Saudara Seperguruan

Oleh: Chen Chen

Do not believe in anything simply because you have heard it. Do not believe in anything simply because it is spoken and rumored by many. Do not believe in anything simply because it is found written in your religious books. Do not believe in anything merely on the authority of your teachers and elders.
Do not believe in traditions because they have been handed down for many generations. But after observation and analysis, when you find that anything agrees with reason and is conducive to the good and benefit of one and all, then accept it and live up to it.

(Siddharta Gautama, as quoted in the Kalama Sutra)


Saya ingin menganggap dunia ini adalah sebuah perguruan. Tempat kita semua umat manusia menimba ilmu. Di dalamnya ada banyak fakultas dan mahaguru-mahaguru hebat. Karena kita menimba ilmu, masing-masing dari kita memiliki kapasitas, kemauan, dan usaha yang berbeda dalam menimba ilmu sampai sejauh mana kedalaman ilmu yang kita timba. Tetapi, para mahaguru kita, mereka yang paling hebat di antara semua guru (karena itu saya menamakannya mahaguru), adalah para Insan Kamil, manusia-manusia sempurna yang telah ditahbiskan oleh Maharektor kita, Tuhan Semesta Alam, yang tak akan tercela sedikit pun karena mereka harus mentransfer ilmu kepada kita dengan utuh dan sempurna, walaupun kita yang menerimanya mungkin tidak dapat sempurna menangkapnya. Mereka masing-masing mengepalai dan memimpin fakultas-fakultasnya, dan kita, setelah memilih fakultas, serta jurusan kita masing-masing, akan dibekali buku-buku teks sebagai pedoman untuk belajar dan menghadapi ujian. Karena itu, saya ingin menganggap kita semua adalah saudara seperguruan, di suatu universitas bernama Alam Semesta, dan masing-masing dari kita memiliki kecerdasan, kemampuan dan keahlian yang berbeda-beda. Belum lagi, kecenderungan dan kesukaan masing-masing. Di universitas kita biasa menemukan klub-klub yang sangat beragam, dari mulai klub renang sampai klub pendaki gunung, dari organisasi tempat para mahasiswa belajar politik, diskusi dan gontok-gontokan,  sampai kelompok-kelompok pemusik yang keduanya sama-sama menghidupkan kampus pada malam hari. Tetapi, mereka itu dari fakultas yang berbeda-beda, dan dari jurusan lain-lain pula. Yang mempersatukan mereka adalah minat dan atau hobi mereka.

Apakah anda pernah menonton film seri kungfu? Atau mungkin anda justru penggemar film kungfu? Dalam film-film tersebut, kita bisa melihat, sikap seorang pendekar terhadap saudara seperguruan sama seperti  sikapnya terhadap saudara kandungnya. Bahkan, kalau perlu, ia lebih mencintai saudara seperguruannya, membelanya dengan mengorbankan nyawanya, bahkan merelakan kekasihnya untuk saudara seperguruannya. Sementara itu para tokoh antagonis biasanya adalah para pengkhianat saudara seperguruan, lihatlah bagaimana dia membangkang gurunya, kemudian melawan gurunya, dan akhirnya memusuhi semua saudara seperguruannya untuk kemudian membangun perguruannya sendiri sebagai lawan tanding mereka.

Itu-lah yang terjadi di antara kita. Kita saudara seperguruan, tetapi kita tercerai-berai mengikuti murid-murid senior sebelum kita yang telah membangkang para mahaguru kita yang hebat, memfitnah para mahaguru kita dan melawan para mahaguru kita dengan hasad dengki yang tidak karuan.  Kita saling bersaing membangun perguruan di dalam perguruan yang maha luas ini, masing-masing hanya ingin menunjukkan jurusnya yang paling hebat untuk mematikan lawan (atau jurusannya yang paling hebat dalam memahami dan memelihara dunia).

Ketika salah satu di antara mahaguru hebat kita mengatakan,

Do not believe in anything simply because you have heard it

bukan berarti kita tidak boleh dan tidak dapat mempercayai apapun

Ketika salah satu di antara mahaguru hebat kita mengatakan,

Do not believe in anything simply because it is spoken and rumored by many

bukan berarti kita tidak boleh dan tidak dapat mempercayai siapapun

Ketika salah satu di antara mahaguru hebat kita mengatakan,

Do not believe in anything simply because it is found written in your religious books.

bukan berarti kita tidak boleh dan tidak dapat mempercayai kitab-kitab religius mana pun

Ketika salah satu di antara mahaguru hebat kita mengatakan,

Do not believe in anything merely on the authority of your teachers and elders.

bukan berarti kita tidak boleh dan tidak dapat mempercayai guru-guru kita dan para senior kita

Ketika salah satu di antara mahaguru hebat kita mengatakan,

Do not believe in traditions because they have been handed down for many generations.

bukan berarti kita tidak boleh dan tidak dapat menerima tradisi yang telah diwariskan turun-temurun selama banyak generasi

Karena itu mahaguru hebat kita mengatakan,


But after observation and analysis, when you find that anything agrees with reason and is conducive to the good and benefit of one and all, then accept it and live up to it.

maka baginda kita telah mengingatkan kepada kita bahwa bukan masalah apa dan siapa, tetapi bagaimana kita memperoleh kepercayaan kita terhadap sesuatu, apakah kita telah melalui proses kritis dan berfikir (taqilun, bentuk kata yang selalu digunakan untuk aql dalam al-Qur’an)? Ketika baginda mengatakan ia kondusif dengan kebaikan dan manfaat satu dan semuanya, itu artinya ia bukan hanya tidak bertentangan dengan akal pikiran kita, tetapi juga tidak bertentangan dengan hati nurani, dan fitrah kita sebagai manusia yang menyukai sesuatu yang bermanfaat bagi diri kita (dan membenci  mudharat).

Nabi Ilyas (Elia/Prophet Elijah) & Khidir (Al-Khiḍr) membicarakan persatuan agama2 dan mazhab2 (are talking about the reunification of religions and sects)

Setelah itu, kita baru menerimanya dan menjalaninya. Kalau benar ia bermanfaat bagi semuanya, dan terutama bagi kita, kita pasti  akan menjalaninya tanpa mempersoalkannya lagi. Maka, setelah kita tahu orang lain pun telah menjalani proses yang sama dengan kita, tetapi menghasilkan kesimpulan yang berbeda dengan kita, saya kira perlu dipertanyakan kembali jika kita masih bersikeras untuk menuduhnya melakukan kesalahan. Sebab, sebagaimana sebuah universitas, jika hanya ada sebuah hipotesis, sebuah teori, dan sebuah kesimpulan, universitas itu tidak akan berkembang. Hanya para mahaguru kita yang telah menemukan hakikat dari ilmu Maharektor kita. Selebihnya kita semua hanya berspekulasi, karena jangankan berada di Jalan (tariqat) untuk sampai mengetuk pintu kantor Yang Maha Mulia, aturan (syariat) universitas saja belum sanggup kita jalani kecuali aturan-aturan fisikal belaka, seperti berpakaian xxx, xxx tepat waktu, membayar  xxx,  dan menyerahkan tugas xxx. Apakah tiap hari kita sudah membaca sumber-sumber mata kuliah para mahaguru kita untuk benar-benar memahami pelajaran yang disampaikan para mahaguru kita dan menjalaninya dengan benar?  Apakah kita yakin kita sudah memahami kata-kata para mahaguru kita tentang ilmu yang mereka sampaikan kepada kita?

Entahlah. Saya kira saya termasuk mahasiswa yang agak tulalit menangkap ilmu mereka. Tetapi, saya ingin menjadikan kita semua sebagai  saudara seperguruan. Musuh kita adalah mereka yang ingin memecah-belah kita, mencerai-beraikan kita. Apapun atau siapapun itu. Mudah-mudahan, kita tidak akan memberikan ruang dan kesempatan kepada mereka untuk berhasil, hatta barang sekali pun .Amin.

Salam Damai. Amitabha. Wallahu’alam bissawab.

14 responses to “Saudara Seperguruan

  1. Mbak, menurut ku ini adalah sebuah perspektif indah yang dapat membantu kita mempersiapkan diri dalam menyambut dunia yang bersatu dalam satu agama dan satu mazhab…Agama Tuhan…Mazhab Cinta…it’s a new earth🙂

  2. gayatri wedotami

    Setuju Mbak. Seperti kata Ibnu Arabi:

    “Agamaku adalah agama Cinta.”

  3. Siap!!! (Sudah mencakup segala apresiasi positif terhadap tulisan ini)

  4. gayatri wedotami

    Terimakasih!!

  5. SATRIA SARIPUTRA

    Lebih jauh disimak, bgmana korelasi antara TAOisme, Confisius n Dhamma ? Sangat menarik untuk dibaca n dimengerti ! LAU TZU konon jga mencapai penerangan di era jaman sebelum SIDHARTA GAUTAMA

    • gayatri wedotami

      mereka semua jika mereka tidak dapat disebut sebagai para nabi, mereka adalah para wali yg mendapat pencerahan dari-Nya…

    • ya, kalau lao tzu..kuat dugaan bahwa beliau ini meneladani dan menghidupkan sunnah Nabi Iskandar Zulkarnain yang Allah turunkan untuk umat di Cina.
      (Iskandar Zulkarnain ini ternyata adalah anak kandung Firaun Mesir yang dulu ngejar Musa a.s. di laut merah, jadi bukan Alexander The Great dari Yunani yang kebanyakan orang duga)

      informasi ini adalah hasil penelitian selama 5 tahun yang dilakukan oleh Syaikh Hamdi Abu Zaid (anggot penasehat kerajaan Arab Saudi) yang diterbitkan dengan judul Indonesianya:”Ya’juj dan Ma’juj sudah muncul di Cina?”

  6. gayatri wedotami

    Muxlimo — Islam bukankah agama yg berserah diri kpd Tuhan?
    barangsiapa yg berserah diri kpd Tuhan-nya telah menjadi muslim?
    beserah diri bukankah tanda menerima cinta-NYA dan akan memberikan cinta hanya kepada-NYA?

    Mengenai teori2 tentang tokoh2 tertentu adl nabi atau bukan (selain yg tertera dlm alQur’an) saya tidak terlalu antusias mengikutinya sebagai secara historis per se…
    Memang saya pernah dengar soal Alexander The Great ini, malah ada yg mengatakan ia sebenarnya adl Cyrus…
    Kita sebaiknya tidak perlu terlalu terpaku untuk menentukan apakah Khrisna murid Nabi Musa, apakah Kalki Avatar yg dimaksud org Hindu adl Muhammad saw atau Imam Mahdi as, apakah Buddha Maittreya sebenarnya Muhammad saw, apakah Konfucius Nabi utk org China, apakah Socrates adl Lukmanul Hakim, apakah Plato adl nabi bagi bangsa Yunani…hehehe, wallahu’alam semuanya itu. Yang terlebih penting adl menemukan ajaran2 universal mereka yg sesuai dgn ajaran para nabi keturunan Ibrahim as, kemudian menyadari bahwa karena kemampuan akal manusia terbatas dan juga panca indranya sgt terbatas, maka mau tak mau selama beberapa generasi setelah Tuhan kirimkan mereka ke bumi baik sbg nabi, imam, wali atau apa pun, bukanlah tdk mungkin terjadi penyimpangan2 yg juga terjadi atas kehendakNYA, yg mana di dalamnya bukan berarti tidak akan kita temukan kebenaran, tetapi satu-satunya yang tidak lenyap adl misdaqNYA muncul dlm banyak mafhum pada pandangan2 dan ajaran2 mereka…

    • gayatri wedotami

      yang akhirnya berujung kepada keyakinan kuat pada tauhid – segalanya berasal dari Yang Esa…

      • setuju, mbak..saya jg gak memfokuskan diri pada persoalan siapa murid siapa, tapi kebetulan di hasil penelitian itu, kabar dalam Quran yang belum terungkap akhirnya terungkap secara ilmiah.

        betul, karena Tuhan itu Esa, maka segala ilmu-Nya juga Esa, tetapi jalan pengesaan itu tentu tidak dengan mengesakan setiap ilmu ‘kan?🙂

  7. kalu dari buku yang ramalan Muhammad di setiap agama itu, simpulan saya:
    “setiap sumber mata air kebenaran yang berwarna-warni itu berasal dari Yang Satu dan atas Kehendak Yang Satu itu pula semuanya mengalir ke satu muara besar: samudera rahmatan lil alamin.” Jika setiap mata air tetap brada di danaunya masing2, ia tetap akan sampai pada samudera tsb. selama belum tercampur dengan kemurnian mata air lain.
    Karena saya yakin, bukan hanya Islam yang menyetujui perinsip:”Tidak ada paksaan salam agama dan beragama.”🙂 setuju ‘kan, Mbak?!🙂

  8. gayatri wedotami

    setuju🙂
    selamat berkontemplasi bung!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s