Penutup Kepala di Indonesia dan lain-lain:

Gaya Kerudung Tertentu Bukanlah Milik Agama Tertentu

[baca juga artikel ini: Kerudung oh Kerudung]

bangsawan Eropa tempo dulu

bangsawan Eropa tempo dulu

Alkisah, tertawalah saya membaca iklan para jilbaber atau hijaber “Wahabi” mengenai larangan “Jangan mengenakan kerudung seperti biarawati Kristen.”

Maka agaknya perlu sekali saya membahas masalah model-model jilbab ini dalam blog saya karena saya belum menemukan ada yang membahas mengenai gaya-gaya penutup kepala ini. 

Alkisah, Indonesia adalah negeri dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia. Tentu saja kadang-kadang atau lebih sering umat Muslimnya tidak terlalu tahu bagaimana jilbab, hijab, kerudung atau penutup kepala dikenakan di luar wilayah Nusantara. Tahukah anda jilbab yang populer akhir tahun 1980an sama seperti jilbab biarawati-biarawati Ortodoks dari Ukraina? Tahukah Anda jilbab model chador yang biasa dikenakan Muslimah-Muslimah di Irak dan Iran (baik Syiah maupun Sunni) adalah gaya yang sebenarnya sama saja dengan gaya jilbab biarawati-biarawati Ortodoks dan Katholik klasik – dan masih dikenakan di beberapa biara?

1. Kerudung/Tudung

Dulu orang yang menutup kepalanya disebut memakai kerudung, atau bahasa Melayunya mengenakan tudung. Mukena atau telekung hanya dikenakan pada waktu sholat, atau lebih tepatnya ia adalah pakaian khusus untuk sholat. Perbedaan dengan  banyak Muslim di tempat lain, di Indonesia Muslimahnya selalu sholat dengan mukena walaupun sudah berjilbab.

Sebelum masa kolonial dan pada masa kolonial, pada umumnya Muslimah hanya mengenakan penutup kepala ketika menjalankan sholat, atau mengikuti pengajian. Sebelum Islam datang, konon para perempuan pribumi Nusantara terutama di pesisir pulau-pulau yang hangat, mereka hanya mengenakan kain, rakyat jelata biasanya berkain dari perut sampai ke kaki alias bertelanjang dada baik lelaki maupun perempuan, sedangkan kaum bangsawan mengenakan kain yang lebih tertutup, menutupi dadanya. Perubahan cara berbusana pun semakin berkembang dengan kedatangan kaum Muslim maupun pedagang dari Barat. Namun demikian, pemakaian penutup kepala seperti halnya di Sumatera Barat dan Sumatera Utara, mungkin lebih memiliki kaitan dengan etnis-etnis pedalaman di China dan Indo-China yang juga bersistem matriarkat. Kita melihat dua model hiasan kepala bangsawan perempuan: di beberapa wilayah seperti Jawa, Bali, modelnya adalah lebih seperti putri-putri di Champa, Thailand dan sekitarnya.

Dengan semakin banyak orang Islam di wilayah Sumatera, Kalimantan, Semenanjung Melayu, dan negeri-negeri beretnis Melayu, gaya pakaian untuk perempuan yang dikenal sebagai baju kurung mulai lazim dikenakan. Di Jawa dan sekitarnya, busana perempuannya adalah kebaya dan kain. Dapatlah diperhatikan bagaimana gaya busana perempuan antara kaum bangsawan, kaum santri dan rakyat jelata baik model baju kurung, kebaya, kain, sarung, dan lain-lain sangat berbeda.

Kaum santri yaitu istri-istri dan putri-putri para kyai dan yang belajar di madrasah-madrasah atau pesantren-pesantren biasa mengenakan kerudung dari selendang yang dililit, salah satu gayanya dikenal sebagai kowas (saya tidak tahu bagaimana mengejanya) yang masih lazim dikenakan para santri dari sekolah-sekolah PERSIS. Namun, demikian, kaum santri putri ini pada umumnya mengenakan kerudung mereka dengan cukup santai. Maksudnya, mereka tidak mengenakannya di rumah dan sekitarnya, hanya kalau bepergian atau pengajian dan acara-acara di mesjid, misalnya. Kaum santri lokal ini harus sedikit dibedakan dengan putri-putri atau istri-istri imigran dari Arab dan Pakistan, walaupun ada percampuran di antara mereka. Sedangkan Muslimah-muslimah dari golongan bangsawan hanya mengenakannya pada waktu-waktu tertentu saja, mereka biasanya selalu bersanggul sangat rapi. Pagi-pagi sebelum memulai kerja dan lain-lain yang mesti mereka lakukan adalah mengkonde rambut mereka. Kadang-kadang tidak ada batasan yang jelas juga, karena putri-putri bangsawan ada yang menikah dengan kaum santri juga, seperti kyai, sayyid-sayyid atau habib-habib.

Sampai tahun 1970an, masih banyak perempuan muda yang mengenakan kain dan kebaya, maupun baju kurung dan kebaya kurung.  Namun, gaya tersebut semakin tergeser karena semakin banyak yang memperoleh pendidikan “Barat”. Kemeja dengan rok maupun gaun ala tahun 60an, 70an dan seterusnya menjadi lebih lazim dipakai. Pada tahun 1980an, praktis pengguna kebaya dan pakaian “tradisional”, hanya nenek-nenek atau generasi tua. Untuk membandingkan, mahasiswi-mahasiswi HMI (HMI-wati) pada awal tahun 1950an masih mengenakan kebaya dan kain, dan kadang-kadang mengenakan kerudung dari selendeng. Pada akhir tahun 1960an dan seterusnya semakin sering menjumpai mereka mengenakan kemeja dan rok tanpa kerudung sama sekali.

2. Jilbab 

Semenjak tahun 1980an agaknya penggunaan kerudung yang benar-benar tertutup seperti yang sudah biasa dikenakan santriwati-santriwati di pesantren-pesantren tradisional maupun guru-guru dan murid-murid sekolah Muhammadiyah mulai menjadi populer. Kerudung begini kemudian dikenal sebagai jilbab. Kendati istilah “jilbab” sebenarnya berarti semacam pakaian yang menutup dada, dan penutup kepalanya disebut khimar, tetapi evolusi istilah kata jilbab berubah sebagai: bentuk pakaian yang menutup aurat termasuk penutup kepala. 

Walaupun demikian, model-model penutup kepala yang lebih dikenal adalah kerudung dari selendang dengan topi disebut ciput yang tetap memperlihatkan bagian leher. Topi atau ciput ini sebenarnya lebih mirip peci, mungkin terinspirasi oleh gaya berkerudung wanita-wanita Hui dan Uyghur dari China; sementara ciput yang lebih melengkung dan kadang-kadang penuh hiasan lebih banyak terinspirasi oleh gaya kerudung dari Timur Tengah. Model Mesir, Turki, dll biasanya menjadi inspirasi. 

Jilbab dari kain segi empat dan bagian atas yang empat presisinya pas bahkan merupakan model jilbab sudah lama dikenakan oleh biarawati-biarawati Ortodoks di wilayah Eropa Timur.  Bagian atas dengan model kaku itu tidak lagi populer, berganti dengan model lengkung yang lebih cocok untuk berbagai bentuk wajah, dan model ini sampai sekarang masih diminati dan biasa dikenakan.

3. Hijab

Jilbab kemudian menjadi semakin populer, “mewabah” hampir ke seluruh dunia dan di dunia internasional dikenal sebagai hijab. Penggunanya di kalangan Muslim semakin banyak, sehingga kadang-kadang, atau sering, banyak gayanya dianggap eksklusif dari kalangan Islam saja. Dan, bahkan, lucunya lebih sering dibedakan antara yang ini gaya Islam, dan yang itu bukan gaya Islam.

Perkembangan penggunaannya semakin pesat sejak tahun 2000an, di mana bahkan di hampir semua organisasi Islam, kalangan PNS, orang awam, dst para Muslimah pasti mengenakan hijab. Jika dahulu, pada masa nenek saya yang aktivis Aisyiah dan hanya kadang-kadang saja menggunakan kerudung selendang biasa, berjilbab bukanlah keharusan dan bukan semacam prasyarat “kamu adalah perempuan baik-baik”, sekarang jilbab (kerudung tertutup) ditafsirkan sebagai kewajiban yang mutlak dikenakan oleh semua Muslimah (kalau tidak kadang-kadang ditafsirkan, kamu bukan Muslimah yang baik). Hanya sedikit ulama yang berani mengatakan sebaliknya, yang memandangnya sebagai sesuatu yang lebih “longgar” dan “santai” seperti sebelum tahun 1990an. Ulama-ulama yang seperti ini justru dicerca. Muslimah-muslimah yang tidak mengenakannya, bahkan tak sedikit yang kemudian menanggalkan jilbab sebagai pakaian sehari-hari, tidak jarang dicap sebagai feminis dan liberal.  

Maraknya penggunaan jilbab, industri fesyen Islami juga berkembang pesat. Pasar Tanah Abang, misalnya, kini telah menjadi pusat perdagangan pakaian Islami internasional. Indonesia dikenal sebagai pusat mode hijab dunia, kadang-kadang harus diakui perkembangan gayanya jauh lebih dinamis dan kreatif daripada yang di Turki, Mesir dan Iran – Jakarta pun menjadi semacam Milan-nya pusat mode busana Muslim.  Malaysia yang pemakai jilbabnya jauh lebih dulu membudaya dan populer masih kalah jauh dalam hal dinamika fesyen jilbabnya. Hal ini termasuk merebaknya majalah-majalah yang memaparkan mode-mode pakaian Islami. Di panggung hiburan, jilbaber tidak lagi asing. Kalau dulu hanya penyanyi kasidah, kemudian dangdut, pop, bahkan kemudian rock, dan jenis-jenis musik cadas seperti metal. Aktris berjilbab, fotomodel berjilbab, dan bintang iklan berjilbab. 

4. Cadar/Niqab, Burka, dan Chador

a. Niqab atau cadar. Sebenarnya cadar dikenakan sudah lama oleh istri-istri dan putri-putri kalangan Muslim tertentu, biasanya kaum imigran dari Arab, dan sekarang biasa dikenakan oleh golongan Islam yang menganggap dirinya puritan atau murni seperti kaum penganut manhaj salafy. Tetapi, cadar bukanlah hal baru, misalnya  beberapa kelompok Muslimah Persis (Persistri) mengenakannya, atau kalangan syarifah (putri sayyid) tertentu. Ia menutupi bagian mulut, hanya menyisakan mata. Namun perbedaannya, dulu cadar dikenakan dengan warna-warna yang lebih bersahabat dan bahan-bahan yang lebih sesuai dengan iklim Indonesia. Sementara sekarang disebut juga niqab, biasanya hanya dikenakan dengan warna-warna gelap dan satu warna.

b. Burka. Burka tidak pernah ditemukan di Indonesia sampai ramai orang Indonesia dididik oleh Taliban dan kembali ke Indonesia. Burka adalah model hijab “paling ekstrim” karena menutupi seluruh muka, tanpa sisa. Hanya ada kain tipis untuk bagian mata bisa melihat. Masih jarang Muslimah di Indonesia mengenakan burka.

c. Chador. Chador bukanlah cadar. Ia adalah bentuk kerudung asal wilayah Persia (Iran, Irak, dan sekitarnya). Ia berupa kain lebar yang lebih dari 2 meter lebarnya dan panjangnya sesuai ukuran tinggi penggunanya. Ia merupakan kain bagian luar kerudung yang menutupi kerudung bagian dalam. Pada umumnya berwarna hitam, tetapi di beberapa tempat seperti di Abyaneh di Iran, berwarna putih, sehingga terkesan lebih mirip mukena, atau bahkan berwarna-warni. Penggunaannya hanya menutupi sampai dagu. Di Indonesia ia lazim dikenakan oleh para penganut Syiah, walaupun di tempat asalnya ia dikenakan juga oleh kaum Muslim Sunni. Biasanya hanya dikenakan saat solat, kecuali oleh beberapa perempuan tertentu. Sebagaimana di tempat asalnya, hanya kalangan tertentu yang kemana-mana ke luar mengenakan chador yang panjang, semacam simbol-simbol yang membedakan status dan kelas orang-orang. Di tempat asalnya, chador pun berkembang mengikuti zaman, semakin dibuat praktis.

5. Mukena atau Telekung

Mukena atau Telekung adalah pakaian sholat khusus yang dikenakan oleh Muslimah di Indonesia, dan juga tempat-tempat lain di Nusantara. Mungkin terinspirasi oleh bentuk chador yang juga khusus dikenakan saat sholat, di mana dulu kebanyakan missionaris Muslim berasal dari wilayah Persia terutama sejak jatuhnya Baghdad ke tangan bangsa Mongol. Bedanya adalah mukena di Indonesia terjahit rapi. Berbagai gaya:

1. Sebelum tahun 1990an, mukena yang lazim ditemui adalah yang bentuknya langsung, one-piece, sampai ke tangan. Yang ini bahkan lebih mirip chador. Warnanya pasti putih.

2. Setelah tahun 1990an-2000an, kebanyakan mulai lebih digemari adalah yang two-piece, dengan sarung, atau dengan dua bagian yang sama warnanya. Warnanya masih putih, jarang ada yang dibordir, ataupun berhias macam-macam.

3. Setelah tahun 2000an, mukena menjadi semakin bergaya, berwarna-warni, berbordir atau dari berbagai bahan, termasuk kain batik. Yang model one-piece muncul kembali dengan aneka warna, dan bahkan one-piece tanpa kerudung karena orang sudah biasa memakai jilbab — jadi semacam abaya sangat panjang. Dibikin semakin praktis dan bisa dibawa kemana-mana, ringan dan mudah dilipat, lengkap dengan tasnya.

GAYA-GAYA KERUDUNG DAN JILBAB, APAKAH GAYA TERSEBUT HANYA KHAS GAYA JILBAB MUSLIM?

Pada suatu pertemuan dengan adik-adik Kohati (Korps HMI-wati) Cabang Sumedang dalam kajian jilbab, saya memberikan sebuah kuosiener mengenai siapa di antara para pengguna jilbab di kertas yang saya berikan adalah Muslimah dan bukan Muslimah (saya memberikan sejumlah pilihan). Alhasil, kebanyakan peserta melakukan cukup banyak kesalahan membedakan mana yang Muslim dan bukan!

Mari kita menyimak gambaran wajah-wajah Muslimah Indonesia sejak masa kolonial hingga sekarang.

1. Cut Nyak Dhien, bangsawan Aceh dan pahlawan nasional yang tidak memakai kerudung

cutnyakdhien

Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar, pahlawan Nasional

2. Laksamana Keumalahayati, bangsawan Aceh dan juga salah satu admiral perempuan pertama di dunia. Selalu digambarkan hanya menggunakan kerudung dari selendang.

Laksamana Keumalahayati

3. Nyai Siti Walidah, pendiri Aisyiyah, istri Kyai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Selalu dilukiskan mengenakan kerudung dari selendang yang tertutup rapat.

nyaiahmad dahlan

4.  Para aktivis Aisyiyah tempo dulu. Berkerudung dari selendang.

Pendiri Aisyiyah

Aisyiah

para aktivis muda Aisyiyah, termasuk putri KH Ahmad Dahlan, kerudung dari selendang yang seragam.

5. Solichah Hasyim Asy’ari, istri ketua NU. .

Solichah Wahid Hasyim

6. Solichah Saifuddin Zuhri, seorang aktivis Muslimat NU.

Solichah Saifuddin Zuhri

7. Rohana Kudus, pahlawan dari Minangkabau. Masa muda mengenakan penutup kepala khas Minangkabau.

Rohana Kudus Biografi

catatan: penutup kepala khas Minangkabau, atau pun juga dikenakan di pedalaman-pedalaman Sumatera Utara, juga dikenakan oleh etnis-etnis lain.

a. China

Tanduk-Chinois Zhuang001

b. Norwegiabunad norway voss

c. Biarawati-biarawati Eropa tempo dulu

faculty-of-nuns-wearing-cornetts

d. Perempuan-perempuan Eropa bertanduk

Dublin Core A1

4493125_f260 dutch_school_c_1650_portrait_of_a_nun_holding_a_bible_before_a_crucifi_d5610288h

8. Haji Rasuna Said, pahlawan Nasional. Model kerudung yang paling lazim dikenakan tempo dulu.

hr-rasuna-said

catatan: Model kerudung ini bukan eksklusif dikenakan oleh Muslimah saja.  Model kerudung ini masih biasa dikenakan oleh biarawati-biarawati Katholik Timur dan penganut Ortodoks di Ethiopia.

9. Rahmah ElYunus, pahlawan dari masa kolonial yang mengenakan jilbab panjang lebar, berasal dari kalangan santri di Sumatera Barat.

rahmah-elyunus

catatan: apakah jilbab model ini juga khas hanya dikenakan kaum Muslimah?

belarus nuns

biarawati dari Belarusia

10. Pertemuan Sarekat Islam pada masa kolonial, salah satu organisasi Islam tertua di Indonesia. Perhatikan peserta perempuannya: tidak mengenakan kerudung sama sekali.

si_tempo_doeloe

11. Demonstrasi para perempuan pada tahun 1953. Masih berkebaya dan kain.

demonstrasi 1953

12. Komite Kongres Perempuan Indonesia pada tahun 1928. Perhatikan perbedaan Muslimah dari kalangan santri dan kalangan bangsawan.

conggres

13. Fatmawati Soekarno, dengan kerudung selendang

fatmawati soekarno

15. Korps HMI-wati, underbow Himpunan Mahasiswa Islam. Para perintisnya tidak mengenakan “jilbab” seperti sekarang.

Picture 004 Picture 003

16. Kelompok-kelompok Musik Kasidah, termasuk Nasida Ria dari dekade ke dekade (1970an hingga 1990an)

Qasidah18

nasida ria jadul

nasidaria1980 nasidaria 1990 jilbab tahun 1990an

18. Jilbab era tahun 1980an hingga 1990an

a. Mbak Tutut Soeharto. Putri sulung presiden Indonesia dari sejak 1967-1998 ini dikenal mengenakan kerudung dengan bagian depan rambut terlihat.

tutut s

b. Ibu Hj. Tuti Alawiyah, pendiri ponpes terkemuka dan juga pengusaha ini, gaya kerudungnya pada tahun 1990an.

tuty jadul

c. Sitoresmi Prabuningrat, seniman mantan istri penyair W.S Rendra dalam gaya jilbab tahun 1990an.

sitoresmi sitoresmi2

d. Gaya yang masih dikenakan oleh sejarawan Prof. Dr. Herlina Lubis

Nina-Lubis-1-450x300

e. Aktris era tahun 1980an dan 1990an, Neno Warisman, dikenal sebagai Muslimah yang mempopulerkan gaya jilbab berlapis-lapis. Sebenarnya gaya ini merupakan penyederhanaan gaya chador. 

neno warisman

16. Gaya jilbab akhir tahun 1990an, yakni menjelang tahun 2000an, yang masih populer di kalangan perempuan untuk menghadiri kondangan dan sebagai panitia pernikahan. Antara lain dipopulerkan oleh Inneke Koesherawati dan Ratih Sanggarwati.

inneke k ratih sang

17. Aktivis-aktivis Muslimah dalam berbagai gaya jilbab:

a. Jilbab segi empat yang masih lazim dengan bentuk bagian atas wajah yang kaku, sekitar tahun 1990an

santriwati-santriwati suatu ponpes - sumber: basenik-basenik.wordpress.com

santriwati-santriwati suatu ponpes – sumber: basenik-basenik.wordpress.com

Muhammad le

aktivis Aisyiah

SDM 24

saya dalam seragam SD Muhammadiyah Jakarta, sekitar tahun 1989-1990 (perhatikan bagian atas yang kaku)

Pengurus PB Kohati 1999-2001

Pengurus PB Kohati 1999-2001

b.   Gaya jilbab di awal tahun 2000an

with my housemates2

enam dari sembilan gadis ini adalah aktivis HMI

empatsekawan

tiga dari empat gadis ini adalah aktivis HMI

18. Beberapa contoh aktivis Aisyiah, NU dan Kohati tahun 2000an

aisyiah (1)

Wardanah Muhadi, pernah menjabat sebagai ketua PP Aisyiah.

susilaningsih_kuntowijoyo

Dra Susilaningsih, aktivis Aisyiah. Beliau istri alm. Kuntowijoyo, budayawan Muslim, keduanya alumni aktivis HMI.

khofifah

Khofifah Indar Parawangsa, tokoh NU, politisi cemerlang.

Ketua Kohati PB HMI Fitriani Ismail

Ketua Kohati PB HMI Fitriani Ismail

19. Beberapa contoh muslimah-muslimah yang “tidak mainstream”

Sinta Nuriyah Wahid, istri mantan presiden dan pemimpin NU, Gus Dur, dengan gaya kerudungnya yang tidak berubah

Sinta Nuriyah Wahid, istri mantan presiden dan pemimpin NU, Gus Dur, dengan gaya kerudungnya yang tidak berubah

Musdahmulia1

Musdah Mulia, direktur dan salah satu perintis ICRP (Indonesian Conference for Religion and Peace). Muslimah dari kalangan santri di Makassar ini acap kali dicap Liberal bahkan sesat, tetapi ia tetap mengenakan jilbab.

caknur-tante-omi

Cak Nur dan istrinya Omi Komaria, seorang perempuan dari kalangan keluarga santri yang tidak mengenakan jilbab.

yenni wahid

Yenni Wahid, putri Gus Dur ini merupakan generasi muda yang memilih tetap mengenakan kerudung gaya selendang

20. Beberapa contoh penggunaan niqab dan chador di Indonesia

with cousins

niqab biru di tengah-tengah pesta pernikahan, didampingi pemakai gaya jilbab lainnya

ijabi

muslimah syiah dari komunitas Ijabi dengan chador hitam mereka

22. Membandingkan gaya jilbab Muslimah dengan Non-Muslim

Mari kita lihat, apakah ada perbedaan antara para jilbaber dalam berbagai model dengan biarawati-biarawati maupun non-Muslim yang mengenakannya:

A. gaya jilbab bagian atas yang kaku

model jilbab sama ORTHOnuns223

SDM 24

Jilbab Muhammadiyah tahun 1980an-1990an

busenik-busenik13

santriwati-santriwati sebuah ponpes sekitar tahun 1990an, dari busenik-busenik.wordpress.com

-febrianti-hti

tokoh perempuan HTI Febrianti A.

seorang ortodoks biarawati

seorang biarawati ortodoks yunani

sister15

seorang biarawati ortodoks yunani

greeknuns2222

seorang biarawati ortodoks yunani

sister17

seorang biarawati ortodoks

0greeknuns

biarawati ortodoks yunani

b. gaya jilbab dengan bagian atas yang melengkung

serbia nuns221

biarawati-biarawati dari serbia

Mother Irini of Saint Mercurius Convent

Biarawati Koptik

mother katherine

Biarawati Orthodoks

nun2

biarawati ortodoks rusia

rocorunity-blogspot-gethsemaneconvent-the nun

biarawati dari biara gethesemane

tokoh-wirda-hanim

Tokoh Wirda Hanim dari Sumatera Barat

buranovo babushka

kelompok musik Buranovo Babuskha dari Ortodoks Rusia

charedim ultra odtordoks

seorang perempuan Yahudi ultra orthodoks di Israel

Zoroastrians222

Wanita-wanita Zoroaster di Iran

nuns2

biarawati Katholik dari Atlanta, AS

zors3

para penganut Zoroaster di Iran

c. gaya jilbab dengan topi di atas baik di dalam maupun di luar kerudung

Jilbab dengan gaya mengenakan ciput seperti peci yang pernah populer pada tahun 1980an seperti gaya kerudung Tatar, Uyghur dan Hui berikut ini juga dikenakan oleh para biarawati Ortodoks sbb:

Uzbek-Stamp

Uzbek

Bonan-04

etnis Bonan di Cina

Hui-Children

gaya Hui

Tajik-02

gaya Tajik

Tatar-Rusia

topi Tatar

sisterof mercy

Biarawati dari Ordo Sister of Mercy

Ethiopia_Sept_2011_199

Biarawati Orthodoks Ethiopia

Tatar Women With Kalfaks

Muslimah-muslimah Tatar (Rusia), gaya jilbab di tengah dan sebelah kanan yang sempat populer pada tahun 1980an dan 1990an

Kazan_05

gadis Kazan, Tatar

palestinian2

wanita Palestina. Tidak diketahui agamanya

02-nuns-with-patriarch-kirill-st-stefan-makhrishchsky-convent-e1281974056375

Serbia

Ileana Photo0001

biarawati ukraina

Orthodox nuns

Topi biarawati ini mengingatkan saya pada topi kerudung pramugari Ettihad Air dan Royal Brunei

royal brunei

pramugari Royal Brunei

Etihad cabin crew

pramugari Etihad Air

Nuns_of_Novo_Tikhvin_Monastery_in_Ekaterinberg

Biarawati-biarawati dan pastor Ekaterinberg

Sikhism-Amritsar-95

Wanita Sikh dengan surban dan kerudungnya

sikwh

wanita Sikh

d.

Topi bentuk lain:

zen nuns

biarawati di jepang (buddha zen?)

zen nuns2

Gaya jilbab dengan tanpa ciput atau topi dan dalaman, dari kain persegi panjang atau selendang

i. Para jemaat Ortodoks Ethiopia:

ethiopian ortodoks nuns

biarawati ethiopia

ethiiopia orthodokx

orthodoks ethiopia

ethiopian nuns

biarawati ethiopia orthodoks

Biarawati Katholik Kaldea

Biarawati Katholik Kaldea

e. Chador dalam berbagai versi

Gaya biarawati Yunani dan gaya perempuan Iran

iran_0109_350 rick steeves

iran dari rick steeves

biarawati2 yunani

ortodoks yunani

serbia nuns kamri nuns-greek-monastery-li chador-ghajari chador by adam jones chador4

f. Kerudung putih dan warna-warni dalam berbagai versi, yang dikenakan saat solat berjamaah

Biarawati Katholik di India

Biarawati Katholik di India

varzaneh chador

Chador putih Varzaneh

Ethiopia-Ortodoks3

jemaat Ortodoks Ethiopia

Id di IRan 2012

Sholat Id di Iran 2012

Ethiopia-Ortodoks

jemaat Ortodoks Ethiopia

Id di IndoSurabaya

Sholat Id di Indonesia

Mukena Cs Chador

Mukena dan Chador

h. Warna-warni kerudung

with philo-sufis2

wanita-wanita Sufi di Indonesia

Ultra-Orthodox Jewish women at the A World Apart Next Door exhibition in Jerusalem

wanita ortodoks yahudi

abyaneh45

wanita Abyaneh, Iran

Ainun-Habibie

Ainun Habibie, alm. istri dari mantan presiden B.J Habibie

Jilbab wanita Bima, dari sarung

Jilbab wanita Bima, dari sarung, sumber: asrarudin hamid

i. Niqab/Cadar serta burqa di kalangan Muslim dan Yahudi Ultra Ortodoks

burqa

Burka, hasil jepret Gendis Rere Danerek

ultraorthodokx

burka yahudi

veil91590948

burka arab

yemen_jews

niqab yahudi

Penutup:

Mereka mengklaim jangan menggunakan model jilbab tertentu karena menyerupai orang Kristen ataupun orang Yahudi karena itu sesuai dengan hadis yang menyatakan kira-kira berbunyi: janganlah engkau meniru-niru suatu kaum…Jadi, sebenarnya siapa yang meniru?

Penulis:

Penulis artikel ini adalah pengguna kerudung, tidak anti dengan apapun model kerudung. Jika tiba musim dingin atau melalui jalan berdebu, tidak akan ragu-ragu menggunakan cadar.  Sekian dan terimakasih. 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Midodaremi MyPicBadge nuns pinky @villaICdisukabumi 1Aku-1 1-Aku Kazan Tatar Indonesia 2 blue in green akuHMI2

65 responses to “Penutup Kepala di Indonesia dan lain-lain:

    • gayatri wedotami

      Wa’alaikum salam bung Sanjaya.
      Pertama-tama saya sampaikan terimakasih atas saran anda. Apakah andapengelola blog tersebut? Sampaikan salam saya kepada ustadz terkait agar mempelajari kembali SEJARAH MUNCULNYA PENGGUNAAN DASI dan mempelajari kembali dengan melihat sendiri bentuk-bentuk pakaian dan aksesori seperti topi Yahudi, jubah pastor, dsb. Mudah-mudahan beliau berkenan lebih mempelajari sejarah pertembungan budaya dan peradaban bangsa-bangsa sehingga tidak keliru dan salah paham dalam menyampaikan pandangannya dari dimensi budaya tentunya.

      Kedua, artikel ini tidak bermaksud membahas dari segi fikih. Soal fikih silakan kembali ke mazhab fikih anda masing-masing. Saya membahasnya dari sisi budaya, lebih khususnya sebagai pertembungan budaya.Saya hanya ingin menyampaikan bahwa gaya-gaya yang sama ada di berbagai kelompok agama dan bangsa.

      Ketiga, saya seorang Dekalogis-Dawoodiyya, fokus saya adalah pada Oneness of God’s Revelation daripada keterpecahbelahannya. Salam hangat. gayatri wm

      • Sebelum protes ada baiknya link tersebut dibaca dulu mbak :)

        So-called “open minded” pluralist tapi begitu lihat bahasan fikih langsung alergi :)

      • gayatri wedotami

        karena saya gak mau keluar fokus. ini bukan pembahasan teologis dan fikih. saya serahkan ke masing-masing agama dan mazhab kalau soal itu ya.

  1. janganlah engkau meniru-niru suatu kaum…Jadi, sebenarnya siapa yang meniru?
    dari paparan di atas jelas betul, bahwa anda ingin menyampaikan kerudung yg dipakai umat islam bukan mencerminkan identitas tersendiri melainakan seluruh agama mengunakanya. pergeseran jaman,budaya,sosial, sangat erat dalam perubahan dari segi apapun, sebenarnya sederhana menjawabnya, jelas wanita dalam islam mengunakan jilbab guna menutup aurat, sementara agama lain mengunakan penutup kepala belum tentu niat untuk menutup aurat. so meniru dalam maksut itu adalah,,,berupa alat2 ritual yg tidak bisa di tiru, contoh, mengunakan lebel bintang davit, salib,,,,dan sebagainya..maaf dari pembaca yg tergerak untuk comend. tks

    • gayatri wedotami

      Tidak juga, non-Muslim seperti umat Kristen dan Yahudi juga berhijab untuk menutup aurat. Konsep aurat bukan konsep baru, konsep eksklusif dalam Islam. :) Maaf dan Terimakasih.

  2. Post nie memang betul2 bermanafaat… mungkin tidak pada yg lain… tapi amat pada saya… terima kasih admin…

  3. Bacalah 1 Korintus 11:5 Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.

    Kerudung/tudung diwajibkan juga utk umat kristen, hanya mereka tidak patuh dengan kitab sucinya sendiri…. ckckckck

    • gayatri wedotami

      Tidak semua umat Kristen demikian, masih ada umat Kristen yang taat tetap mengenakan tudung saat masuk ke gereja. Jadi anda tak usah sinis seperti itu ya.

      • berapa persen, mb gayatri? kebetulan sy pernah tumbuh dlm komunitas tsb dan blm pernah melihat itu dipraktekkan. sy pikir ketimbang menganggap itu adalah komentar yg sinis, mendingan kita lihat sbg suatu nasehat yg tersirat dlm sebuah sindiran bagi penganut kepercayaan yg bersangkutan…

      • Bermanfaat sekali mbak gayatri…pada dasarnya orang2 yg ngerasa eksklusif dan berkomentar negatif itu adalah orang2 yang jarang jalan2 mbak,padahal dunia itu luas….membaca ini saya jd pgn traveling lagi….really great post

    • baca sampe ayat 15 dong. itu sebabnya umat kristiani tdk menggunakannya. Yesus datang untuk menggenapi kitab taurat dan merevisi hukum2 buatan manusia pd perjanjian lama seperti merajam batu perempuan yg berzinah, hewan kurban, sunat , termasuk juga kerudung.

    • tya widowati yang budiman,
      Dalam kitab suci ada tertulis ayat tersebut..terkait dengan latar belakang budaya rasul Paulus dengan tudung kepala saat itu. Dalam penafsirannya, umat Kristen lebih menekankan pribadi atau kesalehan diri wanita tersebut dan unsur pertobatannya, sehingga layak atau pantas hadir dalam ekaristi. Kalau saya kutip dari:

      http://katolisitas.org/5363/wanita-harus-memakai-tutup-kepala-saat-ibadah-1-kor-113-15

      tentang ayat yg disebutkan Tya, maka intinya : tentang hal kerudung wanita, walau tidak dijadikan sebagai hal yang normatif ataupun keharusan, kebiasaan memakai kerudung pada saat ibadah merupakan sesuatu yang tetap dapat dilakukan dan tidak dilarang. Namun perlu juga disadari bahwa kerudung wanita tidak dapat dijadikan ukuran bahwa yang memakainya pasti lebih kudus hidupnya, ataupun lebih khusuk doanya. Dalam hal ini, adalah lebih baik untuk meneliti sikap batin masing-masing. Bagi para wanita yang ingin mengenakan kerudung saat ibadah, silakan dilakukan, itu baik. Namun bagi wanita yang tidak mengenakannya juga tidak perlu merasa bersalah, sebab hal itu tidak merupakan keharusan. Yang terlebih esensial adalah mengarahkan hati sepenuhnya kepada Tuhan yang hadir dalam perayaan-perayaan liturgis itu. Dengan penghayatan ini, para wanita (dan pria) selayaknya berpakaian yang sopan dan bersikap yang sesuai, sebagai cerminan sikap penghormatan kepada Tuhan.
      Makasih mba gayatri untuk pelajaran budayany :)

    • Hahaha tya ini sikapnya menghakimi sekali. Mgkn cita-citanya menjadi hakim yah. Hehehe. Baca ayat selanjutnya donk, Dik: ayat 15 Sebab rambut diberikan kepada perempuan untuk menjadi penudung

    • Tya Widowati, mengutip satu ayat saja tidaklah bijak. Karena tidak ada satu ayatpun yg berdiri sendiri, ada konteksnya. Bila tak mengimani, akan sulit memahami. Kerudung penutup kepala untuk wanita dan sunat pada laki2 bila secara literal memang diwajibkan. Namun surat Paulus kepada jemaat di Korintus yg terkutip diatas adalah teguran pada para wanita di daerah tersebut yg sudah sangat melenceng ketidaksopanannya, bahkan ketika menghadiri peribadatan. ‘Kepala’ disini adalah suami yg wajib ditaati, dan Tuhan yang juga wajib ditaati pula. Bila ada wanita yg tidak mengindahkan teguran/peran suami dan mengabaikan ajaran Tuhan, sama saja dengan kehinaan bagi wanita tersebut.
      Asal kutip bukan suatu tindakan bijaksana, hapal Kitab Suci tapi tak melaksanakan dan tak belajar memahami dengan iman juga percuma. Maksud saya, saya bisa saja hapal dg Kitab Suci saya, tapi kalau hanya hapalan ya hina juga lah saya… perbuatan saya pasti tak sejalan dg yg saya baca, itu artinya saya menghinakan Sang Sabda…
      Yang lebih berbahaya adalah bila hal fisik jadi bernilai lebih dari iman yang ditaati. Terus terang, berbusana sopan dan sederhana, menutup aurat, tidak menimbulkan dengki orang lain, tidak malah membuat lawan jenis menoleh dan penasaran, LALU DIIKUTI dengan kebaikan hati yang terpancar dan kegembiraan tanda syukur atas hidup yang dianugerahkanNya, lalu menaruh kebaikan sebagai keutamaan…. ITU JAUUUUH lebih berharga dimataNya daripada bingung mana model penutup aurat yg paling sahih, atau model termutakhir…. Yg ujung2nya mencela kelompok lain dan berprasangka buruk hanya karena menggunakan penutup aurat yg berbeda….

  4. Hai mba, salam kenal…
    Menarik banget tulisannya.. Sebenarnya pakaian para prianya juga ya.. Jubah juga dipake pastor dan biarawan, misalnya… ^_^

    Mungkin seru juga kalau ada museum religion fashion :-)

  5. Wah ini keren. Postingan tentang jilbab aka kerudung didasarkan pada budaya dan sejarah. Makin membuka pikiran. Terima kasih :)

  6. tulisan yg menarik tapi sayang pembukaannya terkesan kurang menghargai orang lain
    “Alkisah, tertawalah saya membaca iklan para jilbaber atau hijaber “Wahabi” mengenai larangan “Jangan mengenakan kerudung seperti biarawati Kristen.” “

    • gayatri wedotami

      ya saya manusia biasa bukan istri nabi dan bukan maksumin kok… :) terimaakasih atas sarannya.

  7. Atin Prabandari

    salam kenal mbak.. nice research!

  8. biasa aja. berhijab itu bukan karena gaya-gayaan, model atau cuma ikut-ikutan org terdahulu, tapi berhijab itu fitrah seorang wanita, untuk tampil lebih lembut dengan nuansa keibuan. Jauh dari itu hijab adalah perintah agama, kalau ada transformasi perubahan mode jilbab di Indonesia itu hanya pemurnian Islam di Indonesia butuh proses dari fase-fase dakwah menuju penerapan syariat Islam. Butuh proses pemahaman terhadap masyarkat.

  9. Wow..paparan yang membuka cakrawala budaya.
    Terima kasih untuk paparannya bu. Ditunggu tulisan tulisan berikutnya.
    Hanya sedikit penasaran bu, penyebaran mode mode tersebut lebih banyak oleh perdagangan atau pendudukan?

  10. السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
    Mba Gayatri, sy suka keterbukaan cara pandang anda dalam membahas materi di atas, ini awal sebuah kebangkitan utk pemersatu umat, ISLAM itu rahmat bagi Alam semesta, bukan Rahmat bagi kelomok atau golongan…Pakaian hanyalah sekedar pakaian, esensinya berfungsi sebagai pelindung diri dr pandangan mata liar dan iklim luar…Muhammad itu dihadirkan utk Universal alias Rahmat bg alam semesta, bagaimana Islam diminati oleh umum kalo ekslusif…

  11. Nice post ^_^

    salam

  12. Don'tJudgeMe!

    Literalis dia, ngambil mentah2 dari kitab tanpa dipahami dulu artinya…. Hahaha, hanya bisa tertawa liat orang2 literalis macem gitu…

    Btw, artikelnya bagus banget, :shakehand2:

  13. Perhatikan pembangunan sebuah rumah, utk menghasilkan bangunan dgn konstruksi yg baik maka akan dibutuhkan bbrp bahan bangunan pendukung, katakanlah kita butuh pasir kali, butuh krikil, butuh batu bata, ada besi, kemudian semen dan air, sebenarnya masih banyak lagi yg tdk disebutkan. Semua bahan tersebut berbeda satu sama lainnya tapi ketika disatukan menjadi sebuah bangunan yg kokoh, kita tahu bahwa bangunan kokoh dan nyaman akan melindungi penghuninya dr ancaman luar, dan kt tahu bahwa semua bhn bangunan yg disebutkan di atas td berasal dr satu pencipta yakni اللّهُ swt, dan Dia menciptakan kt berbeda hanya utk saling mengenal dan mempelajari kebesarannya, bukan utk saling membenarkan diri sendiri, dan yg berhak menentukan kekufuran kt hanyalah اللّهُ swt (An-Najmi : 30)…sekian

  14. Terima kasih mb Gayatri. Cukup detil dan membuka mata (eye opener). Buat saya yg berkeimanan Kristen saja bisa memaknai dan mengiyakan dengan baik pemaparan tersebut. Karena, saya membacanya tidak dengan hati keras dan terbuka, dan dengan pemahaman budaya yang sama dengan mb Gayatri ini. Izin untuk share ya.

    *) Izin mengkomentari 1 Korintus 11:5 diatas: “Tudung kepala” bisa diartikan juga dengan “rambut kepala” itu sendiri, tidak semata diartikan sebagai tudung kain atau sejenis (bukan rambut sehat dicukur botak atau pendek bagai lelaki, tidak sama dengan androgynous/lelaki-perempuan terlihat sama) dan menjadi “mahkota” di kepala seorang perempuan. Seperti itulah yang dijelaskan oleh suami saya. Dengan pemahaman itu, saya memang kemudian memelihara panjang rambut saya melebihi bahu atau minimal sebahu (kecuali masalah rambut rontok/sakit/sejenis).

    Berbagi contoh: Seorang perempuan Kristen asal Mexico di gereja kami, akan datang mengikuti kebaktian memakai tudung kepala kecil (hanya untuk menempel di bagian kepala) layaknya yg sering dilihat pada penampilan perempuan Katolik yang pergi masuk ke gereja. Atau, ada agama Kristen dengan denominasi AC (Apostolic Christian) yang kemana-mana pasti memakai secarik kain kecil diatas kepalanya (dijepit dengan penjepit rambut hitam) berwarna hitam atau putih, dan pasti memakai rok panjang semata kaki (bukan bercelana panjang/pendek). Di gereja kami yang berdenominasi Baptist, juga memaknai serupa: Yang perempuan memakai rok panjang (bukan mini/ketat, tapi dibawah dengkul atau lebih panjang), dan yang lelaki tidak bercelana panjang/pendek ketat.

    Bila berkenan, saya ingin berbagi pemikiran saya: APAKAH PEREMPUAN KRISTEN IDENTIK DENGAN PENAMPILAN SERONOK? (ARE CHRISTIAN WOMEN IDENTIC WITH SEXY/ILL-APPEARANCE?). Ini merupakan salah satu posting saya di Facebook pribadi saya tertanggal 7 Januari 2014, yang saya edit utk keperluan disini. Isinya: Banyak persepsi dan komen yg muncul mengira dan menganggap biasa kalau perempuan Kristen “boleh atau identik dengan penampilan seronok.” SALAH BESAR!!!!! Seperti yang tertulis di 1 Timotius 2:9 ttg penampilan: “Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas (modest), dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal.” Dan di Imamat 19:28 ttg tatoo/rajah/tindikan tubuh: “Janganlah kamu menggoresi tubuhmu untuk yang mati dan janganlah merajah tanda-tanda pada kulitmu; Akulah TUHAN.” Atau di 1 Timotius 6:19: “Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Tuhan, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?”

    >>Suami saya (lelaki Amerika, berkeimanan Kristen) bahkan menyuarakan untuk “menutup aurat” meski bukan dengan memakai kerudung/abaya, tapi dalam keluarga kami, baik yg lelaki maupun yg perempuan, melaksanakan konsep modesty/kesopanan. Tidak ada rok mini, celana pendek mini, celana panjang ketat, pakaian ketat, pakaian dengan belahan pamer tubuh, riasan wajah menor, tatoo, tindikan, & penampilan seronok. Kami menerapkan: Berpenampilanlah untuk memuliakan Tuhan-mu! JADI TIDAK BENAR, DI KRISTEN DIPERBOLEHKAN BERPENAMPILAN SERONOK. Semoga info ini bisa meluruskan persepsi yg kurang tepat selama ini ttg penampilan orang Kristen. Tks.

    >>Inti penampilan pantas, sopan, & sederhana (= modest) seperti penjelasan suami saya: Tidak menor, tidak seronok, tidak mencolok, tidak sexy, tidak buka-bukaan, tidak ketat, tidak terlihat lekuk tubuh, tidak terlihat androgynous (laki/perempuan terlihat sama), dan tutupi bagian V (bagian bawah depan tubuh) dan tutupi bagian W (bagian lengkung dada dan lengkung belakang tubuh), berlaku sama untuk perempuan dan lelaki, jangan sampai “mencetak” lekuk tubuh dan merangsang “nafsu birahi” orang yang melihatnya!!! Cukuplah pasangan kawin orang tersebut yang melihat/menikmati lekuk tubuh pasangannya.

    >>Meski sejak dulu saya “agak” menjalani Gaya Modest ini, tapi baru bersama suami saya inilah, saya lebih memahami, lantas setuju dengan kesadaran untuk menjalani Gaya Modest ini, dan selain memakai rok panjang, tapi saya masih memakai celana (panjang/pendek) karena saya masih belum kuat dengan cuaca sangat dingin di negara 4 musim ini, tapi dengan model yg tidak ketat/mini. Begitu juga anak lelaki kami, tidak ada yg bergaya “Robin Hood” dengan gaya celana legging/skinny jeans, tapi paling tidak yg slim/straight. Sedangkan untuk pakaian renang perempuan bukan yg bikini/sexy (layaknya pakaian dalam) dan untuk lelaki celana renang pendek (bukan gaya celana dalam)!!!

    >> Kembali ke pemaparan mb Gayatri: (Benarkan saya bila salah) Benar adanya, kalau budaya dan tradisi, dengan pemahaman dan pelaksanaan terhadap suatu keimanan dari seseorang, akan menghasilkan hasil akhir yang berbeda.

    Salam sejahtera dari kami di Washington IL.

  15. wuah… Asik sekali bahasannya Mbak. Membukakan dan mencerahkan. Apalagi di zaman sekarang dimana Agama sudah jadi tuhan bagi begitu banyak orng.

    Sekali lagi. Terimakasih telah berbagi kajian budaya ttg penutup kepalanya.. Tetap semangattt!!!

  16. Kebenaran itu SATU, dan pembenaran itu 1001

  17. Ini bacaan yg sangat bermanfaat buat saya, terima kasih byk buat penulis.

  18. Mbak… kamu keren sekali…

  19. Terima kasih atas ilmu dan pengetahuan luar biasa ini..
    damai sekali saya membaca artikel dan tanggapan-tanggapan anda atas beberapa komen diatas..

    semoga Allah mencurahkan rahmat untuk kita dan khususnya anda :)

  20. Hai, ulasan yang menarik dan menambah wawasan, thank

  21. Salam, saya seorang mualaf dari nasrani yang skrg alhamdulillah sudah berkerudung. Seandainya lebih banyak lagi orang2 seperti mbak Gayatri, tentu kaum nasrani akan lebih menghormati umat Islam di Indonesia :)

  22. informasinya sangat menarik. meski saya beragama Katolik, dan tahu para biarawati Katolik mengenakan tutup kepala, tapi tidak menyangka jika ada begitu banyak tutup kepala biarawati yang mirip dengan Muslimah (atau sebaliknya?) :D

    haturnuhun teh…

  23. Lengkap dan komprehensif sekali. Terima kasih atas penelitiannya.

  24. Sangat simpati dgn artikel ini.
    Sangat elegan dan infirmatif, tanpa ada tendensi apapun.
    Trmksh sudah berbagi.

  25. saya suka artikel ini dan buat saya ini bermanfaat serta membuka wawasan yang lebih luas, tidak hanya berpikir sempit bahwa dunia itu hanya ada indonesia dan timur tengah. Sudut pandang budaya diangkat dengan cantik dan berlandasan. Rasanya seperti isi pikiran saya dituangkan oleh anda dengan baik…hehehe. Terima kasih.

    Untuk rekan-rekan yang lain, kalau soal agama sih saya memilih berhati-hati membahasnya.
    Sebagai orang awam akan kepercayaan lain adalah tindakan yang kurang berhikmat untuk mengungkit-ungkit perihal kepercayaan lain padahal kita tidak tahu apa-apa tentang seluk beluknya.
    Baru baca 1 ayat dari agama lain seakan-akan sudah paham keseluruhannya dan menjadi ahli untuk menghakimi
    .
    Hidup toleransi beragama ^.^

  26. Hwiiii… Nambah ilmu banget tulisannya. Jadi inget, dulu waktu kecil saya ga suka liat perempuan pake kerudung, krn menurut saya jadi jelek..itu loh yg atasnya pake mirip peci.. Hihihi..alhamdulillah udah ga gitu lagi ya skrg jd tercerahkan bahwa nutup aurat itu ga saklek mesti si peci itu. Hehehe…

  27. Terimakasih atas analisanya mengenai kerudung atau penutup kepala. Sangat bermanfaat untuk saya pribadi. Sudut pandang anda mengenai kerudung dari sisi budaya dikupas sangat menarik. Thanks

  28. Siapa yang meniru siapa ? Tak ada satu pun yang saling meniru

    Penggunaan jilbab / hijab merupakan perintah Allah. Nabi Musa (moses), Nabi Isa (Yesus), dan Nabi Muhammad menyampaikan pesan yang sama yaitu sembahlah Allah. Maka tidak mengherankan, baik Kristen, Yahudi, dan muslim para wanitanya mengenakan hijab / jilbab karena sumber perintahnya satu yaitu Allah subhanahuwata’alla.

    Yang menariknya lagi, Allah memerintahkan untuk menutup aurat kepada wanita yang beriman, tidak spesifik kepada muslimah

    Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…(An-Nuur:31)

  29. senang membacanya, mbak. bermanfaat. salam.

  30. Salut dengan pemaparan Anda yang informatif dan tidak tendensius. Semoga bermanfaat bagi semua orang demi suatu kebersamaan yang membangun.
    Salam.

  31. nice…. thanks for sharing :-)

  32. Wah bermanfaat banget buat bacaan saya, karena kemaren saya berniat meneliti jilbab dari masa kemasa dilihat dari sisi budayanya. Kalau berkenan mungkin kita bisa share mba. Trims

  33. Salam. Boleh mengetahui mengenai sumber foto cut nyak dien? Karena saya baru pertama kali melihat foto cut nyak dien dan teuku umar yg seperti itu.
    Mengenai lukisan laksamana malahayati(dan beberapa sultanah aceh) yang tidak menggunakan jilbab/penutup kepala, sebenarnya ada alasan logis dan menarik. Lukisan yg beredar dibuat belakangan di zaman prde baru, sehingga wajah dsb hanya merupakan imajinasi pelukis saja. Wajar jika mereka dilukiskan tidak berjilbab, karena mereka dilukiskan di zaman yg sangat anti dengan jilbab.
    Sementara di forum2 sejarah aceh yg saya ikuti, banyak kami temui dokumentasi foto/lukisan perempuan aceh yang mengenakan jilbab yg lebara dan panjang kira2 seukuran sarung dg cara pemakaian seperti jilbab segitiga, namun bagian leher umunya sedikit terbuka, mukin karena tidak mengenal peniti dan sejenisnya.

  34. Wuah tulisan yang sangat menarik… makasih sharingnya mbak…
    perlu effort keras untuk mengumpulkan data-data tulisan tersebut.
    sepakat, gak usahlah membahas model, yang penting lakukan saja seperti yang diminta Islam, menutup aurat:-)
    ada satu poin yang saya mau tambahkan, Evolusi jilbab juga sangat kental dengan revolusi sosial politik. Misalnya di Maroko, dulu perempuan miskin tidak berjilbab (karena mereka harus bekerja), setelah revolusi, perempuan2 kaya membuka jilbabnya sebagai simbol bebas dari kungkungan Hareem (rumah besar dan mewah, bukan berarti tempat para gundik yaa), sedangkan yang miskin pakai jilbab, karena merasa sudah setara dan bisa seperti kaum bangsawan:-)

  35. fatimahwiyarandi

    nice… :) gak usah diperdebatkan gaya nya mba…. perintah allah hanya menutup aurat kecuali muda dan telapak tangan,, yah kalo gak sesuai dng itu.. ya wallahu a’lam,, jilbab itu bukan hukum fiqih tapi syariat islam.. kewajiban,, sudah seharusnya semua wanita muslim dan mengaku islam itu berjilbab.. gak harus menunggu kesiapan lahir batin… gak harus menjadi baik.. siapapun dia, dr golongan manapun dia, keturunan manapun dia, profesi apapun dia jika beragama islam dan mengaku muslim yah seharusnya berjilbab.. bahkan seharusnya menurut saya sekalipun maaf *pelacur pun harus berjilbab jika dia mengaku muslim.. ushikum waiyyaya nafsi.. :)

  36. Salut banget sama admin blog ini.. 2 thumbs deh.
    Seandainya semua umat seperti mba, maka akan damai dunia ini, terutama indonesia. Tidak ada iri2an, sirik2an dan SARA.
    Benar2 salut deh. Anda contoh pertama yang saya lihat bisa menjalankan fanatisme positif.
    Kebanyakan yang saya temui fanatisme negatif mba.

  37. Mba, Oneness of God’s Revelation itu sama dengan Perennial ngga ya?

    • gayatri wedotami

      AlQur’an menegaskan Allah itu Satu. Allah menurunkan AlQuran setelah Injil setelah Zabur setelah Taurat. Ini jelas ada dalam alQur’an. Gak perlu disebut perennial atau istilah filosofis lainnya. :)

  38. hijab dalam islam bukan karna budaya atau mengikuti budaya lain, akan tetapi suatu kewajiban untuk menutup aurat, masalah jenis dan bentuk boleh beragam disesuaikan selera. maslah ada yang tidak menggunakan hijab atau hijabnya tidak sempurna menutupi aurat itu kembali pada manusianya.

  39. saya seneng liat foto2nya..
    jadi menambah pengetahuan saya bahwa banyak juga selain muslim yang berkerudung/berjilbab hampir sejenis.

  40. Jadi inget dengan Omnia Hegazi, pendapat dia sama dengan pendapat mbak Gayatri hehehe, saya setuju dengan itu… ini dia http://www.youtube.com/watch?v=NuR5o1yzdk8&feature=c4-overview-vl&list=PLcqw1jHO-piuquHVGt0O68cESdy2vpIre

  41. Assalaamu’alaikum,
    sekedar comment..:), mungkin perlu dilihat konteks dari hadistnya, bunyi lengkapnya bagaimana dan sebab dari munculnya hadist tersebut agar kita lebih mengerti. kadang orang mudah mengintepretasikan dalil sesuai dengan kecenderungannya sendiri…
    soal meniru, hmmm, yahudi dan kristen dulunya adalah agama samawi, tentu ada beberapa yang sama dengan umat islam. Untuk saya pribadi, islam datang setelah agama2 tersebut, jika kita menjalankan syariat islam, dan menteladani Rasuulullooh saw, kepribadiannya, gaya hidupnya maka yakin, secara keseluruhan (outward and inward), kita akan menjadi seseorang dengan identitas sendiri, which is: a muslim.

  42. Wah, saya bacanya telat…
    Menarik, tp mnkin akan lebih menarik kalau d tambahkan dgn budaya menutup kepala pada kaum Yahudi, menutup kepala pada penganut Hindu terutama d India, dan penutup kepala para biksuni terutama d Jepang, serta kaum2 lain yg juga mengenakan penutup kepala (tudung/kerudung).

  43. sangat suka dengan artikel diatas, saya mencoba melihat bahwa keragaman tidak bisa diclaim oleh siapapun. hanya orang2 picik yang tersinggung oleh tulisan anda.

    – I do belive in God, but I don’t believe in religion -

  44. Bahasan ini semakin memantapkan saya untuk berhijab, terima kasih… :)

  45. dina dyah kusumayanti

    Ass. Mohon dikoreksi pada caption foto tertulis “wardanah mahadi pernah menjabat ketua PP Aisyiyah”, foto yg termuat adalah foto Prof Dr. Siti Chamamah Soeratno. Seorang Prof di Fakultas Ilmu Budaya UGM yg pernah jg menjabat sebagai ketua PP Aisyiyah. (dlm foto di atas beliau berjilbab hijau) di atas foto Dra. Susilaningsih istri alm. Dr. Kuntowidjoyo. Mohon dikoreksi.

    Saya sendiri seorang muslimah yg mengenakan jilbab. Dasar saya sederhana surat yaitu An Nur 24:31 (tutup aurat hingga ke dada) dan surat Al Azab 33: 59 (tutup aurat hingga ke seluruh tubuh). Substansi perintah menutup aurat untuk muslimah menurut saya ada pada dua surat tsb. walaupun pada pelaksanaannya prinsip pragmatis, praktis, kultural, ekonomis, dan sosial akan memberi kemungkinan variasi pemakaian dan pemodifikasian jilbab atau hijab. Saya sendiri sangat nyaman dengan jilbab instan dari kain kaus yang cepat dan mudah dikenakan seperti mengenakan topi. alhamdulillah Islam adlh agama yg mudah bagi para penganutnya.

    salam.

    dinadyahkusumayanti

  46. Tya Widowati, mengutip satu ayat saja tidaklah bijak. Karena tidak ada satu ayatpun yg berdiri sendiri, ada konteksnya. Bila tak mengimani, akan sulit memahami. Kerudung penutup kepala untuk wanita dan sunat pada laki2 bila secara literal memang diwajibkan. Namun surat Paulus kepada jemaat di Korintus yg terkutip diatas adalah teguran pada para wanita di daerah tersebut yg sudah sangat melenceng ketidaksopanannya, bahkan ketika menghadiri peribadatan. ‘Kepala’ disini adalah suami yg wajib ditaati, dan Tuhan yang juga wajib ditaati pula. Bila ada wanita yg tidak mengindahkan teguran/peran suami dan mengabaikan ajaran Tuhan, sama saja dengan kehinaan bagi wanita tersebut.
    Asal kutip bukan suatu tindakan bijaksana, hapal Kitab Suci tapi tak melaksanakan dan tak belajar memahami dengan iman juga percuma. Maksud saya, saya bisa saja hapal dg Kitab Suci saya, tapi kalau hanya hapalan ya hina juga lah saya… perbuatan saya pasti tak sejalan dg yg saya baca, itu artinya saya menghinakan Sang Sabda…
    Yang lebih berbahaya adalah bila hal fisik jadi bernilai lebih dari iman yang ditaati. Terus terang, berbusana sopan dan sederhana, menutup aurat, tidak menimbulkan dengki orang lain, tidak malah membuat lawan jenis menoleh dan penasaran, LALU DIIKUTI dengan kebaikan hati yang terpancar dan kegembiraan tanda syukur atas hidup yang dianugerahkanNya, lalu menaruh kebaikan sebagai keutamaan…. ITU JAUUUUH lebih berharga dimataNya daripada bingung mana model penutup aurat yg paling sahih, atau model termutakhir…. Yg ujung2nya mencela kelompok lain dan berprasangka buruk hanya karena menggunakan penutup aurat yg berbeda….

  47. Research fotonya oke juga, thanks for sharing :)

  48. mau nambahin sedikit, bukannya yang disebut sebagai Wardanah Muhadi itu ibu Chamamah Soeratno ya?

  49. Sy cm mau ksh dukungan aja, tdk mudah menulis dan menyampaikan yg akan byk dicerca org (spt pengomentar2 lain. Aneh. Pdhl ini ditulis dr sisi yg netral menurut sy), walaupun itu hal yg benar. Blog ini ditulis dg research dan effort yg menurut saya patut patut dicontoh org2 yg cm tau omg doang atau berkoar2 tanpa dasar. Ya itu aja sih, jd ya, teruskan :)