THE MONTH OF LOVE

THE MONTH OF LOVE

“Membayangkan masa yang akan datang adalah angan-angan;

Mengenang masa lalu hanya membuang-buang waktu;

Lindungilah cinta kasih yang ada dalam hati;

Jalani kewajiban yang harus dipenuhi saat ini”

Master Cheng Yen

(dikutip dari Buletin Tzu Chi no.49/Agustus 2009)

Bagi umat Muslim, bulan penuh berkah yang dinanti-nanti, bulan Ramadhan, telah tiba. Namun, bulan Ramadhan seharusnya bukan hanya bulan berkah bagi umat Islam. Sebagai Muslim, saya telah diajarkan bahwa kewajiban berpuasa yang jatuh setiap bulan kesembilan pada tahun/kalender lunar merupakan kewajiban yang telah ada sejak sebelum zaman Nabi Muhammad.

Setelah membaca karya-karya Thomas McElwain, misalnya, di dalam Alkitab kewajiban berpuasa kepada bani Israil juga jatuh pada bulan kesembilan kalender mereka.

Inilah bulan penuh cinta kasih. Baik cinta kasih secara vertikal maupun horisontal. Cinta kasih dari Tuhan. Cinta kasih manusia kepada Tuhan. Cinta kasih kepada sesama manusia. Cinta kasih kepada sesama makhluk hidup dan alam semesta. Dan, tentulah, cinta kasih kepada diri sendiri – menghargai hidup yang diberikan Sang Pencipta dan mensyukuri yang telah kita miliki.

Seluruh umat Muslim tanpa kecuali – Sunni atau Syiah, Wahabbi atau Sufi, Ahmadiyah atau Kejawen – semuanya bisa merasakan berkah cinta kasih Ramadhan ini. Inilah bulan tatkala peluit “Fastabiqul khairat” seakan-akan ditiup para malaikat, sehingga siapa saja berkesempatan untuk

“berlomba-lomba dalam kebaikan.”

Mengapa saya mengutip kata perenungan seorang biksuni? Terserah saya mau dianggap “pluralis” atau apapun. Tapi kata perenungan beliau sungguh universal dan mengena di hati saya.

Kata perenungan itu pertama-tama, menyatakan

“Membayangkan masa yang akan datang adalah angan-angan”.

Maksudnya, bagi saya, tentu hanya jika kita membayangkan. Bukan “merencanakan”. Sebab kedua kata itu memiliki makna yang berbeda. Jadi, daripada hanya sekadar “membayangkan”, lebih baik kita “merencanakan.” Pada bulan Ramadhan, konon banyak doa yang akan dikabulkan Tuhan. Maka, rencanakanlah sesuatu, sebab apa yang kita rencanakan, jika kita sampaikan kepada-Nya dengan sungguh-sungguh, insyaAllah Tuhan pasti akan memberikan apa yang terbaik bagi kita.

Pada kata perenungan yang lain, Master Cheng Yen pun sempat mengutip kata-kata Siddharta Gautama kepada seorang pertapa yang memohon cara untuk mendapat pencerahan,

“Letakkan permohonan itu di hati Anda.”

Maksudnya, permohonan itu mestilah benar-benar tulus. Kata perenungan itu seperti keyakinan umat Islam bahwa

“Allah berbuat sesuai sangkaan hamba-Nya” artinya doa kita insyaAllah dikabulkan jika kita benar-benar yakin Allah akan mengabulkannya. Berprasangka baik pada Allah.

Kalimat kedua dalam kata perenungan itu,

“Mengenang masa lalu hanya membuang-buang waktu,”

bagi saya, sama sekali bukan berarti sesuatu yang berlawanan dari prinsip-prinsip saya selama ini mengenai pentingnya sejarah atau masa lalu dalam kehidupan kita. Mengenang lebih mudah daripada mengambil hikmah atau ibrah.

Sehari-hari kita mungkin pernah mengenang masa muda kita – pacar pertama kita, guru yang kita benci, atau hukuman terburuk dari orangtua kita – tapi itu semua hanya sambil lalu dan lewat begitu saja tanpa punya makna sama sekali. Jadi, apa gunanya?

Oleh karena itu, masa lalu bukanlah untuk dikenang. Masa lalu memberikan pelajaran berharga bagi kita semua bahwa waktu sangat berharga. Sebab, mengenang masa lalu bisa menimbulkan kesedihan, sementara Imam Ali b. Abi Thalib berkata,

“Kesedihan adalah separuh ketuaan.”

Bisa pula menimbulkan kesenangan sesaat, menyebabkan kita malas berbuat sesuatu karena keenakan membayangkannya terus, sementara pepatah Tibet mengatakan,

“Penyakit manusia yang paling berbahaya adalah malas.”

Sungguh bagus sajak singkat Rahman Arge yang menafsirkan surah “Al Ashr” bahwa waktu tidak menyapa, dan lewat begitu saja dengan cepat sehingga “membuat kita” rugi. Sekiranya Master Cheng Yen pernah membaca surah “Al Ashr” ini, beliau pasti mencintai surah ini.

Sementara itu, mempelajari sejarah dan merenungkan hikmah/ibrahnya, seperti misalnya firman Allah dalam Q.S Hud ayat 100-103, berbeda daripada sekedar mengenang. Kalau sudah berada di tahap merenungkannya, jangan sampai kita terjatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Bangkit dan bangkit lagi dari kegagalan demi kegagalan yang telah dialami oleh banyak orang sukses di dunia, misalnya, merupakan hikmah berharga dari tahap ini.

leh sebab itu, di sekolah-sekolah, saya usulkan, kita jangan lagi sekadar mengenang para pahlawan. Apa gunanya hanya tahu nama-nama mereka, tetapi tidak tahu apa yang telah mereka perjuangkan, tidak bisa mengikuti jejak langkah mereka dan lebih buruk lagi tidak bisa mempertahankan apa yang telah mereka berhasil raih bagi kita?

Kalimat ketiga dalam kata perenungan itu,

“Lindungilah cinta kasih yang ada dalam hati”

adalah kata-kata yang sangat “romantis.” Kata-kata ini mencakup segalanya – kesabaran, ketabahan, kerendahan hati, memaafkan, memberikan, keikhlasan, dan sebagainya.

Cinta kasih itulah jalan menuju Nirvana dan melepaskan diri dari Samsara – bagi saya seorang Muslim, inilah apa yang dikatakan Rumi bahwa

 “Buatlah jalan kita menyenangkan/seindah sebuah taman, dan buatlah Dia, Oh Yang Maha Esa, sebagai tujuan kita!”

Cinta kasih itulah jalan yang indah

seperti kata Rumi.

Dan Tuhanlah tujuan akhir kita. Cinta kasih secara vertikal maupun horisontal. Ketika Yesus as. menyatakan bahwa manusia akan selamat di jalan cinta kasih kemudian ditafsirkan oleh sebagaian kaum Nasrani bahwa tidak perlu mengikuti hukum Taurat dan cukuplah mengimani penebusan dosa Yesus.

Namun, kaum Farisi atau Yahudi bersikeras bahwa keselamatan hanya dapat diraih dengan mengikuti hukum, itu pasti bukan berarti tanpa mengikuti hukum dan hanya bercinta kasih sudah cukup. Umat Islam mengambil jalan tengah dari perbedaan pendapat itu.

Seorang hakim yang adil memutuskan perkara adalah menurut hukum dan juga prinsip cinta kasih Illahi. Jika seorang fakir miskin yang tidak mendapat perlindungan negara dipotong tangannya karena mencuri, itu bukanlah jalan cinta kasih. Dan begitu pula dalam ibadah kita. Puasa kita tidaklah cukup tanpa sedekah. Dan sedekah kita pun tidak bermakna tanpa shalat. Begitulah seterusnya.

Maka, marilah kita melindungi cinta kasih yang dianugrahi Tuhan di hati kita ini. Bulan Ramadhan inilah ketika Allah menunjukkan kasih sayang-Nya dengan menganugrahi Al-Qur’an sebagai pembeda yang benar dan salah sebagai petunjuk kita. Bulan Ramadhan inilah bukti cinta kasih Allah yang berlimpah ruah dengan terbuka lebarnya banyak pintu surga dan pintu rezeki bagi siapa pun yang berusaha masuk ke dalamnya.

Kalimat ketiga dalam kata perenungan itu,

“Jalani kewajiban yang harus dipenuhi saat ini”

merupakan kata-kata yang menegaskan kita kembali apa yang mesti kita lakukan sebagai makhluk bernama manusia. Bukankah Allah telah menyatakan bahwa kita adalah ‘khalifah’ di muka Bumi?
Bukankah para sufi mengingatkan mengapa Allah menciptakan Adam, bapak kita semua, seperti atau dalam wujud-Nya?

Inilah –

di Bumi yang luas terhampar inilah

– kewajiban kita mesti jalani sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Kita tahu bahwa Allah tidak pernah membebani hamba-Nya lebih berat daripada yang ia mampu pikul. Kita tahu bahwa Allah selalu mengubah nasib mereka yang mau mengubah nasibnya sendiri. Apakah itu semua artinya? Semua itu tidak akan berhasil tanpa kita melakukan kewajiban kita masing-masing sesuai kadar kita, dan juga dengan tekad kita yang tinggi.

Borobudur

Kewajiban umat Islam pada bulan Ramadhan ini bukan hanya kewajiban berpuasa yang sekadar menunjukkan cinta kasih kepada Tuhan. Tetapi kewajiban mencintai sesama dengan bersedekah dan membayar zakat, membayar fidyah sebagai pengganti puasa, atau pun memberi makan orang yang berpuasa, dll semuanya menunjukkan ‘kewajiban’ yang mesti dijalani saat ini itu merupakan bagian tak terpisahkan dari Jalan Cinta Kasih –

jalan lurus, shiratal mustaqim

– yang terbentang untuk kita mencapai Tuhan.

Kalau kita renungkan semuanya, kata perenungan Master Cheng Yen adalah nilai-nilai yang sangat Islami.

Bayangkan pula, jika hanya selama 30 hari dalam setahun saya muslim diwajibkan berpuasa, para biksu dan biksuni Buddha dari Utara diwajibkan menghindari daging atau protein hewani seumur hidup mereka dan merupakan ‘sunnah’ bagi para pengikut mereka untuk vegetarian. Ujian itu tentu cukup berat di mata saya, tetapi mereka mampu melakukannya dengan baik dan berkat mereka kita diingatkan bahwa berlebih-lebihan makan daging hewan, juga turut menyumbang ‘efek rumah kaca’ bagi Bumi kita – lebih besar sumbangannya daripada kendaraan bermotor!  

Karena itu, Islam berada di jalan tengah, membolehkan atau menghalalkan daging tetapi dengan syarat-syarat yang ketat. Inilah bukti cinta kasih Tuhan yang memberikan nilai-nilai universal kepada kita semua.

Selamat berpuasa dan melangkah di Jalan Cinta Kasih bernama Ramadhan ini. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

2 responses to “THE MONTH OF LOVE

  1. Amitabha. Semoga damai menyertai kita semua.

  2. Pingback: SEMOGA BERBAHAGIA « Bayt al-Hikmah Institute

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s