan “ideologis”? Tentu akan merepotkan bagi beberapa orang untuk menggunakan marga ayah dan ibunya sekaligus. Begitu pun dalam soal waris-mewariskan. Tidakkah berpikir apapun yang telah digariskan agama masing-masing maupun adat masing-masing, sebenarnya hanya untuk memudahkan kita mengatur kehidupan sehari-hari, setidaknya pada awalnya demikian, baru kemudian disalahartikan oleh para penerusnya?

Bahkan, banyak orang mengira sistem kasta merupakan suatu sistem yang tidak manusiawi. Tetapi, saya berbaik sangka kepada pencetus pertama sistem tersebut. Kita tahu di dunia ini sekali pun tidak ada sistem kasta lagi, bentuk sistem kasta yang lain akan terus muncul. Sistem itu sebenarnya hanya bertujuan untuk mempertegas tugas dan tanggungjawab masing-masing.  Pencetusnya sadar bahwa ketika seorang manusia lahir di muka bumi ia telah memiliki takdir tetap dari Sang Pencipta (genetika tertentu dsb), maka itu seorang manusia harus memberdayakan sebaik-baiknya ketetapan tersebut. Tetapi, itu bukan berarti seorang manusia tidak dapat meningkatkan kasta, maqam atau pun derajatnya. Hal itu dapat terjadi juga karena takdir-Nya, yaitu melalui usahanya dan faktor-faktor pendorong lainnya. Namun, sistem itu kemudian disalahtafsirkan sehingga memberikesan bahwa Tuhan pilih kasih dan tidak adil melahirkan seorang insan pada kasta-kasta rendah, sedangkan yang lain pada kasta yang lebih tinggi.

Cinta dan Hakikat Wujud

Saya mempercayai bahwa hakikat segala sesuatu di dunia ini tidak lain adalah wujud atau ada. Perbedaan itu adalah realitas, yang terjadi karena adanya gradasi wujud. Saya mempercayai bahwa wujud itu bergradasi karena cinta. Kita manusia memandang hierarki wujud sebagai jarak; padahal ia merupakan tangga transendental, untuk berevolusi menyempurnakan diri semakin tinggi dan semakin tinggi mencapai sisi-Nya. Sementara itu, gradasi secara horisontal maupun vertikal kita anggap sebagai perbedaan — realitasnya adalah di dunia ini ada begitu banyak sukubangsa, ras dan ada kasta-kasta sosial, politik dan ekonomi, serta perbedaan (gradasi) pemahaman terhadap Tuhan, risalah dan nubuwah, yaitu yang melahirkan beragamnya agama dan kepercayaan.

Kita “tidak memerlukan” dalil agama (manapun) untuk menyatakan bahwa kita diciptakan di suatu komunitas untuk suatu hikmah tersembunyi, yang hanya akan terkuak apabila kita belajar menghargai setiap jejak sejarah dan khazanah warisan leluhur kita. Mencintai leluhur, etnis, bangsa, tanah air dan agama tidak meniscayakan kita sebagai seseorang yang tertutup dari pergaulan dunia.

Dalam perkawinan misalnya, kita tidak bisa mengatur kepada siapa kita harus jatuh cinta, apakah harus kepada sesama etnis kita, atau kepada sesama pemeluk keyakinan yang sama. Persoalannya terletak kepada keputusan yang kita ambil berdasarkan “untung rugi” yang kita ukur/pertimbangkan sendiri. Pada zaman “borderless” ini, apakah masih masuk akal seseorang mengkhawatirkan “pembersihan etnis” melalui perkawinan yang didasari oleh perasaan cinta, dan bukan melalui kekerasan atau pun paksaan? Siapa pun bebas memilih pasangan hidupnya, apakah dengan sesama kaumnya atau dengan tamu asing yang tertarik dan jatuh cinta juga kepadanya. Kecuali agama melarang perkawinan dengan di luar pemeluk, terimalah itu sebagai aturan yang dibuat untuk memudahkan kehidupan berrumah tangga kelak, seperti menanamkan keyakinan sedari dini kepada anak-anak. Toh, seseorang tidak bisa memilih terlahir sebagai orang Persia atau orang Jepang, tetapi ia bisa memilih menjadi seorang Hindu atau Buddha.

Mungkin pada masa lampau leluhur atau saudara sebangsa dan seagama kita pernah disakiti, dan itu menimbulkan dendam dan trauma, kepada kelompok bangsa dan agama yang menyakiti. Tetapi, adalah tidak bijaksana memukulrata setiap kelompok di seberang jalan itu sama kejam dan bejatnya. Genosida, masih berlangsung di-mana-mana. Tetapi, yang harus dihukum adalah mereka yang melakukannya (baik yang melakukan langsung atau mendukung dengan diam-diam tidak mau mengutuk dan mencegahnya) dan yang harus dibenci adalah perbuatannya… karena itu jangan menghukum mereka yang tidak melakukannya dan membenci seseorang hanya karena dia berasal dari kelompok yang pernah menyakiti padahal dia tidak tahu apa-apa dan “kebetulan” saja terlahir dari kelompok itu.

Juga apakah masih masuk akal, pada zaman ketika semua orang menuntut kesejajaran dan kesetaraan hak, (dan kaum perempuan menyuarakan keprihatinan mereka atas perlakuan yang bagi sebagian dari mereka dipandang “tidak adil”) seorang anak manusia hanya dipandang dari satu garis keturunannya saja? Dalam kasus patrilineal misalnya, padahal semua orang mengatakan “bahasa ibu” bukan “bahasa bapak” untuk menghormati bagaimana bahasa yang mula-mula diperkenalkan kepada seorang anak adalah bahasa ibunya. Jika bapak dan ibunya berasal dari bahasa ibu yang berlainan karena mereka berdua berasal dari etnis yang berbeda, mengapa seorang anak hanya dapat diperkenalkan sebagai anak dari etnis ayahnya saja? Bukan saja ini kedengaran tidak adil, tetapi juga menggelikan sebab itu menunjukkan seorang ibu dianggap hanya sebagai “media pembawa benih si bapak” dan tidak memiliki andil dalam memberikan unsur-unsur genetika kepadanya. Dan, yang lucunya, ketika seorang istri belum juga mengandung, yang dikatakan mandul lebih dulu adalah si istri, si suami biasanya jarang dituduh.

Persoalan “kecil” ini adalah salah satu biang dari rasisme. Sebab, seorang ayah akan memastikan anak perempuannya menikah dengan sesama kaumnya, dan seorang suami harus memastikan bahwa istrinya melahirkan anak laki-laki untuk meneruskan “penduduk resmi” bagi kaumnya. Ketika seluruh generasi lelaki tidak juga lahir, kaum mereka bisa dikatakan punah. Padahal, di dalam DNA gadis-gadis mereka masih tersimpan abadi data-data genetika kaum ini…

Pada akhirnya, rasisme bukan cuma persoalan politik, ekonomi, dan sosial. Tetapi, juga adalah budaya, khususnya dalam keluarga. Semakin tinggi tingkat kesadaran suatu keluarga akan hakikat cinta dan hakikat wujud, maka akan semakin rendah pula tingkat rasisme-nya, terutama rasisme yang tidak disadarinya itu…

Penulisan garis silsilah laki-laki dan garis silsilah perempuan pada masa modern ini menjadi penting bagi terciptanya ruang-ruang tanpa rasisme di dalam kebudayaan kita, dan walaupun salah satu garis silsilah itu dipilih, jangan pula dibiarkan seorang anak yang terlahir tanpa pernah meminta akan dilahirkan oleh siapa dan akibat dari hubungan dengan siapa hanya memperoleh status ras, etnis, atau bangsa dari salah satu pihak saja. Sebab ini adalah salah satu rasisme yang tak kita sadari. Yang menghijabi kita dari hakikat wujud. Yang memisahkan kita dari Cinta Sejati.

Tuhan tidak beragama, tidak berbangsa, tidak ras tertentu, tidak bernegara, dan tidak berjenis kelamin. Maka, begitu kita menemukan Cinta Sejati, kita pasti akan mencintai semua makhluk tanpa kecuali, tanpa memandang warna kulit, bangsa, ras atau bahkan agamanya sekali pun…

Bagaimana dengan Anda?

Wallahu’alam bissawab.


Catatan kaki

4 responses to “Rasisme, Cinta dan Hakikat Wujud

  1. satria sariputra

    apakah defnisi tentang TUHAN baga Anda ?? ….. adakah wujud kesadaran sebelum orang terlahir di dunia ? jdi mana mungkin meminta utk lahir sbg manusia dgn ras tertentu ? sy merasa pertanyaan ini, bias !!!

  2. gayatri wedotami

    dear Satria,
    terimakasih. pertanyaan anda sangat bagus, sebab sangat kritis.
    definisi tentang Tuhan bagi saya adl sesuatu selain makhluk dan alam semesta beserta isinya ini sebab Tuhan sejatinya tidak dapat didefinisikan dengan logika dan bahasa manusia. yang saya kenali dan dapat saya definisikan hanya-lah nama-namaNya saja spt Cinta, Wujud, Akal Pertama, Yang Tak Berawal dan Tak Berakhir,dst dst…

    di dalam kepercayaan Islam, diyakini bhw sblum manusia lahir ke muka bumi dia telah ada, esensinya telah ada, dgn kata lain dia telah memiliki kesadaran. bahkan terdapat dlm hadist bhw hidup di dunia adl mimpi sdgkan hidup setelah di dunia ini adl kesadarannya atau bangunnya ia dari tidurnya. Para sufi dan filosof muslim telah melahirkan penjelasan tentang alam-alam selain dunia ini. alam mitsal, alam malakut, alam barzakh, dll..utk memberitahu letak jiwa-jiwa kita sama ada sebelum lahir atau pun sesudah mati atau juga pada waktu kita tidur, pingsan, matisuri atau mengalami kasyaf atau penyingkapan Illahi

    di dalam keyakinan Buddha dn Hindu misalnya terdapat reinkarnasi. dalam pemahaman saya sbg seorg muslim setelah membaca karya para filosof muslim spt Mulla Sadra, Ibn Arabi, Suhrawardi, Ibn Sina, Fakruddin ar-Razi, dll-nya itu, saya memahami bahwa jiwa-jiwa kita ini selalu mengalami evolusi atau penyempurnaan, di setiap alam yg kita singgahi, karena itu saya meyakini ada semacam “reinkarnasi” atau kelahiran kembali jiwa kita di alam setelah ini sesuai dgn apa yg telah kita lakukan (krn “hukum karma” atau agama2 samawi mngenalnya sebagai pahala dan dosa)…mungkin suatu saat saya akan menulis perspektif saya mengenai hal ini…

    maka sebelum kita lahir pun kita berada di suatu alam di mana jiwa2 kita telah ada,
    atau esensi kita telah ada, dan begitu pun ada riwayat2 atau kesaksian2 mengenai seseorang yg mgalami dejavu atau pun seakan dia pernah hidup spt apa di masa lalu,
    sebenarnya itu (dlm pandangan saya pribadi dan sejuml kawan) tidak lain mrupakan tautan antara jiwa2 kita dgn para leluhur atau org2 yg telah kita kenal di alam sebelum dunia ini….

    dengan cara ini kita dapat memahami mengapa kita terkadang bermimpi bertemu seseorg yg telah tiada, mati suri mengalami/berada di suatu alam yang tak pernah kita bayangkan sblumnya, mimpi melihat hal-hal di masalalu atau dimasa depan,
    dst dst dst…

    namun, ini adl pandangan pribadi saya. segalanya saya kembalikan lagi kpd-Nya. wallahu’alam bissawab.

  3. Cici Chen Chen yang manis,

    Saya kagum dengan pandangan2 anda.

    Jangan berhenti ber-kontemplasi untuk meningkatkan kematangan spiritual menuju ‘jiwa yang tenang’.

    Wassalam,
    Iqbal Satrio

  4. terima kasih buat penjabarannya. sederhana tapi tetap sarat makna (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s