Semoga Berbahagia

“Kebahagiaan adalah perasaan gembira
yang berasal dari dalam hati, bukan merupakan
kenikmatan yang dirasakan oleh jasmani.”
(Master Cheng Yen, pendiri organisasi relawan sosial Tzu Chi)

Kira-kira delapan tahun yang lalu, seorang sahabat saya mengatakan bahwa dia tidak merasa bahagia. Dia mengatakan bahwa dia tidak tahu apa artinya bahagia. Kalau saya mengamati dirinya, sahabat saya bukanlah tipe orang pemurung, maupun pemarah. Dia bahkan dikenal periang, supel, rendah hati dan ramah. Dia juga bukan berasal dari keluarga tidak mampu dan bukan pula dari keluarga berantakan. Ayahnya adalah seorang pejabat dan ibunya adalah seorang guru. Dari luar, saya memandang keluarganya cukup rukun dan harmonis. Selama beberapa tahun, dia dan tiga orang saudaranya hidup serumah dan jauh dari orangtuanya untuk sama-sama kuliah. Tidak pernah saya mendengar mereka memiliki konflik. Jauh di dalam hati, pernah timbul perasaan iri akan keluarganya yang berada dan memiliki saudara yang lengkap (ada laki-laki dan perempuan, sementara saya hanya punya saudara-saudara perempuan)

Maka, sungguh merupakan sebuah pertanyaan besar bagi saya, mengapa dia merasa tidak bahagia dan mengapa dia bertanya-tanya apa artinya kebahagiaan?

Saya sendiri pada waktu itu menganggap ada waktunya saya merasa bahagia, dan pada waktu yang lain saya tidak merasa bahagia – bergantung pada situasi dan kondisi yang saya alami.

Ayah saya mempunyai sebuah buku yang saya pegang sejak saya masih remaja berjudul “The Language of Happiness” berisi kutipan kata-kata para tokoh terkemuka tentang kebahagiaan.

smile

Buku “The Language of Happiness” tersebut sering menjadi inspirasi bagi saya untuk merenungi kembali makna kebahagiaan secara universal, dari beragam sudut pandang.

Rupa-rupanya ucapan Master Cheng Yen yang saya kutip kali ini selaras dan sejalan dengan ucapan Hellen Keller dalam buku “The Language of Happiness” itu.

Happiness cannot come from without.
It must come from within.
It is not what we see and touch or that which others do for us
which makes us happy; it is that which we think and feel and do,
first for the other fellow and then for ourselves.

(Kebahagiaan tidak mungkin berasal dari luar. Ia mesti berasal dari dalam.
Ia tidak bisa dilihat dan disentuh atau apa yang orang lain lakukan untuk kita yang membuat kita bahagia; ia adalah apa yang kita pikirkan, rasakan dan lakukan,
mula-mula bagi orang lain dan kemudian bagi diri kita sendiri).

Bahkan, Democritus yang hidup lebih dulu lagi daripada Master Cheng Yen dan Hellen Keller mengungkapkan hal senada mengenai kebahagiaan.


Happiness resides not in possessions and not in gold, the feeling of happiness dwells in the soul.”
(Kebahagiaan tidak wujud dalam hal-hal yang dimiliki dan tidak pula wujud dalam emas <baca: harta benda>, namun perasaan bahagia itu wujud dalam jiwa).

Saya bukanlah psikolog, bukan psikiater, bahkan bukan pula seorang mentor atau motivator. Tulisan saya mengenai “bahagia” kali ini sungguh-sungguh murni dari sudut pandang pribadi saya belaka. Saya tertarik membahasnya karena kutipan tersebut muncul tepat pada bulan ketika ibu saya melahirkan saya tiga puluh tahun silam. Betapa waktu bergerak begitu cepat dan saya membaca kata-kata Master dengan segera merenunginya. Apakah saya bahagia? Apakah saya mengerti arti kebahagiaan?

Selama tiga puluh tahun saya hidup – seperti manusia-manusia lain di muka bumi ini – suka dan dukanya kehidupan telah saya rasakan, walau mungkin belum semuanya. Pernah pada satu titik kehidupan, saya menderita depresi.

Namun, pengalaman seperti mengikuti konseling kejiwaan adalah sesuatu yang amat berharga. Paling tidak, saya sekarang jadi mengerti mengapa di dunia banyak orang harus mendekam di rumah sakit jiwa. Kadang-kadang, dengan jalan pikiran saya yang selalu belokkan dan saya buat seeksentrik mungkin, saya merasa justru hidup saya yang tidak selalu lurus-lurus saja itu seperti mengikuti kuliah kehidupan.

Ketika Master Cheng Yen berkata bahwa bahagia itu adalah perasaan gembira di dalam hati, kata-kata sesederhana itu justru yang paling tepat bagi saya. Ternyata, jika hati sedang diliputi perasaan bersedih, marah, kecewa, dsb, memanglah tidak mungkin merasakan kebahagiaan itu.

Tatkala Master Cheng Yen meneruskan pendapat bijaksananya mengenai kebahagiaan, beliau menegaskan bahwa kebahagiaan bukan merupakan kenikmatan yang dirasakan oleh jasmani. Subhanallah (Maha Suci Allah).

Sebagian orang, termasuk saya, seringkali menganggap kebahagiaan tidak akan lagi dirasakan apabila rumah, harta benda, keluarga, pangkat, uang, teman-teman, bahkan kaki, mata, tangan dan nyawa sendiri hilang melayang. Padahal semua itu sifatnya hanya dirasakan oleh jasmani belaka.

Seharusnya saya meneladani apa yang diucapkan oleh Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib tatkala diancam hendak dibunuh, “

Kematian adalah kebahagiaan bagiku dan hidup bersama orang-orang zalim adalah kesengsaraan…”

Betapa hal-hal jasmaniah adalah hal semu dan kita semestinya tidak boleh terikat oleh kenikmatan yang dirasakan oleh jasmani kita.

Mulla Sadra dalam konsepnya mengenai “Hukum Ketiadaan” antara lain mengingatkan kepada kita tentang kehidupan setelah kematian kita nanti dari alam dunia. Menurut beliau, adanya hukum

“tidak mungkin akan kembalinya ketiadaan”

atau

“tidak mungkin kembali sesuatu yang tidak ada dari ketiadaan”

menunjukkan bahwa wujud hakiki kita ini sebenarnya tidak pernah mati atau tidak pernah mengalami fase ketiadaan. Wujud hakiki ini bukanlah tubuh jasmani dan fisik kita.

Mudahnya, untuk memahami konsep rumit Mulla Sadra tersebut, sebenarnya kalau saja kita mau menyadari bahwa tatkala kita sungguh-sungguh mengenali diri ini, maka kita pasti akan menganggap tubuh jasmani dan apa-apa yang secara fisik kita dapatkan dari panca indra kita semuanya adalah semu belaka, hanyalah tempelan, dan bukan hakikat sejati dari segala sesuatu dalam kehidupan ini. Lalu, mengapa kita menyandarkan kebahagiaan pada hakikat palsu dan wujud yang semu ini?

Ucapan Husein bin Ali lahir dari tauladan ayahnya yang justru menyatakan “memperoleh kemenangan dan kebahagiaan” di pengujung akhir hayatnya yang tragis – ketika seseorang telah berhasil membunuhnya. Sabda Imam Ali bin Abi Thalib yang lain,

Kesedihan adalah separuh ketuaan

merupakan makna lain dari kebahagiaan itu sendiri. Apabila kita tidak merasa bahagia dan terus-menerus merasa dirundung kesedihan, maka kita seperti menghabiskan separuh dari hidup kita dengan sia-sia hanya untuk mencari-cari dan mereka-reka apakah kebahagiaan itu. Untuk apa jauh-jauh pergi dan mencarinya, padahal kebahagiaan itu ada dalam diri kita sendiri.

Mungkin kira-kira begitu semua ini maksudnya. Memang sangat sulit untuk memaknai kebahagiaan itu seperti mereka. Saya sendiri masih belajar untuk bisa memperoleh pencerahan seperti mereka dalam menggapai makna hakiki “kebahagiaan.”

Filsuf Aristotle berkata, “Happines itself is sufficient excuse. Trust thyself.”

(Kebahagiaan itu sendiri adalah alasan yang cukup. Percayalah pada dirimu sendiri.”)

Maksudnya, bagi saya, adalah baiklah, marilah kita yakin dan percaya diri bahwa kita bisa menemukan kebahagiaan itu – meraih kebahagiaan hakiki – sebab kebahagiaan itu adalah alasan utama kita untuk terus hidup di dunia ini. Bahkan, bukankah kebahagiaan pula yang kita cita-citakan dalam kehidupan setelah alam fana ini? Mudah-mudahan kita semua bisa berbahagia baik di alam ini dan alam setelah ini.

Amitabha. Semoga berbahagia. Amiin.

Sumber kata-kata mutiara:
Buletin Tzu Chi Indonesia edisi September 2009
The Language of Happiness, Colorado: Blue Mountain Press, 1979.

Mengawinkan Anak Sebelum Lahir Jakarta: Lentera, 2007.
Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Jakarta: Al Huda, 2009

One response to “Semoga Berbahagia

  1. ckup menari dan ringan, selalu semangat utk nulis ya dan jangan lupa utk sll share otre…SMANGATTT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s