PENGANTIN SEHIDUP SEMATI

19 September 2006 dan 22 September 2006. Dua hari dukacita yang telah menginspirasi saya menulis sajak ini.

Seranjang Semakam

eternal love

Dia bukanlah Juliet
Wahai Romeo yang menenggak anggur keabadian
Buku ini kosong begitu engkau berhenti membaca
Desir angin Perak adalah kenangan, begitu pun kota-kota tempat kami disemai
Belaianmu adalah obat penawarnya

Dia bukanlah Sam Pek
Wahai Eng Tay yang mendayung menjadi kupu-kupu
Taman ini senyap begitu engkau berhenti menyanyi
Perpustakaan dan piano bagaikan lenyap dari lagu dan syair kami
Air matamu adalah api yang membakar hatinya

Dia bukanlah Qais Majnun
Wahai Laila yang setia menunggumu pulang
Ranjang ini sepi begitu engkau pergi
Panasnya Surabaya adalah dingin yang menggigit kulit
Senyummu adalah selimutnya

Dia bukanlah Shirin
Wahai Khusraw yang memacu kuda seperti terbang
Kamar ini sunyi begitu engkau berbaring di samping
Bulan madu terindah di pintu gerbang surga
Kecupanmu adalah mata airnya

Dia bukanlah Justinian
Wahai Theodora yang menahan derita penyakit
Kursi goyang ini lumpuh begitu engkau terbujur kaku
Haga Sophia kami adalah musholla hijau di Kutisari
Hembusan nafasmu adalah udara yang dihirupnya

Dia bukanlah Mumtaz
Wahai Shah Jahan yang menahan air mata
Rumah ini hampa begitu engkau berhenti menangis
Taj Mahal kami adalah makam yang masih basah dan berbunga
Salam terakhirmu adalah derai tawanya

Seranjang tidur berdua
Semakam terlelap berdua
Sepekan itu Tuhan memeluk mereka
Sepasang kekasih
Sehidup semati
Seperti semua dongeng Cinta yang abadi

Bojong Kulur, 2009
(Seribu hari mengenang alm. Mbah Koentjoro dan Mbah Soemarmi)

Selama ini saya hanya mengetahui kisah-kisah cinta abadi dari dongeng-dongeng maupun legenda sejarah seperti kisah cinta “Romeo and Juliet”nya Shakespeare, legenda cinta Arabnya “Laila-Majnun”, dongeng cinta dari Persia “Khusraw wa Shirin”, cerita cinta terkemuka dari China “Sampek-Engtay”, dan sejarah berdirinya Haga Sophia dan Taj Mahal, serta banyak lagi.

Namun, kisah terdekat dan paling nyata bagi saya adalah kisah cinta “Dik Mam dan Mas Kun”, mereka adalah kakek dan nenek yang telah melahirkan ibu saya.

Pada tanggal 5 November 1943, R.A Soemarmi Mertodisastro, 26 tahun, resmi dipersunting oleh Mas Koentjoro Sastrodarmodjo, 27 tahun.

R.A Soemarmi merupakan salah seorang putri priyayi Tuban pada waktu itu, lahir di Tuban, pada 30 Juni 1917 dan pernah menjadi guru musik.

Sementara itu, M. Koentjoro, seorang pegawai negeri, lahir di Ngawi, pada 3 November 1916. Sangat suka membaca, mencintai ilmu pengetahuan, terutama filsafat, sastra dan budaya Jawa.

Pada tahun 1999, misalnya, mbah saya ini sangat gembira menyambut kedatangan rombongan mahasiswa fakultas sastra Unpad dan berdiskusi dengan para mahasiswa dan dosen yang ikut.

Pada tanggal 19 September 2006, R.A Soemarmi wafat di atas ranjang, di samping M. Koentjoro, suaminya tercinta yang juga sedang terbaring lemah. Hanya mampu meneteskan air mata mengucapkan selamat berpisah. Tiga hari kemudian, tanggal 22 September 2006, tak kuasa menanggung kesepian dan kesedihan, M. Koentjoro menyusul kekasihnya ke alam baka.

Mereka berdua telah dikaruniai 8 orang anak, 4 orang anak laki-laki, 4 anak orang perempuan, serta 8 orang menantu, dan 16 orang cucu kandung. Sekeluarga berpindah-randah demi tugas M. Koentjoro dari kota ke kota, namun terakhir berlabuh di Surabaya.

Cukup lama berdiam di Jalan Perak Barat (sekarang menjadi Gedung PT Tanto), kemudian menghabiskan masa pensiun dan menghembuskan nafas terakhir di satu ranjang di kamar mereka di Kutisari.

Sepanjang hidup bersama sebagai pengantin, mereka berdua telah mengarungi masa-masa sulit, seperti kesulitan ekonomi, fitnah yang sempat menyebabkan kepala keluarga dipenjara, dan banyak lagi. Mudah-mudahan, sebagai generasi muda, kita bisa mengambil banyak pelajaran dari kisah hidup mereka.

Mudah-mudahan peristiwa wafatnya sepasang pengantin yang telah mengarungi hidup bersama-sama selama hampir 63 tahun ini bisa mengilhami kita semua, terutama semua pasangan suami-istri pada zaman edan ini, zaman ketika perceraian semakin sering terjadi, dan orang-orang kehilangan arah memahami makna cinta.

(Dalam kehidupan nyata, akhir cerita: “Mereka hidup bahagia sampai akhir hayat” itu masih ada!)

Amin.

Salam Cinta!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s