Teladan Muhammad (saw) dalam Menyikapi Perbedaan

Rasulullah saw mencontohkan kepada kita dua sikap yang berbeda dalam menyikapi perbedaan (pendapat/keyakinan/sikap).

Sikap pertama adalah menyikapi perbedaan terhadap mereka yang menolak kenabian dan wahyu-wahyu diperolehnya dengan cara dialog. Tetapi, baginda tidak pernah memaksa mereka untuk menerima kenabiannya dan ajaran-ajarannya. Baginda menulis surat, berdiskusi, dan sebagainya dengan cara damai dan santun. Kepada orang Kristen baginda tetap mempersilakan mereka sholat di mesjidnya (catatan: orang Kristen Ortodoks di jazirah Arab ketika itu melakukan sholat), kepada pengemis Yahudi baginda tetap menyuapinya dengan penuh kasih, bahkan dua perempuan Kristen yang dihadiahkan raja Koptik kepadanya dibebaskannya dengan cara yang kakak dinikahinya, dan yang adik dinikahkan dengan sahabatnya. Konteks sosial politik dan budaya ketika itu masih terdapat perbudakan dan dalam kebudayaan-kebudayaan Semit menikahi budak perempuan mengangkat statusnya menjadi wanita merdeka.

Sikap kedua adalah menyikapi perbedaan terhadap mereka yang melakukan kezaliman dan ketidakadilan secara terstruktur, atau perbuatan-perbuatan jahat seperti mencuri, membunuh, dan sebagainya. Jika masih dapat di-dialog-kan, baginda mula-mula melakukan perundingan. Pada masa itu, konteks jazirah Arab saat itu, perang antar kabilah (bani) sangat kerap terjadi. Yang sebenarnya banyak terjadi bukan semata-mata karena Nabi Muhammad mendirikan agama baru, tidak ada agama baru, tetapi karena Nabi Muhammad adalah seorang bani Hasyim yang ternyata menyatakan kepada bani-bani Ismaili lain bahwa baginda-lah yang dipilih oleh Allah sebagai rasul mereka. Baginda berusaha menyelesaikan persengketaan-persengketaan itu dengan arif, tetapi perang tetaplah tak bisa dihindari. Nabi Muhammad saw. mengangkat senjata jika itu terkait untuk menjaga atau merebut kembali hak-hak orang yang tertindas. Baginda tidak mengangkat senjata untuk memperluas empirium – melainkan itulah yang dilakukan para pemimpin sesudahnya – baginda hanya menginginkan kebebasan beragama kembali di negerinya. Kepada pencuri, pembunuh, dan bahkan pezinah, bahkan Nabi Muhammad saw menerapkan hukum “Taurat” yang lebih luwes yang ditegaskan kembali dalam alQuran, sebagaimana Yesus Kristus (as). Mereka mendapatkan pengadilan yang adil dan bahkan kesempatan bagi pertobatan melalui pengampunan.

Di masa sekarang ada dua masalah besar dalam menilai konteks-historis kehidupan kenabian Muhammad saw ketika itu:

1. Apakah kita menilai perbuatan-perbuatan baginda secara keseluruhan atau parsial melalui kacamata pandangan kita hari ini? — Apakah anda ingat ketika anda masih kecil di tahun 1980an, terutama orang keturunan Cina, atau sekolah di sekolah Cina, dihukum oleh orangtua dengan rotan dibelahtujuh adalah hal yg biasa. Tidak ada komnas perlindungan anak. Kalau di sekolah tidak kerjakan PR dirotan, pulang kerumah ketahuan nilai jeblok pun dirotan. Apakah melihat masa itu, kita akan bilang orangtua kita telah melakukan kejahatan kepada kita? Tentu kebanyakan dari kita, setelah melihat pencapaian-pencapaian kita hari ini, justru akan berterimakasih kepada didikan ‘keras’ mereka. Tetapi, tentu saja, cara mendidik zaman itu tidak bisa diterapkan lagi pada zaman kita. — Oleh karena itu, secara perjalanan manusiawinya seorang nabi dalam ruang historisnya dimana dia diutus tidak bisa seratus-persen bertolak-belakang dengan konteks sosial budaya ketika itu. Tetapi, secara spiritual dia berbeda dan karena itu dia memberikan perubahan-perubahan signifikan yang masih kentara kepada kita rekam-jejaknya.

2. Sebagian besar Muslim yang saya kenal tidak dapat membedakan dua sikap nabi Muhammad tersebut. Tidak dapat memilah-milah perbuatan-perbuatan baginda atas dasar konteks-konteks sosio-historis dan budaya ketika masa itu. Jika kita (Muslim) meyakini bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat, bukan berarti kita berhak untuk menghancurkan mereka. Jika kita (Muslim) meyakini bahwa seorang Kristen telah berbuat jahat karena korupsi, yang kita tentang bukanlah karena dia Kristen, tetapi karena perbuatannya. Jika seorang Yahudi didakwa sebagai pembunuh, perbuatannya yang harus dibenci dan disalahkan tetapi harus tetap ada pengadilan yang adil dan jujur baginya, dan juga akses-akses kepada pengampunan karena dia telah bertaubat. — Pertanyaan saya, apakah orang-orang Ahmadiyah yang diserang mesjid dan dibakar mushaf alQuran-nya (yang sama dengan mushaf al-Quran manapun di dunia ini) telah merampas hak-hak asasi manusia lain sebagai Muslim dalam beribadah? Apakah orang Syiah di Sampang telah mencuri harta milik tetangga-tetangga mereka sehingga mereka harus diusir dan dikucilkan?  Apakah semua orang Kristen dan Yahudi telah berbuat jahat kepada kita dan sama sekali tidak punya jasa barang sedikitpun dalam kehidupan kita sebagai manusia?

Sebagai Muslim saya meyakini bahwa Nabi Muhammad saw, sama seperti nabi-nabi lain, bukan nabi-nabi yang ‘ndeso’ (meminjam ungkapan Cak Nun). Kalau semua orang yang tidak menerima kenabiannya dan wahyu-wahyu yang diterimanya disebut kafir, lalu semua kafir itu seharusnya kan dia ‘bunuh’ atau ‘penjara’? Pada kenyataannya tidak. Baginda melarang kaum Yahudi tertentu kembali ke Mekkah sebenarnya bukan karena agama mereka, melainkan karena kecurangan-kecurangan yang terus mereka lakukan yang dipandang dapat membahayakan kestabilan kota saat itu. Baginda bahkan memerangi mereka yang mengaku sebagai nabi palsu dengan cara arif bijaksana, bukan dengan jalan kekerasan. Baginda juga bersikap arif bijaksana terhadap mereka yang memilih kembali mengingkari kenabian dan ajaran-ajarannya (baca: murtad).

Sungguh, bagi saya, sebagai Muslim, [dan terserah kepada Anda yang lain yang mengklaim sebagai Muslim] Nabi Muhammad saw diutus untuk memperbaiki akhlak manusia dan terlalu keji untuk menyandangkan perbuatan-perbuatan kekerasan kepada baginda jika ia dilakukan atas dasar apa yang diimani dan diyakini seseorang — bukan atas dasar memulihkan kerusakan bersama umat manusia keseluruhan. Jika ada di antara pengikut baginda setelahnya melakukan sesuatu atas nama baginda maupun atas nama agama Islam sebagai suatu pembenaran, saya menyebutnya sebagai klaim, dan ia haruslah dikaji dan diselidiki apakah Rasulullah juga melakukannya dan apakah baginda akan membenarkannya? Al-Qur’an nur karim dapat memberi jawaban ke semuanya, bahkan mengenai ayat-ayat yang sering dituduhkan kepada para pembenci Muslim dan Islam bahwa agama Islam dan Muhammad (saw) adalah agama pedang dan perang. Oleh karena itu, saya meyakini kita mesti berhati-hati terhadap segala upaya baik dari luar maupun dari dalam, baik kita sadari atau tidak sadari, terhadap upaya-upaya menodai keagungan dan kemuliaan Muhammad saw, sebab itu akan berdampak kepada Islam dan umat Islam sendiri.

Allahumma shalli ala Muhammad wa ali Muhammad. 

Silakan baca juga:

Tulisan-tulisan menarik dari saudara Akhmad Sahal (terdiri dari 4 bagian)

http://www.tempo.co/read/kolom/2011/02/16/324/Nabi-Palsu-Sikap-Nabi-dan-Ahmadiyah

http://jakartabeat.net/humaniora/kanal-humaniora/esai/item/534-tanggapan-akhmad-sahal-terhadap-tulisannya-tentang-nabi-palsu.html#.UYkCIRxxvn0

http://jakartabeat.net/humaniora/kanal-humaniora/esai/item/535-bagian-dua-tanggapan-akhmad-sahal-terhadap-tulisannya-tentang-nabi-palsu.html#.UYkDuRxxvn0

http://jakartabeat.net/humaniora/kanal-humaniora/esai/item/543-bagian-tiga-tanggapan-akhmad-sahal-terhadap-tulisannya-tentang-nabi-palsu.html#.UYkELhxxvn0

About these ads

Comments are closed.