Sejarah Kelam Itu adalah Husain

44

Judul Buku : Husain Sang Ksatria Langit

Karya: Muhsin Labib

Kata Pengantar: alm. Motinggo Busye (1999)

– pengarang novel  “Fatimah Chen Chen”, sutradara, pelukis, dll.

Terbit Tahun: 2009

Genre: novel

Agaknya setelah sepuluh tahun novel ini baru terbit atau bagaimana saya tidak tahu. Mungkin dari judul (dan pengarang serta penerbitnya) para pembaca yang rajin membaca telah menduga mazhab yang didukung buku ini. Membaca kata pengantar buku ini saya teringat alm. Motinggo Busye, karena nama pena saya diambil dari judul salah satu novelnya. Seorang sutradara film cinta picisan yang telah kembali ke jalan kesalehan beserta segenap keluarganya. Semoga Allah SWT mencucuri rahmat atas roh beliau. Amin.

Tidak seperti buku-buku tentang Tragedi Karbala lainnya, buku ini memaparkan peristiwa bersejarah tersebut dengan gambaran layaknya sebuah film musikal, dilengkapi syair-syair keteguhan untuk berjihad memberantas kezaliman, serta adegan-adegan yang seakan-akan nyata di depan kita. Terdiri dari empat episode dengan detail nama tokoh-tokoh antagonis dan protagonis. Tidak perlu menjadi seorang Syiah, atau bahkan perempuan, untuk menangis ketika sampai di setiap pertengahan episode, terutama ketika membaca bagaimana cicit Rasulullah saw. mati kehausan dan dipanah di tepi sungai Eufrat, atau bagaimana kepala cucu Rasulullah saw. yang menaiki punggungnya saat baginda shalat dipisahkan dari tubuhnya oleh musuh, atau bagaimana seorang Nasrani segera memeluk Islam ketika kepala Husain yang diarak lewat di depan gerejanya, sementara orang-orang yang mengaku Muslim malah berpesta pora mengaraknya. Serta masih banyak lagi cerita lain yang menyayat dan membangkitkan emosi.

Pengarang novel ini mendedikasikan banyak waktu untuk merangkum dari berbagai sumber Syi’ah dan mungkin Sunni mengenai rentetan peristiwa itu. Dia menyatakan bahwa tidak semua detail gambaran benar-benar terjadi, tetapi hanyalah bumbu atau hiasan cerita, tetapi peristiwa itu sendiri benar-benar terjadi – seperti misalnya setiap ada anggota pasukan Husain yang ingin maju melawan tentara Yazid selalu ditambahi syair yang menggelorakan semangat. Seperti sajak “Pangeran Diponegoro” yang pernah diajarkan kepada kita pada waktu SD.

Sejarah terkelam umat Islam jelas ditandai dengan Tragedi Karbala, tetapi sayang banyak pihak yang menganggap kisah ini sebagai kisah khusus orang Syi’ah yang harus diabaikan dan tak perlu dikaji lagi demi kemaslahatan umat. Padahal, beberapa tokoh terkemuka di dunia ternyata lebih mengenal Husain daripada orang-orang Muslim sendiri. Simaklah kata-kata mereka yang membuat malu saya yang baru mengenal detail cerita Tragedi Karbala pada umur sekitar 19 tahun.

Mahatma Gandhi, mengatakan:

“Kemajuan Islam tidak bertumpu pada pedang pemeluknya, namun hasil dari pengorbanan agung Husain.”

Charles Dickens, sastrawan, berkata: “Husain berkorban murni demi Islam.”

Rabindranath Tagore, peraih nobel sastra dari India, berujar:

“Demi terus menghidupkan keadilan dan kebenaran, alih-alih menggunakan pasukan atau senjata, kesuksesan bisa diraih dengan pengorbanan jiwa. Inilah yang dilakukan Imam Husain.”

Pandit Jawaharlal Nehru, negarawan India, berkata:

“Pengorbanan Imam Husain adalah demi semua kelompok dan masyarakat, sebuah teladan jalan kebenaran.”

Edward G. Brown, professor University of Cambridge, berujar:

“Tragedi Karbala…selalu bisa menggugah emosi terdalam, dan semangat meluap-luap, yang membuat rasa sakit, bahaya dan kematian menyerpih bagai debu.”

Sir William Muir, negarawan Inggris Raya, berkata:

“Tragedi Karbala bukan hanya menentukan nasib kekhalifahan, namun juga nasib umat Muhammad jauh setelah kekhalifahan pupus dan tenggelam.”

Edward Gibbon, sejarawan Inggris terkemuka, menyatakan:

“Tragedi kematian Husain niscaya menggugah simpati pembaca yang paling dingin sekalipun.”

Ignaz Goldziher, cendekiawan orientalis terkemuka, mengatakan:

“Sejak hari kelam Karbala, sejarah keluarga kenabian terus-menerus diliputi penderitaan dan penindasan.”

Thomas Carlyle, berujar :

“Husain dan para pengikutnya merupakan orang-orang yang sangat mengimani Tuhan.”

Washington Irving, berkata:

“Dalam sejarah Islam tidak ada yang lebih keji daripada tragedi ini (Karbala).”

Menyimak kata-kata mereka, sebagai alumni jurusan sejarah (yang dalam mata kuliah “Pengantar Sejarah Islam” tidak diajak membahas tragedi ini, sebab mungkin dinilai terlalu sensitif) maka pikiran nakal saya tergugah untuk menganjurkan kepada para peneliti sejarah untuk bersikap mengambil sudut pandang secara holistik dalam tragedi ini, tidak semata-mata dari sudut politis, misalnya. Kemajuan peradaban Islam (barangkali) benar menurut para cendekiawan-cendekiawan di atas, merupakan hasil pengorbanan keluarga nabi (beserta para pengikut setianya) demi menegakkan keadilan dan ukhuwah Islam. Jika tidak, maka sejak hari pertama Abu Bakar menjadi khalifah, Islam dan umatnya pasti sudah dihancurkan oleh musuh-musuhnya, sebab di antara mereka sendiri saling berperang (bahkan, lihatlah sampai sekarang tetap terjadi di mana-mana, apa sebabnya? – ketika saya menulis resume ini 29 tewas muslim tewas di sebuah masjid Syiah di Irak karena ledakan bom).

Mengingat pesan Kuntowijoyo, bahwa kita belajar sejarah tetapi tidak belajar dari sejarah, maka inilah doa saya: “Semoga Allah menyingkap hikmah dan hakikat tersembunyi dari peristiwa bersejarah ini kepada kita untuk melangkah ke masa depan yang lebih baik, apa pun aliran atau, bahkan, keyakinan yang kita anut.” Amin.@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s