Mengapa Harus Ali?

Sosok Ali juga tidak hanya ditampilkan sebagai pribadi yang saleh dan berjiwa ksatria, tetapi juga digambarkan sebagai sosok yang mumpuni dalam kesusastraan. Khotbah tanpa titik, khotbah tanpa alif, dan kata-kata mutiara Ali yang sangat indah dan bernilai moral tinggi menjadi catatan istimewa buku karya Kermani ini. Kata-kata mutiara tersebut dapat dikutip untuk menjadi renungan harian. Siapa pun dapat merasakan nilai-nilai universal  dalam kata-kata mutiara itu.

Judul Buku : Kecuali Ali

Judul Asli : Ali Oyene-e-Izadnemo

Penulis: Abbas Rais Kermani

Penerjemah: Musa Shahab dan M. Ilyas

Penerbit: Al Huda, Juli 2009

Tebal : 398 halaman

Oleh : Gayatri Wedotami WM.

Tanda-tanda perpecahan umat Islam sebenarnya telah mulai tampak apabila kita menengok kembali sejarah umat Islam ketika Nabi Muhammad masih hidup di tengah-tengah masyarakat jazirah Arab. Paling tidak ada empat cikal bakal yang mengarah kepada asumsi bahwa sejak semula pun umat Islam tidak pernah benar-benar bersatu, kecuali dengan komando dan campur tangan Nabi Muhammad. Pertama, adanya penggunaan istilah yang mengelompokkan orang-orang Muslim sebagai kaum Anshar dan kaum Muhajirrin.  Kedua, adanya penggunaan istilah orang Arab dan Ajam (bukan Arab). Ketiga, ikatan kesukuan masih sangat kuat, yang menimbulkan loyalitas lebih kuat daripada agamanya bagi seorang Arab pada masa itu. Keempat, adanya lingkaran-lingkaran persahabatan di sekeliling Nabi Muhammad, atau kelompok-kelompok sahabat yang satu sama lain sering kali bergesek kepentingan atau pun berbeda pendapat. Misalnya, dikhabarkan bahwa kelompok perkawanan Abu Bakar adalah Umar, Usman dll. Kemudian, kelompok persahabatan Ali adalah Salman al-Farisi, Abu Dzar al-Ghiffari, dll. Serta beberapa kelompok lain.

Pada akhirnya, tampaknya, justru tanda keempatlah yang mula-mula memicu konflik di kalangan umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad. Dengan wafatnya sang nabi, maka umat Islam kehilangan satu tali komando, lalu beralih ke tangan para ketua kelompok yang memiliki pendukung setia masing-masing. Maka, tidak mengherankan pula apabila Abu Bakar menjadi khalifah pertama sebagai pengganti Nabi Muhammad, kelompok-kelompok lain merasa tidak puas hati. Di titik sejarah inilah umat Islam telah menampilkan perpecahannya dengan jelas. Mula-mula yang muncul di arena konflik adalah kelompok pendukung Abu Bakar dengan kelompok pendukung Ali. Kemudian, muncul kelompok yang memisahkan diri yaitu Khawarij. Maka, perpecahan itu semakin kentara seperti cermin yang retak seribu setelah Tragedi Karbala terjadi. Pada sekitar abad ini bangunan umat Islam menjadi semakin lengkap karena persinggungannya dengan berbagai ajaran dan bangsa, yaitu lahirnya berbagai mazhab teologi. Ditambah lagi, karena semakin jauh dari masa hidup Nabi Muhammad, umat Islam memerlukan bimbingan dalam melaksanakan ritual dan hukum-hukum Islam itu sendiri. Maka, muncullah berbagai mazhab fikih.

Pada awalnya istilah Sunni dan Syi’ah adalah semata-mata untuk membedakan golongan Muslim yang mendukung kepemimpinan Abu Bakar dengan pengikut Ali. Yang pertama menganggap Islam berlandaskan pada AlQur’an dan sunnah Nabi. Yang kedua menganggap Islam berlandaskan pada AlQur’an dan ittrah ahlul bayt (sunnah yang diriwayatkan melalui keluarga Nabi – Ali, Fatimah, Hasan dan Husein). Para pendukung kekhalifahan Abu Bakar kemudian dikenal sebagai kaum Sunni dan menjadi kokoh dengan landasan teologi yang cenderung kepada paham jabbariyah ala Asy’ariyyah diikuti dengan munculnya empat mazhab fikih utama, yakni Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali. Sementara itu bangunan Syi’ah, kaum pengikut Ali, menjadi semakin mapan dengan teologi yang mengawinkan paham kebebasan mutlak Mu’tazilah dengan paham Asy’ariyyah, disertai pula dengan mazhab fikih untuk membedakannya dari kaum Sunni, yaitu mazhab Ja’fari. Namun bangunan-bangunan tersebut bukan potret utuh Sunni maupun Syiah sebab di dalam kedua mazhab besar tersebut masing-masing terpecah lagi menjadi berbagai aliran.

Meskipun tidak diketahui dengan pasti jumlahnya, mayoritas umat Muslim di Indonesia adalah pengikut Sunni. Sisanya adalah penganut Syiah dan Wahabbi. Saya merasa perlu menambah kelompok ketiga, karena berdasarkan doktrin teologi, penganut Wahabbi banyak berbeda dari Sunni, apalagi Syiah. Para pengamat selalu menyatakan bahwa sebagian besar pengikut Sunni adalah penganut mazhab fikih Imam Syafi’i, kendati hal tersebut agak sulit dibuktikan hari ini dengan menjamurnya jawaban-jawaban fikih dari keempat imam mazhab Sunni dari para pemuka agama.

Bagi mayoritas umat Muslim Indonesia yang merupakan kaum Sunni, pertanyaan terbesar kepada kaum Syi’ah adalah, mengapa bagi mereka hanya Ali bin Abi Thalib, menantu sekaligus keponakan Nabi Muhammad, sebagai pengganti Nabi Muhammad yang paling layak? Mengapa mereka menolak kekhalifahan sebelum Ali dan sesudahnya – yaitu seperti Dinasti Umayyah dan Abbasiyah?

Ideologi Politik dan Teologi

Berbekal hampir 260 referensi, kebanyakan dari sumber-sumber Syi’ah, Abbas Rais Kermani berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam buku yang di-Indonesia-kan menjadi “Kecuali Ali” ini. Dengan bahasa ilmiah dan santun, Kermani berusaha membela keyakinan yang dianutnya dengan menggambarkan keunggulan-keunggulan yang tidak dimiliki sahabat Nabi Muhammad manapun, kecuali Ali seorang. Bahkan, dengan bangga, Kermani menyatakan bahwa Ali telah menginspirasi banyak cendekiawan dan negarawan di dunia Barat, termasuk Napoleon Bonaparte.

Para penganut Syi’ah tidak bisa dilepaskan dari kaitannya dengan keyakinan mistis dan sejarahnya yang berpangkal pada kisah hidup Ali. Kermani menggambarkannya dengan singkat namun lengkap pada bagian pertama dan kedua untuk mengantar pembaca ke alam ideologi politik dan teologi kaum Syi’ah. Namun, dalam setiap bab mengenai keagungan Ali, Kermani menegaskan bahwa kedudukan Ali tetap di bawah Nabi Muhammad dan Ali adalah pembela ajaran tauhid yang patut diikuti. Hal ini agaknya perlu ia sampaikan demi menjawab tuduhan kepada kaum Syi’ah yang dianggap menyekutukan Tuhan dan melebihkan Ali daripada Muhammad, bahkan menuhankan Ali.

Dari keterangan Kermani mengenai pandangan mistis kaum Syi’ah terhadap Ali, kita akan mendapati bahwa ideologi politik kaum Syi’ah tidak bersandar pada demokrasi maupun monarki, melainkan pada teokrasi. Kaum Syi’ah berpegang pada hadis Ghadir Khum dalam mendukung kepemimpinan Ali, karena pada saat itulah diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad menunjuk pengganti beliau adalah Ali. Beberapa hari kemudian Nabi Muhammad meninggal dunia. Bagi para pendukung Ali, hadis ini bukan semata-mata persoalan kekuasaan. Kermani menyatakan makna imam atau khalifah selain mengurus pemerintahan dan negara, tetapi juga menjadi tempat rujukan agama, menjadi teladan dalam melakukan amal ibadah, serta menjadi hakim dalam peradilan (Bagian IV, Bab 1). Sementara khalifah yang kita kenal saat ini hanya sebagai pemimpin negara dan pemerintah, sedangkan tempat rujukan agama dan hakim dalam peradilan diserahkan kepada pihak lain.

Kermani mengingatkan kepada pembaca mengenai kisah-kisah pelanggaran perjanjian kaum Yahudi terhadap Nabi Musa dan kaum Kristen terhadap Nabi Isa untuk membandingkannya dengan perjanjian kaum Islam dengan Nabi Muhammad pada waktu Ghadir Khum yang kemudian dilanggar. Kermani pun mengungkap perpecahan dalam tiga umat tersebut yang berujung pada kesimpulan bahwa hanya satu golongan (dalam setiap umat) yang akan diselamatkan Tuhan (Bagian IV, Bab 2-3). Ini adalah klaim yang lazim disampaikan demi meyakinkan pembaca tentang aliran agama yang sedang disampaikan.

Kemapanan sebuah aliran agama dapat dilihat dari teologi yang diusungnya, karena secara garis besar teologi bertujuan untuk menjawab berbagai persoalan dan membela keyakinan yang dianut. Dengan bukunya, Kermani meletakkan Ali sebagai muara dari teologi atau doktrin-doktrin dan akidah-akidah yang dianut oleh kaum Syi’ah. Para pembaca awam seperti saya segera dapat mengenali perbedaan Syi’ah dengan Sunni dari penjelasan Kermani pada bab keenam mengenai Syi’ah dan Tasyayyu. Rukun iman bagi kaum Syi’ah sedikit berbeda dengan kaum Sunni yaitu dengan tambahan iman atas imamah yaitu pengganti keimaman Nabi Muhammad adalah 12 orang keturunannya, diawali oleh Ali. Kemudian, pemaparan mengenai doktrin-doktrin khas Syi’ah lain cukup menolong para pembaca yang belum mengenal sama sekali perbedaan Syi’ah dengan Sunni untuk mengetahui arti istilah taqiyah, badihi, imamah, keadilan Illahi, kesucian nabi dan lain-lain dari sumber Syi’ah sendiri (Bagian  V).

Di samping itu, seperti lazimnya buku-buku pembela suatu aliran agama, Kermani menjawab berbagai sanggahan dan serangan dari kaum Sunni dan Wahabbi mengenai penolakan mereka atas sahabat-sahabat Nabi tertentu dan keyakinan mereka atas keagungan pribadi Ali yang tidak terdapat pada sahabat-sahabat Nabi lainnya. Kritikan tajam yang disampaikan cukup santun, menunjukkan kedewasaan pengarangnya. (Bagian III).

Karakter kepahlawanan Ali diangkat dengan ringkas dan padat dalam empat bagian mengenai keikutsertaan Ali dalam perang Jamal, Shiffin dan Nahrawan, serta kehidupan Ali yang berakhir di tangan seorang pembunuh (Bagian VIII, IX, X dan XI). Bagian-bagian tersebut secara jeli dipisahkan dari keikutsertaan Ali dalam perang-perang semasa Nabi Muhammad masih hidup untuk menunjukkan Ali juga melakukan perlawanan, tetapi bukan beliau yang memulainya. Kebesaran hati  Ali dan visinya menatap masa depan umat Islam tergambar dalam memilih jalan perdamaian.

Seperti lazimnya para pengikut Syi’ah, Kermani mengklaim bahwa Muawiyah – pendiri dinasti Umayah – melakukan kejahatan besar dengan menjuluki kroni-kroninya sebagai “rekan-rekan kriminal” Muawiyah. Namun, di bab yang lain Kermani mengangkat kisah Muawiyah menangisi kematian Ali. Maka, sosok Ali tampil menjadi sosok yang disegani dan dihormati, bahkan oleh musuh-musuhnya.

Sosok Ali juga tidak hanya ditampilkan sebagai pribadi yang saleh dan berjiwa ksatria, tetapi juga digambarkan sebagai sosok yang mumpuni dalam kesusastraan. Khotbah tanpa titik, khotbah tanpa alif, dan kata-kata mutiara Ali yang sangat indah dan bernilai moral tinggi menjadi catatan istimewa buku karya Kermani ini. Kata-kata mutiara tersebut dapat dikutip untuk menjadi renungan harian. Siapa pun dapat merasakan nilai-nilai universal  dalam kata-kata mutiara itu.

Aroma dan nuansa Syiah semakin terasa apabila pembaca memasuki tiga bab terakhir dalam buku ini. Para pembaca Muslim di Indonesia yang akrab dengan budaya menziarahi makam para wali, bertawasul, serta keyakinan akan karomah para wali tidak akan terkejut dengan tradisi serupa yang ada di kalangan kaum Syi’ah. Dari buku ini, dapat dikenali perbedaannya dari budaya kaum Muslim di Indonesia; yakni ziarah dan tawassul yang lebih diutamakan kepada Ali, para imam penerus keimaman Ali, keluarga besar Ali (termasuk para ibu dan istri), serta kisah-kisah mengenai mukjizat-mukjizat yang diperoleh Ali serta para penerusnya seperti Husein dan Ali Zainal Abidin. Kemudian, Kermani mempromosikan tempat-tempat yang layak diziarahi, terutama di wilayah Irak, Suriah dan Mekkah. Kermani menggambarkan sejumlah makam suci seperti menampilkan potret makam-makam itu kepada kita.

Sarat Informasi, Tetapi Tidak Fokus

Meskipun mayoritas penduduk di Indonesia adalah pemeluk Muslim, namun karena sebagian adalah pengikut Sunni, masih tersisa banyak umat Muslim, yang kurang mengenal sosok Ali, apalagi memahami sebab-sebab kaum Syi’ah mengutamakan Ali daripada para sahabat lainnya. Terbitnya buku terjemahan ini bertepatan dengan milad (hari ulang tahun) Ali dan nuansa pesta pora demokrasi di Indonesia (maupun Iran) pada bulan Juli lalu, sehingga momentum yang tepat untuk menjadi bahan renungan bagi para pemimpin. Kaum Sunni sekalipun mengagumi Ali. Beberapa poster kampanye calon presiden beberapa waktu lalu bahkan mengutip kata-kata mutiara dari Ali bin Abi Thalib. Namun, kadar kecintaan kaum Syi’ah pada Ali barangkali lebih besar daripada penganut mazhab lainnya.

Karena sarat informasi, buku ini layak dibaca bagi siapa saja yang ingin mengenal Ali dari sudut pandang orang Syi’ah serta untuk mengenal lebih dekat ideologi dan teologi kaum Syiah.. Di samping itu, buku ini perlu pula dibaca bagi siapa saja yang menentang keras teologi dan ideologi Syi’ah sebab Kermani berusaha untuk menjawab setiap sanggahan dan tentangan itu dengan penjelasannya sendiri maupun penafsirannya dari sudut pandang Al-Quran, hadis dan riwayat-riwayat yang mendukung keunggulan sosok Ali beserta para penerusnya.

Sebelum membaca buku ini, saya mengira saya akan disuguhkan dengan informasi yang sangat lengkap hanya mengenai sosok Ali, baik kisah hidupnya, pendukung-pendukung serta pembelaan terhadap Ali dan pengikutnya. Namun, sayangnya, bagian-bagian mengenai tempat-tempat suci yang perlu diziarahi telah memakan cukup banyak tempat di dalam buku ini. Kecuali informasi tentang makam Ali, menurut saya, ada baiknya bagian tersebut dijadikan buku tersendiri.

Selain itu, karena kebanyakan pembaca di Indonesia bukanlah penganut Syi’ah, perlu dicatat bahwa masih banyak istilah-istilah khas Syi’ah yang seharusnya bisa diberi catatan khusus oleh penyunting untuk diterangkan dengan lebih jelas. Sebenarnya, bahasa penerjemahan buku ini cukup baik, tetapi penyuntingannya masih kurang memuaskan. Dalam kasus lain, seperti munculnya khotbah tanpa titik, para pembaca yang tidak mengerti bahasa Arab tidak akan paham apa maksud titik di sini, dan apa urgensinya jika tidak ada titik dalam khotbah berbahasa Arab? Bagi para pembaca yang tidak tahu bahasa Arab mungkin akan bertanya-tanya, bagaimana mungkin sebuah kalimat tanpa titik? Ataukah titik yang dimaksud adalah tanda baca lain yang hanya ada dalam bahasa Arab, atau bagaimana? Begitu pula dalam kasus khotbah tanpa alif. Tak ada keterangan apa pentingnya sebuah alif dalam kalimat berbahasa Arab.

Ulasan Kermani sebenarnya cukup baik mengenai ketokohan Ali, termasuk juga menuliskan nama-nama keluarga dan pendukung Ali bin Abi Thalib. Namun, mungkin lebih baik lagi jika para pembaca awam mendapat keterangan singkat mengenai istri-istri Ali sesudah Fatimah binti Muhammad dan siapa saja putranya yang berasal dari istri selain Fatimah. Dengan demikian, judul “Kecuali Ali” (atau “Hanya Ali”) menjadi benar-benar tepat sasaran.

Namun, yang menjadi catatan kritis saya adalah sayang sekali buku ini tidak memaparkan dengan jelas konsep bimbingan Illahi atau imamah yang menjadi ciri khas kaum pengikut Ali atau para penganut Syi’ah. Padahal muara dari dukungan terhadap keimaman Ali terletak pada keyakinan ini, bahwa mereka bersandar pada hadis Ghadir Khum. Bagi Syi’ah, pengganti Nabi Muhammad, walaupun bukan berstatus nabi, didasarkan pada wahyu Illahi, begitu pula imam-imam penggantinya. Meskipun para imam berasal dari keturunan Nabi Muhammad dari garis Fatimah, tetapi bukan semua keturunannya layak menjadi pengganti beliau. Karena itu, menarik apabila buku ini juga membahas ideologi politik teokrasi kaum Syi’ah yang berlandaskan pada nasab (keturunan) yang maksum (disucikan Allah) yang sedikit diungkit dalam bagian “Walayah dan Imamah”.

Meskipun tidak fokus, buku ini adalah karya gemilang Kermani karena sebelum ini buku-buku tentang Syi’ah hanya berfokus pada pada satu imamnya, terutama Ali dan Husein, tetapi tidak menerangkan banyak hal tentang Syi’ah itu sendiri kecuali dalam buku-buku khusus mengenai akidah, ibadah atau fikih Syi’ah. Dengan hadirnya buku ini ke tengah pembaca Indonesia, terutama ke tengah-tengah kaum Muslim Sunni, diharapkan akan muncul jawaban atau bantahan atau dukungan terhadap karya Kermani ini dalam bentuk buku (pula). Cara yang lebih beradab daripada membakar atau merusak masjid suatu golongan yang dianggap sesat. Dengan begitu, dinamika intelektual di Indonesia akan semakin berkembang dan terus lestari. Semoga.

11 responses to “Mengapa Harus Ali?

  1. aminullah muchrim

    well-mapped bgt dh…asumsi awal perpecahan islam zaman nabi, trus alasan dasar knapa mesti Ali nya cukup menginspirasi ketidaksempurnaan pengetahuan pembaca spt saya…outstanding

  2. analisis yang cukup komprehensive. Selamat.

  3. Terimakasih

  4. Saya merasa tersanjung atas resensi buku yang dikeluarkan oleh Penerbit Al-Huda. Adakah buku-buku lain yang sudah diresensi? Izinkan saya mengkopi resensi ini.

  5. gayatri wedotami

    Terimakasih! Tentu saja boleh dikopi, tapi jangan lupa ya cantumkan nama peresensi-nya hehehe…

  6. BRAVO, DR DULU SAYA selalu kagum dengan sahabat saya yang satu ini, beliau bagaikan matahari yang sinarnya terus benderang, ilmunya tak pernah putus-putus……subhanallah

  7. gayatri wedotami

    terimakasih…saya masihbelajar kok t’ Ren.

  8. terima kasih mbak gayatri
    smoga kjelasn sejarah yg anda ungkpkan akan bisa mmbuka ksdaran para pmbaca terutma saya yg lagi gandrung pada kbenaran sejarah,,

  9. kalo mau download gratis, punya alamatnya nggak ?

  10. untuk lebih detail tentang imam ali as bisa mengunjungi website kami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s