TELADAN KESYAHIDAN YANG TIADA DUANYA

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan…….”(Q.S Al Baqarah: 154-155)

Siapakah teladan kesyahidan yang tiada duanya bagi saya?

Siapakah dia yang telah gugur demi membela agama Allah dan menegakkannya setelah musuh-musuh Allah membengkokkannya hanya sekejap saja sepeninggal Rasulullah?

Orang Jawa mengatakan kualitas pribadi seseorang berdasarkan bibit, bebet dan bobotnya. Sementara itu, ilmu modern menyatakan bahwa terbentuknya kepribadian seseorang erat kaitannya dengan pengasuhan dan pendidikan dalam keluarganya.

Maka, tentulah sang pahlawan syahid ini tidak sekonyong-konyong lahir begitu saja dan menjadi pahlawan yang berjihad di jalan Allah serta menganggap mati syahid lebih mulia daripada hidup bergelimangan harta dan kekuasaan.

Siapakah dia dan bagaimana latar belakang keluarga dan pendidikannya?

Ketika Muhammad SAW pertama kali mengatakan bahwa dirinya adalah seorang nabi dan rasul yang diutus oleh Allah SWT, dua orang pertama yang menerima kebenaran berita gembira itu adalah Khadijah, istrinya, serta Ali bin Abu Thalib as, keponakannya yang masih muda belia.

Ketika Muhammad SAW dikritik oleh kaum Quraisy yang meragukan kenabiannya, pamannya Abu Thalib (yang konon sebenarnya menyembunyikan keimanannya demi keselamatan Muhammad) selalu berada di depan Muhammad untuk melindunginya. Beliau telah mendedikasikan dirinya sebagai ayah bagi Muhammad SAW yang telah menjadi yatim sejak lahir, yang telah kehilangan ibu sejak kanak-kanak, dan telah pula kehilangan kakek yang semula menjadi walinya sejak masih kecil.

Ketika Muhammad SAW berhijrah secara diam-diam,

Ali bin Abi Thalib-lah yang menggantikan posisi baginda di tempat tidur untuk mengelabui musuh-musuh yang hendak membunuh Muhammad SAW.

Ali bin Abi Thalib rela menukar nyawanya untuk Muhammad SAW.

Ketika Muhammad SAW dikucilkan dan dihina oleh segenap penduduk Mekkah, Fatimah putrinya selalu berada di sampingnya, mendampinginya dan membelanya. Fatimah adalah belahan jiwa dan cahaya mata Rasulullah. Rasulullah sangat mencintai Fatimah bukan semata karena Fatimah adalah putri kandungnya, melainkan terutama karena kesalehan dan ketakwaan Fatimah.

Seorang pemuda yang sejak kanak-kanak telah menjadi pemeluk Islam pertama. Seorang pemuda yang menjadi murid pertama Rasulullah. Seorang perempuan yang sejak lahir dididik langsung ayahnya, Sang Nabi, Muhammad. Seorang perempuan yang lahir dari rahim perempuan pertama yang memeluk Islam, Khadijah bt Khuwailid. Mereka itulah sepasang pengantin muslim “paling sempurna” yang pernah ada dalam catatan sejarah umat manusia.

Ali dan Fatimah meskipun adalah putra dan menantu serta kemenakan dari pemimpin umat tidak pernah hidup dalam kemewahan. Ali bekerja keras untuk memenuhi nafkah keluarga. Fatimah mengurus sendiri rumah tangga dengan kedua tangannya.

Pernah Rasulullah merasa prihatin melihat tangan kasar Fatimah. Sehari-hari mereka berdua biasanya berpuasa. Bahkan berbuka puasa pun hanya dengan minum air, sebab makanan yang telah mereka siapkan untuk berbuka sering kali akhirnya disumbangkan kepada fakir miskin.

Dua orang pemuda dan dua orang gadis terlahir sebagai buah pernikahan mereka. Hasan, Husain, Zainab dan Ummi Kultsum. Dengan keimanan dan ketakwaan mereka, saya (dan tentu anda) tidak mungkin akan meragukan kesempurnaan pengasuhan dan pendidikan yang diterapkan dalam keluarga ini.

Ketika Rasulullah dengan sengaja sujud lebih lama demi membiarkan cucu terkasihnya Husain/Hasan, bermain-main di atas punggungnya, bagi saya hal itu bukan semata-mata karena Rasulullah sebagai pribadi mulia yang ingin mengajarkan kepada kita caranya mencintai anak-anak. Peristiwa itu sangat indah, sangat manusiawi sekaligus bernilai Illahiah atau “Divine”; karena saya yakin hikmah yang ingin disampaikan kepada kita dalam setiap hal yang dilakukan oleh Rasulullah memiliki makna yang sangat dalam.

Karena selama ini kita sebagai umat Islam meyakini Rasulullah sebagai sosok pemimpin paling ideal dan paling sempurna, maka kita tentunya juga yakin bahwa Rasulullah telah menjadi pemimpin sempurna dalam keluarganya. Logikanya, karena baginda adalah pemimpin umat dan keluarga yang sukses, maka anggota keluarganya telah dikaderisasi dengan baik sebagai muslim dan muslimah yang baik pula. Dengan demikian, kita yakin bahwa anggota keluarganya adalah para pendakwah yang mendapat didikan langsung Rasulullah.

Riwayat menyebutkan bahwa sejak belia Hasan dan Husain telah menjadi guru bagi kaum muslim, misalnya mengajarkan cara berwudhu yang benar kepada seorang tua tanpa sikap menggurui yang mungkin dapat menyinggung perasaannya orang tua itu.

Karena baginda adalah pemimpin, logikanya pula kita menaruh hormat dan memiliki sikap serta budi pekerti sebaik-baiknya kepada Rasulullah maupun keluarganya. Al-Quran telah mengajarkan kepada kita tata-krama kepada Rasulullah, termasuk ketika bertamu ke rumahnya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada ALLAH. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih daripada suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.

“Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.

“Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.

“Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu ke luar menemui mereka sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Hujuraat: 1-5).

Logikanya, jika kita memiliki seorang pemimpin yang sangat kita kagumi dan kita hormati, kemudian anggota keluarganya juga sebaik pemimpin kita, bukankah kita pasti akan menghormati mereka juga?

Namun, mengapa tidak lama setelah Rasulullah wafat, suatu pasukan tentara di bawah kekuasaan dan komando seorang sultan (seorang raja yang mengaku muslim) dengan keji telah memanah seorang bayi yang kehausan di tepi Sungai Eufrat justru sampai mati? Bayi itu adalah cucu Fatimah, penghulu wanita di surga. Bayi itu adalah cicit Rasulullah, pemimpin yang dihormati semua orang beriman.

Apakah dosa dan salah cicit Rasulullah yang masih bayi itu? Jika seorang muslim benar-benar mencintai Rasulullah, tidakkah terpikir olehnya seandainya Rasulullah mengetahui hal itu bagaimana perasaannya?

Muhammad tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelum beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali Imran: 144).

Ya. Hari penuh darah itu hari yang paling menyakitkan bagi saya, seorang yang mengaku Muslim, yang ingin mengikuti Rasulullah dengan penuh cinta.

Ya. Hari itu juga hari dipenggalnya cucu kesayangan Rasulullah yang Rasulullah biarkan bermain-main di atas punggungnya sementara baginda bersujud dalam shalat. Siapa yang memenggalnya? Siapa dalang di balik terputus kepala dan badannya cucu kesayangannya? Siapa yang mengarak kepalanya dari kota ke kota dan mencacinya sebagai pemberontak sultan? Apa pun alasannya, perbuatan keji itu sama sekali tak dapat diterima oleh akal sehat dan nalar manusia normal.

Siapa pun pasti setuju bahwa Husain bin Ali telah mendapat pengasuhan dan pendidikan paling sempurna yang pernah ada dalam sejarah catatan umat, dari dua orang penghulu surga dan dari Rasulullah sendiri. Siapa lagi selain dia, Hasan dan saudara-saudara perempuannya? Karena itu-lah, tidak mengherankan jika kelak beliau dengan berani menegakkan kebenaran dan membela agama Islam, tanpa takut sedikit pun dengan ancaman yang mengintai dirinya. Jika beliau mau hidup tenang, beliau akan diam-diam saja dengan kekuasaan yang zalim dan keluar dari akidah-akidah Islam itu. Namun, kenyataan berbicara lain sebagai bukti kepribadiannya yang berani berjihad di jalan Allah.

Husain adalah teladan kesyahidan yang tiada duanya. Semua orang Islam yang berakal sehat, bernalar normal dan memiliki hati nurani pasti akan setuju menghormati dan meneladaninya sebagai pahlawan pejuang kebenaran dan pembela agama. Jika tidak, bagaimana mungkin orang-orang bukan Islam pun menaruh simpati kepada perjuangannya dan kagum akan pengorbanannya.

Mahatma Gandhi bahkan mengatakan,

“Kemajuan Islam tidak bertumpu pada pedang pemeluknya, namun hasil dari pengorbanan agung Husain.”

Charles Dickens, sastrawan, berkata:

“Husain berkorban murni demi Islam.”

Rabindranath Tagore, peraih nobel sastra dari India, berujar:

“Demi terus menghidupkan keadilan dan kebenaran, alih-alih menggunakan pasukan atau senjata, kesuksesan bisa diraih dengan pengorbanan jiwa. Inilah yang dilakukan Imam Husain.”

Pandit Jawaharlal Nehru, negarawan India, berkata:

“Pengorbanan Imam Husain adalah demi semua kelompok dan masyarakat, sebuah teladan jalan kebenaran.”

Edward G. Brown, guru besar University of Cambridge, berujar:

“Tragedi Karbala…selalu bisa menggugah emosi terdalam, dan semangat meluap-luap, yang membuat rasa sakit, bahaya dan kematian menyerpih bagai debu.”

Edward Gibbon, sejarawan Inggris terkemuka, menyatakan:

“Tragedi kematian Husain niscaya menggugah simpati pembaca yang paling dingin sekalipun.”

Thomas Carlyle, berujar :

“Husain dan para pengikutnya merupakan orang-orang yang sangat mengimani Tuhan.”

Washington Irving, berkata:

“Dalam sejarah Islam tidak ada yang lebih keji daripada tragedi ini (Karbala).”

Prinsip Husain dalam berjihad tentunya sebagaimana ayat al-Qur’an yang memperingatkan kaum Nasrani dan kaum Yahudi yang telah mendapat peringatan dari Allah melalui kitab-kitab sebelum al-Quran, tetapi kita tahu bahwa di kemudian hari setelah nabi-nabi mereka tiada, mereka tidak lagi memegang ajaran kitab-kitab mereka serta meragukan kebenaran kitab-kitab mereka:

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Q.S Al Baqarah: 147).

Betapa banyak dari kita, kaum muslim, saat ini, yang meragukan kebenaran yang datang dari Tuhan. Meninggalkan al-Qur’an dan sunnahnya.

Syahidnya Husain adalah teladan kesyahidan nomer satu bagi saya.

Dari garis ibu dan dari garis ayah, maka dia adalah bibit unggulan. Cucu dari pemimpin-pemimpin umat, kakeknya Muhammad dan Abi Thalib. Neneknya adalah Khadijah dan Fatimah bt Asad (perempuan mulia yang melahirkan Ali di Ka’bah, rumah Allah). Putra dari penghulu wanita di surga. Putra dari pemuda pertama yang memeluk Islam yang telah banyak mempertaruhkan nyawa demi Islam.

Semoga Allah mencucuri rahmat atas rohnya. Semoga Allah meridhai pengorbanannya. Semoga Allah memercikkan ke jiwa-jiwa kaum muslim, termasuk saya, untuk bisa memiliki semangat dan ketakwaan yang serupa….Walaupun hanya sepercik, untuk mencintai pengorbanannya demi untuk meneruskan perjuangannya..

.Amin Ya Rabbal Alamiin.

2 responses to “TELADAN KESYAHIDAN YANG TIADA DUANYA

  1. gayatri wedotami

    dari secondprince.wordpress.:

    Ketika Imam Husain as bersiap-siap untuk berangkat, Ummu Salamah datang. Dengan airmata berlinang, ia memohon, “Janganlah engkau dukakan daku dengan kepergianmu ke Iraq. Aku telah mendengar kakekmu Rasulullah saw bersabda, “Anakku al-Husain akan terbunuh di bumi ke Iraq, di bumi yang dikenal dengan nama Karbala.” Masih kusimpan tanahmu dalam botol yang diberikan Nabi kepadaku.” Imam Husain berkata, “Ya ummah, aku tahu aku akan terbunuh, terbantai karena kezaliman dan permusuhan. Allah telah berkenan memperlihatkan kepadaku keluargaku dan sahabatku yang dihalau; anak-anakku yang disembelih, ditawan dan dibelenggu. Mereka minta pertolongan tetapi tidak mereka dapatkan pertolongan.”

    “Ajaib!Lalu mengapa engkau pergi padahal engkau akan terbunuh?,” ujar Ummu Salamah. Imam Husain menjawab, “Ya Ummah, jika aku tidak berangkat hari ini, aku akan berangkat esok. Jika tidak esok, esoknya lagi. Demi Allah, kematian tidak dapat dihindari. Sungguh, aku tahu hari ketika aku terbunuh, detik- detik ketika aku terbunuh, dan kuburan yang di situ aku dikebumikan. Aku mengetahuinya seperti mengetahuimu. Aku melihatnya seperti melihatmu. Jika engkau mau, akan kuperlihatkan padamu tempat pembaringanku dan tempat sahabat- sahabatku.” Ummu Salamah memohonnya. Ia memperlihatkan kepadanya turbah (tanah) sahabat-sahabatnya dan memberikan sebagian untuk Ummu Salamah. Dipesankannya agar ia menyimpannya dalam botol lagi. Bila ia melihatnya bersimbah darah, yakinlah bahwa Husain terbunuh. Pada hari kesepuluh Muharram, sesudah Zhuhur ia melihat kedua botol itu, dan keduanya telah berubah menjadi genangan darah.

    Peristiwa yang saya kutip dari Maqtal al-Husain, tulisan Abd al-Razzaq al-Musawi ini, diriwayatkan oleh banyak muhaddits. Tak seorang pun mempersoalkan keabsahannya.Tetapi banyak orang bertanya, seperti Ummul Mukminin ra, mengapa Imam Husain pergi juga padahal ia telah mengetahui bahwa ia akan terbunuh. Sebagian malah menolak hadis itu hanya dengan alasan: tidak mungkin Imam Husain menjatuhkan dirinya dalam kebinasaan. Bukankah Tuhan berfirman,

    “Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan.” (Al-Baqarah 195)

    Izinkan saya bertanya: Apa yang dimaksud dengan kebinasaan? Apakah setiap kematian dianggap kebinasaan? Apakah setiap kehidupan keberuntungan? Ketika Nero membakar Roma, ia tertawa menyaksikan ratusan ribu orang yang terpanggang hangus. Apakah Nero beruntung dan rakyat yang mati semua binasa? Hitler bersenang-senang di istananya, ketika jutaan manusia dijebloskan ke kamar gas dan dibunuh dengan gas beracun. Apakah Hitler beruntung dan rakyat yang tertindas itu celaka? Vlad The Impaler, raja Kristen dari Rumania, melemparkan tawanan Turki yang Muslim ke sebuah lembah yang dipenuhi dengan tombak-tombak, yang bagian tajamnya diarahkan ke atas. Kaum Muslimin itu tertusuk puluhan tombak dan mati karena kehabisan darah. Apakah kaum Muslim itu binasa dan raja Rumania itu

    beruntung? Kejadian seperti itu berulang terus dalam sejarah umat manusia: Pengungsi Palestina yang dibunuh tentara Israel di Sabra dan Shatilla, Muslim Bosnia yang dibantai Kristen Serbia, pejuang Muslim Kasymir yang didrel serdadu Hindu dari India, Muslim Ambon yang dijagal oleh saudara-saudaranya yang berbeda agama.

    Bila kita mengukur kebinasaan dari kekalahan dalam pertempuran, kelemahan dalam perbekalan, atau kekurangan dalam dukungan, ucapkanlah salam perpisahan kepada Islam. Kebinasaan dan keberuntungan tidak terletak pada kematian dan kehidupan; tetapi pada tujuan yang menyertai keduanya. Imam Ali, yang digelari George Jordac sebagai Suara Keadilan Insani, memberikan kriteria tegas:

    AI-Hayat fi mawtikum qahirin; wal mawt.fi hayatikum maqhurin.

    Kehidupan itu dalam kematianmu yang menaklukkan dan kematian itu dalam kehidupanmu yang ditaklukkan. Dalam peribahasa melayu, lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai.

    Mati untuk menegakkan kalimah Allah adalah kebaikan yang di atasnya tidak ada yang lebih baik menyaksikan lagi. Hidup mewah dengan mencampakkan syariat adalah kehinaan yang di bawahnya tidak ada yang lebih hina lagi. Imam Husain berkata dalam khotbahnya, ” Aku tidak melihat kematian selain kebahagiaan; dan aku tidak melihat kehidupan bersama orang yang zalim selain kehinaan.” Ketika Allah SWT berfirman …” Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling takwa.” Dia meletakkan kehormatan dan kemuliaan pada ketakwaan. Harta menjadi mulia bila berada di tangan orang yang beragama, yang memperoleh dan mengeluarkan harta itu sesuai dengan tuntunan syariat. Harta menjadi fitnah yang mencelakakan bila dipegang oleh orang yeng mencari dan membelanjakannya dengan cara yang haram. Kekuasaan menjadi mahkota yang mulia bila dipergunakan untuk menegakkan keadilan dan menumbangkan kezaliman. Kekuasaan menjadi godaan yang menjerumuskan bila dijalankan untuk menyengsarakan rakyat dan memperkaya diri dan golongan. (Rasululllah saw bersabda, Jika para penguasamu adalah orang-orang yang baik di antara kalian; jika orang-orang kayamu adalah orang-orang dermawan di antara kalian; jika urusanmu selalu dimusyawaratkan di antara kamu, maka punggung dunia lebih baik bagimu dari perutnya. Jika para penguasamu adalah orang-orang buruk di antara kamu; jika orang-orang kayamu orang-orang yang bakhil; dan urusan diserahkan pada isteri-isterimu, maka perut bumi lebih baik bagimu dari punggungnya.”

    Zaman buruk yang digambarkan Nabi adalah zaman Imam Husain. Pada masanya, Bani Umayyah menegakkan kekuasaan dengan mengalirkan darah orang yang tidak bersalah, menumpuk kekayaan dengan merampas hak orang-orang kecil, dan menyebarkan ideologi “Might is right” yang berkuasa adalah yang benar. la “membayar’ para ulama untuk melegitimasikan kekuasaannya dan menghamun-maki orang-orang yang berpegang teguh pada kebenaran. Agama diberi makna sesuai dengan kehendak penguasa. Lewat mesin propaganda waktu itu antara lain, khotbah-khotbah Jumat dan majlis- majlis pengajian ajaran keluarga Rasulullah saw (pasangan al-Qur’an) dianggap sebagai Islam yang sesat, dan fatwa keluarga Akilat al-Kabad, Hindun, sebagai Islam yang benar.

    Simaklah ucapan Imam Ali as. ketika ulah Bani Umayyah: “Ingatlah bahwa bencana yang buruk bagi Anda di mata saya ialah bencana Bani Umayyah, karena bencana itu buta dan menciptakan kegelapan pula. Melandanya umum tetapi akibat buruknya adalah bagi orang-orang tertentu. Orang yang tetap berpandangan cerah didalamnya akan tertimpa kesedihan, dan orang yang tetap buta didalamnya akan menjahui kesedihan itu. Demi Allah, Anda akan mendapatkan Bani Umayyah sesudah saya adalah orang yang terburuk bagi Anda, seperti unta betina tua pembangkang yang menggigit dengan mulutnya, memukul dengan kaki depannya, menendang dengan kaki belakangnya, dan menolak untuk diperahi susunya. Mereka akan tetap menguasai Anda sehingga mereka hanya akan meninggalkan di antara Anda orang-orang yang bermanfaat bagi mereka atau orang-orang yang tidak merugikan mereka. Petaka mereka akan berlanjut hingga permintaan tolong Anda pada mereka seperti permintaan tolong oleh budak pada tuannya atau pengikut pada pemimpinnya. Bencana mereka akan menimpa Anda seperti ketakutan bermata jahat dan perpecahan jahiliah di mana tak kan terlihat menara yang petunjuk atau suatu tanda (keselamatan). Kami Ahlul Bait bebas dari kejahatan dan kami tidak termasuk kalangan orang yang akan melahirkannnya.” (Puncak Kefasihan, Khotbah 92)

    Apa yang dikuatirkan Imam Ali betul-betul terjadi pada zaman Imam Husain. Muawiyyah mati meninggalkan Yazid sebagai penguasa.

    Dalam hadis ia mendapat julukan “bocah bodoh.” Abdullah bin Hanzhalah (yang jasadnya dimandikan para malaikat), melaporkan perilaku Yazid, ketika bersama delegasi Madinah kembali dari Syam: “Wahai manusia, kami baru saja kembali dari seorang lelaki yang meninggalkan shalat, minum minuman keras, menikahi ibu dan saudara kandung, bermain bersama monyet dan anjing. Jika kita tidak melepaskan baiat kepadanya, aku takut kita akan dilempari batu dari langit.” Ibnu Khaldun, sosiolog Islam itu, dengan tegas menyatakan bahwa para ulama Muslimin telah sepakat (ijmak) berkenaan dengan kefasikan dan kemaksiatan Yazid.

    Orang dengan kualitas seperti itu, yang mencemoohkan agama dengan syair-syairnya diangkat sebagai penguasa Islam. la memaksa semua orang untuk berbaiat kepadanya. Di Madinah, di kota Rasulullah yang mulia, Marwan bin al-Hakam memaksa Imam Husain untuk berbait kepadanya. Ia juga mengancam untuk membunuh cucu Nabi itu jika menolaknya. Imam Husain berkata, “Yazid manusia yang fasik, pendosa, pembunuh orang yang tidak bersalah, yang menyebarkan kefasikan dan kemakslatan. Orang sepertiku tidak mungkin berbaiat kepada orang seperti dia! Dan Imam Husain memilih kematian ketimbang tunduk kepada kezaliman. Dengan darahnya di Karbala, ia meletakkan tonggak sebuah mazhab yang meletakkan kehormatan, bukan pada kekuatan fisik dan kekuasaan, tetapi pada pengorbanan untuk agama yang memihak keadilan. Baginya, kemenangan sejati diperoleh ketika benih kemaslahatan umat tumbuh subur dari siraman darah dan air matanya. Bila Yesus, menurut pandangan Kristiani, mati untuk menebus dosa umat manusia, Imam Husain gugur untuk meletakkan nilai kemanusiaan di atas nilai-nilai kekuasaan, keturunan, kekayaan dan kepandaian.

    Kematiannya menghidupkan kembali Islam Muhammadi yang asli, yang memasukkan Salman orang Persl dalam kelompok Ahli Bait karena ketakwaannya dan mengeluarkan Abu Lahab, keluarga dekat Nabi, dari kelompok Ahli Bait karena keingkarannya.

    Ketika ia meninggalkan Madinah, ia menulis surat wasiat kepada saudaranya Muhammad bin Hanafiyyah: ” Aku keluar bukan karena kesombongan dan kepongahan, bukan juga untuk berbuat kerusuhan dan kezaliman. Aku keluar untuk menimbulkan perbaikan dalam tubuh umat kakekku Muhammad saw. Aku ingin melakukan amar makruf nahi mungkar. Aku ingin mengikuti perjalanan hidup kakekku dan ayahku Ali bin Abi Thalib. Jika orang menerimaku dengan penerimaan kebenaran maka Allah lebih utama untuk dipatuhi kebenaman- Nya. Barangsiapa yang menolakku, aku akan bersabar sampai Allah memutuskan kebenaran antara aku dan mereka. Dialah sebaik-baiknya hakim.”

    Lebih dari seribu tahun sesudah itu, seorang perempuan tua dan peneliti yang tekun berbicara di depan para pejabat Jerman, termasuk presiden dan anggota parlemen di sebuah istana di Berlin, memperingatkan para penguasa Dunia Barat untuk tidak mengajari orang Islam memperjuangkan hak asasi manusla. Sejarah Islam adalah perjuangan panjang untuk menentang tirani dan otokrasi. Dengan suara yang serak karena ketuaan, ia menglsahkan pengorbanan Imam Husain di Karbala. Inilah contoh utama pengorbanan besar untuk menegakkan pemerintahan yang adil dan beradab.

    Perempuan itu namanya Annemarie Schimmel.

    Kami penuhi panggilanmu, labbaik wahai Penyeru Allah. Jika badan dan lidah kami tidak dapat memenuhi panggilanmu ketika engkau mencari pertolongan, hati kami, pendengaran kami dan penglihatan kami telah menjawab seruanmu.

  2. http://www.facebook.com/notes/dza-wafi/beberapa-nasihat-imam-husain-bin-ali-al-syahid-as/208861591734

    Labbaik ya Aba Abdillah!

    Agar tiada orang yang mengira bahwa terdapat masalah yang tidak jelas, Imam Husain bin ‘Ali al-Syahid as mengemukakan berbagai alasan yang indah. Beliau keluar menemui mereka (para musuh Allah yang mengepung dan lalu membantai beliau bersama keluarga dan sahabatnya) di Padang Karbala; mengendarai kuda milik Rasulullah saww dan memegang Mushaf (al-Quran) serta mengangkatnya di atas kepala, lalu berdiri menghadap kaumnya itu dan berkata,

    “Hai kaumku! Sesungguhnya antara aku dan kalian semua terdapat Kitabullah dan sunnah kakekku, Rasulullah saww. Semoga Allah Swt merahmati kalian; apakah kalian mengenaliku?”

    Mereka menjawab, “Engkau adalah cucu Rasulullah saww.”

    Sang Imam kembali bertanya, “Apakah kalian tahu bahwa kakekku adalah Rasulullah saww?”

    “Ya,” jawab mereka.

    Sang Imam bertanya lagi, “Apakah kalian tahu bahwa ayahku adalah Ali bin Abi Thalib as?”

    “Ya,” jawab mereka.

    Sang Imam kembali bertanya, “Apakah kalian tahu bahwa nenekku adalah Khadijah binti Khuwailid?”

    “Ya,” jawab mereka.

    Sang Imam bertanya lagi, “Apakah kalian tahu bahwa pemimpin para syuhada adalah Hamzah, paman ayahku?”

    “Ya,” jawab mereka.

    Sang Imam bertanya lagi, “Apakah kalian tahu bahwa orang yang terbang di surga adalah pamanku, Ja’far?”

    “Ya,” jawab mereka.

    Sang Imam bertanya lagi, “Apakah kalian tahu bahwa ini adalah pedang Rasulullah saww, yang sedang kuhadapkan ke arah kalian?”

    “Ya,” jawab mereka.

    Sang Imam bertanya lagi, “Apakah kalian tahu bahwa Ali adalah lelaki pertama yang memeluk Islam, yang paling pintar dan paling santun di antara mereka, serta pemimpin semua orang mukim, baik laki-laki maupun perempuan?”

    “Ya,” jawab mereka.

    Sang Imam bertanya lagi, “Lalu mengapa kalian menghalalkan darahku, sedangkan ayahku adalah seorang pembela, seperti unta yang sedang mengejar oase.”

    Mereka berkata, “Kami telah mengetahui semua itu. Namun, kami tidak akan meninggalkanmu sebelum engkau merasakan mati dalam keadaan haus.”

    Imam Husain bin ‘Ali al-Syahid as berkata, “Kalian semua celaka dan menyedihkan. Bukankah ketika kalian meminta tolong kepada kami dalam keadaan menderita, lalu kami menolong kalian dengan senang hati? Kalian menghunuskan pedang di tangan kanan kalian kepada kami. Kalian nyalakan api kepada kami; api yang telah kami nyalakan untuk musuh kami, hingga kalian bersatu dengan musuh-musuh kalian untuk mengalahkan teman-teman kalian, tanpa keadilan yang telah kutebarkan kepada kalian, dan tanpa harapan bagi kalian yang ada pada mereka. Celakalah kalian… Apakah kalian mendukung mereka dan meninggalkan kami?!”

    “Benar, demi Allah Swt! Orang-orang terdahulu telah meninggalkan kalian, nenek moyang kalian membuatnya sedih, demikian juga keturunan kalian. Kalian adalah buah yang terburuk; menyedihkan bagi orang yang memandang, makanan bagi orang yang murka. Ketahuilah, anak haram putra anak haram terdapat pada dua hal: antara keranjang dan kehinaan, dan kehinaan sangat jauh dari kami! Semoga Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman melindungi kami atas hal demikian. Larangan yang dianggap baik dan suci; perbuatan melampaui batas yang dilindungi; jiwa-jiwa yang congkak; agar kami terpengaruh untuk taat kepada orang-orang yang tercela daripada gugur dalam keadaan mulia.”

    Kemudian, Imam Husain bin ‘Ali al-Syahid as melantunkan syair:

    Apabila kami menang, kami akan maju
    Jika kami menang, tiada yang mengalahkan kami
    Ketakutan tidaklah meredakan kami, tetapi
    Kematian dan sebuah negara tujuan kami
    Apabila kematian diangkat dari manusia
    Jasadnya tetap ditinggalkan kepada orang lain
    Maka para pemimpin akan binasa
    Sebagaimana yang telah diperingatkan oleh masa lalu
    Apabila kekuasaan itu kekal, kami juga akan kekal
    Dan seandainya kemuliaan itu kekal, kami juga akan kekal
    Katakan kepada mereka yang gembira akan kami,
    Berkelanalah kalian!
    Mereka akan berjumpa seperti yang kami jumpai.

    Akhlak Imam Husain bin ‘Ali al-Syahid as sangat mulia; beliau menasihati musuh-musuhnya dan orang-orang yang akan membunuhnya. Pada hari Asyura (10 Muharram) dan setelah Ibn Sa’ad meyiapkan pasukannya untuk berperang, Sang Imam memanggil kuda tunggangannya, lalu mengendarainya.

    Kemudian, beliau menyeru dengan suara lantang, yang didengar oleh sebagian besar mereka, “Wahai manusia! Dengarkanlah perkataanku! Jangan tergesa-gesa hingga aku menasihati kalian (tentang) apa yang semestinya kalian lakukan terhadapku, dan hingga aku meminta maaf kepada kalian dari orang-orang yang ada di hadapanku ini dan aku juga memaafkan kalian. Apabila kalian menerima permohonan maafku dan membenarkan perkataanku dan kalian memberikan sebagian pasukan kalian kepadaku, yang akan kami sempurnakan dengan jumlah itu, aku akan senang dan tiada lagi jalan bagi permusuhan di antara kita.

    Segala puji bagi Allah Swt yang telah menciptakan dunia dan menjadikannya sebagai tempat yang fana dan lenyap, mengatur semua penghuninya dengan berbagai keadaan… Orang yang sombong karena kelengahannya, yang sengsara karena ujiannya. Janganlah kehidupan dunia ini memperdayakan kalian semua, karena ia akan memutuskan harapan orang yang bergantung kepadanya dan mengecewakan keinginan orang yang berhasrat kepadanya. Aku melihat kalian telah bersepakat atas suatu urusan yang membuat Allah Swt murka kepada kalian. Aku akan melawan kalian atas nama Zat Yang Maha Mulia dan menghalalkan kemarahan-Nya atas kalian serta kasih sayang-Nya akan menjauh dari kalian. Sebaik-baik majikan adalah Tuhan kami dan seburuk-buruk hamba adalah kalian. Kalian telah memutuskan untuk taat kepada-Nya dan beriman kepada Rasulullah saww, kemudian kalian mendatangi keluarga dan keturunannya untuk membunuhnya. Setan telah merasuki kalian hingga kalian lupa untuk mengingat Allah Yang Mahaagung. Oleh karena itu, celakalah kalian dan atas apa yang kalian inginkan. Sesungguhnya kami berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Mereka adalah kaum yang kafir setelah beriman, maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang zalim itu.

    Wahai manusia, bukankah kalian telah mengetahui keturunanku, maka kembalilah kepada diri kalian dan ingatkanlah; lihatlah apakah dihalalkan bagi kalian untuk membunuhku dan merendahkan kehormatanku? Bukankah aku adalah putra dari putri Nabi kalian, putra dari pelindungnya yang juga sepupunya? Dialah lelaki yang pertama kali beriman kepada Allah Swt, yang membenarkan Rasul-Nya atas segala yang datang dari Tuhannya?! Bukankah Ja’far al-Thayyar adalah pamanku? Apakah sabda Rasulullah saww tentangku dan saudaraku (Hasan) tidak sampai kepada kalian: mereka berdua adalah dua orang pemimpin pemuda ahli surga?? Jika kalian membenarkanku bahwa yang aku katakan adalah haq, maka demi Allah, aku memang tidak berdusta sejak aku tahu bahwa hamba-Nya membenci keluarga Rasulullah saww dan menyerang orang yang membangkangnya. Jika kalian mendustakanku, maka sesungguhnya kalian memiliki orang yang jika kalian bertanya tentang hal itu kepadanya, maka (kalian) akan diberi tahu. Tanyakanlah kepada Jabir bin Abdullah al-Anshari, Abu Sa’id al-Khudri, Sahl bin Sa’ad al-Sa’idi, Zaid bin Aram, dan Anas bin Malik. Mereka akan memberitahukan kepada kalian bahwa mereka mendengar perkataan (hadis) tentang aku dan saudaraku tadi berasal dari Rasulullah saww. Bukankah hal ini (cukup) menghalangi kalian untuk menumpahkan darahku?

    Jika kalian masih meragukan perkataan Rasulullah saww ini, apakah kalian menderita karena aku adalah anak dari putri Nabi kalian? Celakalah kalian! Apakah kalian akan menuntut balas kepadaku atas orang yang telah aku bunuh? Atau meminta harta kalian yang telah aku belanjakan atau ingin melakukan qishash atas luka yang kulakukan?!”

    Lalu mereka diam tanpa banyak bicara kepada Imam Husain as, bahkan meninggalkannya begitu saja. Mereka lantas melepaskan anak panah mereka yang berbisa, justru setelah Imam Husain bin ‘Ali as melontarkan kata-kata hikmah dan nasihat yang baik kepada mereka.

    Benarlah orang yang mengatakan:

    Aku tak lupa ketika dia berdiri berpidato di hadapan mereka
    Sedangkan mereka tidak memiliki orator
    Dia menyeru, bukankah aku adalah anak dari putri Nabi kalian?
    Dan pelindung kalian ketika waktu telah berganti?
    Apakah aku membawa hal bid’ah dalam agama Nabi?
    Atau aku meragukan dalam hukum-hukumnya?
    Atau Nabi belum mewasiatkan kepada kita dan meninggalkan
    Dua hal yang berat kepada kalian, keluarganya dan Kitabullah?
    Selagi kalian belum mendekati Hari Akhir, maka kembalilah!
    Apa yang kalian pertimbangkan lagi
    Jika memang kalian orang gurun pasir?
    Lalu mereka lepas kendali, tak memperhatikan nasihatnya
    Hanya gigi dan anak panah saja sebagai jawaban

    Dialah Umar bin Sa’ad, pimpinan para pengkhianat yang mengerahkan pasukan untuk menemui keluarga Rasulullah saww: membunuh para lelakinya, menawan para wanitanya, dan menakut-nakuti anak-anaknya.

    Imam Husain bin ‘Ali al-Syahid as telah mengetahui niatnya, tetapi budi pekertinya selalu baik kepada setiap orang. Kita telah tahu bahwa dahulu ada seorang lelaki di dekatnya yang berkata, “Sesungguhnya kebaikan itu, apabila dilakukan oleh orang yang bukan ahlinya, maka akan sia-sia.”

    Lalu Imam Husain as berkata kepada lelaki itu, “Tidak demikian, akan tetapi kebaikan itu adalah seperti jatuhnya hujan; mengenai orang saleh dan orang durhaka.”

    Imam Husain as masih hidup beberapa tahun lamanya setelah mengucapkan perkataan itu, dan pada Hari Asyura beliau memanggil ‘Umar bin Sa’ad, yang lalu memenuhi panggilannya, padahal tidak suka mendatanginya. Lalu Sang Imam berkata, “Hai ‘Umar! Apakah engkau mengira engkau akan membunuhku, lalu engkau akan menguasai negeri Rayy dan Jurjan. Demi Allah, hal itu tidak berguna bagimu. Ini adalah sebuah janji yang tidak ada orang lain yang akan bahagia setelah aku mati, baik di dunia maupun di akhirat. Seakan-akan kepalaku berada di sebuah tempat yang dilempari oleh anak-anak di Kufah dan mereka menjadikannya sasaran.”

    Lalu ‘Umar bin Sa’ad pergi dari hadapan Imam Husain bin ‘Ali al-Syahid as dengan murka.

    Imam Husein bin ‘Ali al-Syahid as telah menasihatinya dan menyampaikan itu kepadanya. Dia beritahukan apa yang dia niatkan dan bagaimana keadaannya, serta apa yang akan terjadi padanya esok. Akan tetapi, nasihat yang indah itu tiada berguna bagi orang yang di hatinya telah terdapat kekafiran dan matanya telah tertutup akan Hari Akhir. Tiada lagi yang dipandangnya kecuali dunia; perasaannya telah mati, hatinya telah membeku. Bertindak sewenang-wenang hingga nuraninya menghilang karena sebuah keinginan yang tak diketahui benar atau tidaknya; yang tak bisa menahan diri untuk membunuh para kekasih Allah Swt dan orang-orang saleh; merendahkan kemuliaan.

    Padahal, Imam Husain bin ‘Ali telah memberitahukan kepadanya bahwa apa yang mereka harapkan tidak akan berhasil. ‘Umar bin Sa’ad pun yakin bahwa keturunan Rasulullah saww tidak pernah dan tidak akan pernah berdusta. Namun jiwa yang tamak takkan pernah berhenti walau sesaat; terus mengatur di dalam dirinya lalu kembali kepada hal terdahulu. Sementara itu, Imam Husain as dan para pengikutnya telah berdiri pada tujuan yang benar. Hal ini dilakukan: Yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(al-Anfal: 42)

    Nasihat
    Rasulullah saww bersabda, “Tanda-tanda pemberi nasihat ada empat: menghukumi sesuatu dengan kebenaran, mengungkapkan kebenaran dari dirinya sendiri, menyukai orang-orang seperti menyukai dirinya sendiri, dan tidak bersikap berlebihan kepada siapapun.”

    (Dikutip dari Buku “BERBAGAI KISAH DAN NASIHAT UNTUK JURU DAKWAH” Karya Syaikh Majid Nashir al-Zubaidi; Dâr al-Hâdî)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s