Menjadi Orang Lain

oleh Chen-Chen

Pada suatu pagi yang terang-benderang, cerah, namun tidak panas, saya berjalan menyusuri sebuah pasar tua.  Banyak sekali orang, berbagai macamnya, tua maupun muda, hitam maupun tua, kaya maupun miskin, bahkan kau bisa menduga yang mana yang baik dan yang mana yang jahat.

Saya teringat suatu waktu ketika SD, saya suka sekali menonton film seri “The Voyagers” yaitu kisah tentang tiga orang yang melompat dari satu waktu ke waktu untuk mengubah sejarah. Saya membandingkan serial itu dengan beberapa film aneh terakhir yang saya tonton, saya lupa judulnya, hanya ingat ceritanya tentang seorang manusia yang melompat dari satu waktu ke waktu untuk mengubah-ubah takdirnya. Kemudian, ada lagi film seri terbaru mirip film itu, Heroes, yang hanya sesekali saya tonton.

Sudah lama saya ingin mengajukan pertanyaan ini kepada anda. Apakah pernah, beberapa kali, atau sekali saja, ketika pergi menyusuri suatu jalan, atau suatu tempat penuh dengan kerumunan manusia, terbersit keinginan untuk membaca fikiran dan perasaan seorang demi seorang di sana – lebih seperti melompat ke dalam tubuhnya, dan mendadak berubah menjadi orang yang lain sama sekali?

Beberapa hari lalu saya menonton sebuah acara televisi mengenai kesaksian-kesaksian orang-orang yang pernah mengalami mati suri. Di dalam kematian suri itu, mereka dipertemukan dengan hal-hal yang mendekatkan mereka kepada Tuhan, masing-masing dengan pengetahuan dan keyakinan iman mereka, dan di internet pun melimpah ruah cerita-cerita tentang hal itu dari berbagai agama dan kepercayaan itu – bertemu malaikat, Yesus Kristus, Nabi Muhammad, Buddha Sakhyamuni, Khrisna, dan seterusnya, dan seterusnya.  Pengalaman mereka apa bedanya dengan pengalaman mistis seorang mahaguru sufi seperti Rumi dan Ibn Arabi, atau seorang Fransiskus Asisi dan Martin Luther, atau Dalai Lama?

Orang yang bijaksana, begitu membaca dan mendengar cerita-cerita nyata seperti itu tentu akan merenunginya dan berfikir lebih mendalam.

Orang-orang sering menasehati kepada kita “Jadilah seperti dirimu sendiri.” Atau, “I love the way you are.” Tetapi, pernahkah sekali saja mencoba untuk membayangkan diri kita sebagai orang lain yang mungkin kita benci, yang pernah kita nyatakan sesat lagi kafir, yang pernah kita kasihani, yang pernah kita sumpah-serapahi, bahkan pernah rasanya ingin kita bunuh – hiks, yang terakhir ini kedengaran sangat kejam. Pernahkah terfikir mengapa Tuhan juga menciptakan mereka – dan bukan cuma aku, kau atau kita?

Akhirnya saya tingalkan pasar itu dengan perasaan aneh. Seorang nenek tua Cina yang baru saja selesai menyantap sarapan di pagi Ramadhan yang tenang, belanjaannya penuh dengan sawi asin, daging bebek, dan tahu – tentu saja uap kuah bakmi ayam di kedainya sungguh menggoda saya. Di trotoar, seorang nenek Jawa menjual dagangannya yang seadanya, bawang merah dan bawang putih yang sudah dikupas, cabe hijau dan merah yang sudah dibagi-bagi untuk harga duaribuan, dan sedikit sayur. Tanpa saya tawar, dia bahkan menambah sendiri sayuran yang sudah saya beli dengan harga yang telah disepakati sebelumnya. Di jalan masuk ke pelataran parkir tempat suami saya menunggu, seorang lelaki yang kumal kencing di depan got, menyebabkan saya harus menahan nafas dan memalingkan wajah….Namun, bau yang busuk lagi menyengat, pemandangan yang jorok dan menyakitkan…dapatkah merusak pagi yang indah?

Bekasi, Ramadhan 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s