HEAL THE WORLD

(Catatan Setengah Hari bersama Hans Kung)

Hans Kung

“Hatiku terbuka utk segala bentuk,
Padang rumput utk rusa,
biara utk sang rahib,
Kuil utk berhala,
Ka’bah utk tawaf.
Loh Taurat dan nas Al-Qur’an.
Agamaku adl agama Cinta; kemanapun berpaling
Itulah agamaku, imanku.” (
Ibn Arabi)

Sepulang dari seminar internasional “A Dialogue With Hans Kung” saya terus-menerus memikirkan bagaimana menulis apa yang ada dalam benak saya sepanjang seminar. Dalam seminar tersebut beliau menawarkan solusi “Etika Global” untuk mengatasi konflik di antara tiga agama, dengan membahas setiap babakan sejarah melahirkan aliran pemikiran atau paradigma yang sampai hari masih terus berkembang di kalangan para penganutnya. Saya memang belum sempat membaca buku-buku karya Hans Kung, tetapi saya memberanikan diri untuk bertanya kepada beliau. Inti pertanyaan saya adalah, bagaimana pandangan beliau mengenai dimensi politik yang telah melahirkan paradigma-paradigma tersebut sehingga memecah-belah antar umat beragama? Dengan arif, beliau menjawab dengan memperbandingkan teori Karl Marx dengan Max Weber mengenai hubungan ideologi dengan ekonomi.

Pertanyaan saya muncul karena melihat skema “Paradigm Shifts” dalam Judaisme, Kristen, dan Islam yang dibuat dengan cukup teliti oleh Hans Kung, setelah beliau memaparkan apa-apa saja kesamaan di antara Islam, Kristen dan Judaisme, kemudian membeberkan perbedaan di antara ketiganya. “Paradigm Shifts” ini berupa babakan-babakan sejarah dalam setiap agama; setiap babak melahirkan suatu paradigma, sesuatu yang bisa saja berupa lahirnya mazhab-mazhab, baik aliran pemikiran, maupun aliran pergerakan sekaligus.

Kalau melihat skema “Paradigma Shifts” Hans Kung dengan otak yang penuh dengan beban ingatan sejarah seperti saya ini, saya langsung berpikir bahwa semua perpecahan ini pada dasarnya terjadi dominan karena dimensi politiknya. Sayang sekali saya tidak menemukan bentuk skema-skema tersebut dalam bentuk soft-copynya. Tetapi, saya akan coba menjelaskannya di sini.

Misalnya, pada skema “Paradigm Shifts” Judaisme, perubahan-perubahan kekuasaan (baca: politik) yang penting seperti Masa Pengasingan Babilonia telah menghasilkan Paradigma Teokrasi Pasca-Pengasingan Judaisme serta Masa Kehancuran Kuil dan Yerusalem melahirkan Paradigma Abad Pertengahan dengan kelembagaan rabbi dan sinagog. Gerakan zionis misalnya, menurut skema Hans Kung, merupakan gerakan yang lahir dari gabungan paradigma semua babakan sejarah sekaligus sehingga tampak sekali kompleksitasnya.

Jesus taught Torah

Sementara itu, kita masih ingat bahwa kemunculan Yesus Kristus, Isa as, di Yerusalem dengan menyatakan dirinya sebagai sang pembawa nubuwwah dan Sang Juru Selamat telah ditolak oleh pemangku kekuasaan bani Israil pada masa itu, sehingga Yesus Kristus dijatuhi hukuman mati. Dimensi politik semakin kentara ketika lembaga kepausan berdiri, yang membedakan dengan jelas Kristen Barat dan Kristen Timur secara kelembagaan atau hierarki kepemimpinan. Dimensi politik ini juga jelas ketika Martin Luther merespon kekuasaan Gereja (Katholik) dan setelah Masa Reformasi umat Kristen tidak hanya  berbeda antara Barat dan Timur, tetapi juga terbelah menjadi Katholik dan Protestan.

Pada skema Islam, yang mana Hans Kung mendapat kritikan tajam (yang tak perlu, menurut saya, karena mempersoalkan istilah belaka) , Hans Kung menempatkan perpecahan umat Muhammad setelah Muhammad SAW meninggal dunia menjadi kaum pengikut empat khalifah (Sunni) dengan kaum Syi’ah (pengikut Ali). Menurut Hans Kung, kaum Syi’ah beroposisi terhadap kepemimpinan kaum Sunni, walaupun sejumlah cendekiawan Syi’ah yang hadir membela (di belakang forum) dengan mengatakan bahwa (sama seperti Luther) para pengikut Ahlulbayt merespon terhadap ijtihad Abu Bakar dkk.

Brotherhood. Bretheren.

Jadi sekarang kita bisa melihat bahwa dimensi politik atau dimensi yang berurusan dengan kekuasaan maupun kepemimpinan merupakan faktor dominan perpecahan umat, atau jika mengikut istilah Hans Kung “the Abrahamic faith”, perpecahan di antara anak-anak Ibrahim as.

Persoalan kekuasaan ini berhubung erat sekali dengan merasa diri paling berhak, perasaan iri hati dan perasaan cemburu yang negatif. Bukankah karena ini-lah pembunuhan pertama kali terjadi di muka Bumi, sebagaimana yang diriwayatkan dalam kitab-kitab suci ketiga agama tersebut? Qabil membunuh Habil karena merasa lebih berhak atas adiknya yang cantik, dan karena iri hati kepada Habil yang diberi hak atas adiknya yang lebih cantik. Hak. Merasa paling berhak. Ingin menguasai. Bukankah semua ini sangat erat dengan dimensi kekuasaan, dimensi politik?

Begitu pun anak-anak Ya’kub, Israel, ketika mendengar mimpi Yusuf as. Sebelas bintang akan bersujud di hadapannya. Apa yang sepuluh orang saudara tua Yusuf as lakukan ketika mereka menjual Yusuf menjadi budak kalau bukan karena iri hati dan merasa lebih berhak dihormati?

Maka, tidak heran jika Yesus as tidak bisa diterima di kalangan pemimpin kaumnya, para pemuka agama Bani Israel. Pun demikian Muhammad SAW, yang muncul pada masa sektarian kesukuan sangat kuat, dan umat-umat lain menganggap bahwa beliau bukan berasal dari kaumnya, jadi bagaimana mungkin dia berhak menjadi penyampai nubuwwah dan risalah yang baru ini, harusnya nabi itu dari bani kami, begitu kira-kira bukan?

Bahkan, kitab-kitab keagamaan pun dinodai oleh tangan-tangan jahil mereka yang haus kekuasaan, untuk memenuhi nafsu kekuasaan mereka, dengan menodai citra mulia para nabi, para pemimpin umat dan orang-orang saleh, demi mendukung doktrin-doktrin mereka.

Mengapa para sufi, para santo, para pertapa  dan para biksu yang bermeditasi dengan cara mereka masing-masing menemukan bahwa semua perbedaan di dunia ini, perbedaan cara pandang kita ini, sudah tidak ada lagi? Keindahan ajaran agama mereka masing-masing justru semakin terserlah. Dan justru yang tampak bahwa pluralitas agama kita ini semua semu belaka, semu di tataran alam ini. Bagaikan pelangi, bayangkan dunia ini tanpa ragam warna, bayangkan jika semuanya putih? Tetapi, jika warna-warna itu duduk berdampingan, berdiri bergandengan tangan, seperti pelangi itu, bukankah ia akan menjadi jembatan bidadari yang sangat indah di langit?

Seperti gradasi warna, ya seperti kata Mulla Sadra, di bagian bawah pluralitas itu adalah sebuah kenyataan, tetapi semakin tinggi maqam seseorang dia akan semakin menemukan hakikat semua agama, berasal dari siapa, dan bersumber dari mana. Dari manakah pelangi? Dan, warna-warna yang banyak sekali itu, apabila disatukan dalam sebuah putaran cepat, apakah warnanya? Warnanya sama. Tidak berbeda sama sekali!

Saya teringat alm. Eddy Samjaya, seorang kawan yang meninggal muda baru-baru ini, mengutip kata-kata (dalam profil facebook-nya) yang sangat berharga untuk tulisan saya kali ini. “Pandangan politik: Oddyssey berkata kepada Achilles, ‘Abaikan politik.’  Pandangan keagamaan: Tuhan tidak punya agama.”

Apa yang terjadi hari ini di dunia – di  Palestina, Irak, Afghanistan, Amerika, Sudan, Korea Utara, dan khususnya di Indonesia, di tanah air kita sendiri – berita apa yang lebih menarik selain yang ada hubungannya dengan dimensi politik, seperti urusan hak dan berhak, tanggungjawab dan kekuasaan, iri hati, atau apapun yang erat kaitannya dengan itu. Di mana berita-berita tentang Cinta?

“Si Hal Zi Ne Jie Xiong Di Ye.”

“Di empat penjuru lautan semua saudara.”

(Lun Yu, XII:5 dalam Daradjadi, “Perang Sepanjang 1740-1743: Tionghoa-Jawa lawan VOC”).

Ini kita tahu. Bumi bukanlah milik manusia; manusia milik bumi.

Ini kita tahu. Segala sesuatu saling berhubungan seperti darah yang menghubungkan satu keluarga. Segala sesuatu saling berkaitan.”

(Chief Seattle, dalam Lee Geok Lan, “Wordscapes 2”)

Manusia selalu lupa. Manusia selalu khilaf. Manusia selalu merasa dirinya yang paling benar. Manusia selalu merasa dirinya yang paling berhak. Apa itu paling berhak? Paling berhak adalah keinginan, naluri untuk memiliki – kita menamakannya menguasai; kekuasaan. Begitulah kenyataannya. Iri hati. Hasad dengki. Apapun namanya.

Apabila tidak begitu adanya, mungkinkah manusia ingat mengapa Qabil membunuh Habil?. Qabil ingin memiliki gadis yang lebih cantik. Karena merasa dirinya paling berhak. Ya, kalau bukan karena merasa lebih berhak mengapa mereka menjual Yusuf sebagai budak? Tentu saja, kalau tidak mengapa mereka mengejar dan ingin menyalib Yesus?  Karena merasa dirinya lebih berhak. Kalau tidak begitu, mmengapa pemuda yang paling dicintai Muhammad dipenggal oleh mereka yang mengakui sebagai pengikutnya?

Korban Perang Gaza

Karena lupa. Karena merasa dirinya paling benar. Karena merasa dirinya paling berhak. Kalau tidak, mengapa damai tak kunjung menyapa negeri-negeri tempat kita bisa melihat orang-orang terus-menerus murka, mensumpah-serapahi satu sama lain, membenci dan mengutuk setiap hari, bahkan saling membunuh, melempar bom dan granat, serta menembak satu sama lain setiap jam dan setiap menit!

Kita biarkan anak-anak kita terlena bermain playstation: saling menembak, saling menendang, saling merampas, dan saling membunuh! Besok atau lusa jangan terkejut jika dia merasa dirinya paling benar dan paling berhak…Hanya karena seseorang menghina dia “Monyet kau!” dia menembak kepalanya.

Bumi kita telah menjadi tempat sampah. Banjir. Gempa bumi. Tsunami. Badai topan. Kelaparan. Kekeringan. Hutan hangus terbakar. Kabut asap telah menjadi udara kita. Kita mati syahid untuk membunuh seribu orang kepala keluarga atau menjadi boddhisatva demi menyelamatkan seribu orang anak korban bencana alam?

Apakah kau lupa pernah melihat pelangi di ufuk langit, sudah lama sekali tidak kutemukan, tetapi kau pasti masih terkenang akan keindahannya?

“Jika kita memadamkan obor cinta di hati kita, semua yang tampak dalam kegelapan adalah musuh.”

Tapi, mereka yang membenci kita, mereka yang menghancurkan harga diri kita, mereka yang menghina dina kita, mereka yang membunuh sanak-saudara kita, mereka yang memperkosa saudara-saudara perempuan kita, mereka yang mendera mencela saudara-saudara lelaki kita, mereka yang merampas masa depan anak-anak kita, mereka yang menjajah dan pernah menjajah kita, mereka yang pernah merampok dan mencuri harta benda kita, mereka yang pernah menjarah dan menaklukkan tanah dan air kita, mereka semua yang pernah berlaku jahat kepada kita, kekasih, sahabat, saudara, keluarga atau handai taulan kita….

Jika di dunia ini mereka tidak memperoleh pengadilan dari manusia yang adil dan beradab, lupakah kita masih ada Pengadilan Tuhan yang Maha Adil – sampai-sampai kita lupa dan ikut terjerumus dalam kejahatan mendendam dan membalas perbuatan mereka?

Jika sampai pada satu titik kita telah berjuang sampai titik darah penghabisan demi menjaga martabat kita, membela agama, bangsa, keluarga dan tanah air kita, tapi kemenangan masih belum berpihak di tangan kita, lupakah kita pada Hari Akhir hari ketika Kemenangan Hakiki ditampilkan – sampai-sampai kita putus asa?

“Jika kita terus menyalakan obor cinta di hati kita, dalam keadaan terang-benderang engkau bisa melihat musuh kita juga manusia.”

Di manakah Cinta di hati kita? Apakah ia cuma omong kosong belaka, seperti kebiasaan para politisi???

“Heal the world. No more hell. Heal the world with Love.”

Salam Cinta dan Damai

Chen Chen.

Muhrim, Hans Kung, me and Hera @ the Seminar

Brotherhood. Bretheren.

4 responses to “HEAL THE WORLD

  1. Bagus.. ini kontemplasi apik calon filosofiwati masa depan kelahiran ICAS jakarta. Selamat….

  2. Ahmad Yanuana Samantho coment:

    Etika Global hanya akan terwujud bila sebagian besar umat manusia di berbagai negara dan benua kembali kepada pandangan dunia spiritual dan meninggalkan paradigma modernisme yang materialis, antroposentris dan sekular.

    Krisis multi dimensional global zaman ini adalah akibat dari krisis eksistensial umat manusia, ketika sebagian besar umat manusia menjauh dari pusat lingkaran eksistensinya yaitu Tuhan YME. Manusia kini berada di pinggiran jurang eksistensial. Lupa siapa hakikat dirinya yang sebenarnya. Ia menyangka bahwa dirinya adalah pusat segala sesuatu dan mempertuhankan hawa nafsu rendahnya dengan mengabaikan segala ikatan tradisi, fitrah sucii dan ajaran keagamaan.

    Paska renaisance Perancis awal pertengahan pertama abad 19 lalu sampai saat ini mayoritas umat manusia dan terutama kaum elite penguasa politik dan ekonomi (cooporatocracy) oligarkisnya, masinh mengusung dan menerapkan pandagan dunia modernisme yang materialis humanis-antroposentris, kapitalis dan sekular. Inilah pandangan dunia dajjal yang bermata satu.

    Hans Kung, Seyyed Hossein Nasr, William Chittik, Fritjcof Capra, dll. telah merintis jalan untuk memecahkan problem mendasar umat manusia modern ini dengan menyarankan untuk kembali kepada kearifan tradisional agama-agam dunia, kembali kepada kearifan perrenial dan kehangatan cinta dan keimanan kepada Tuhan YME (Mysticism/Tasawuf/Irafn) , yang walau dengan nama apapun ita menyebutnya, namun Realitas-Nya adalah Mutlak dan Tunggal. Wahdatul Wujud dan Integralisme Realitas Alam Semesta dan Tuhan telah semakin terbuktikan oleh perkembangan Quantum Physic mutakhir.. Wallahu ‘Alam bi Shawab.

  3. Brava! Semakin mengenal orang baik dari agama lain, saya semakin menyadari bahwa tujuan kita sama pada akikanya, yaitu menyatu dengan Tuhan. Cinta kasih masih ada di dunia, kita bisa tetap optimis!

    ciao

    Matteo

  4. gayatri wedotami

    Terimakasih, Pak Samantho dan Matteo…Semoga Damai Menyertai Bumi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s