Oleh: Gayatri W.Muthari*
Syariat Islam?
Pada Konferensi “Sacred Space” di Universitas St. Thomas Aquinas, Roma, yang melibatkan tokoh-tokoh cendekiawan dan pemuka agama dari tiga agama (Katholik, Yahudi, dan Islam) diselenggarakan salah satu diskusi mengenai “Shariat in Sacred Space” dengan tiga pembicara yang mewakili masing-masing mazhab dalam Islam, yaitu dari imam tarekat Syaziliyah di Italia (mewakili aliran sufi), ayatullah dari Qum, Iran (mewakili mazhab Syiah) dan ahli fiqih keturunan Pakistan yang mengajar di A.S (mewakili mazhab Sunni). Pada kesempatan tanya-jawab tersebut saya menanyakan “Bagaimanakah syariat Islam yang dipahami berbeda-beda oleh tiap-tiap mazhab, dapat memberikan solusi akan persoalan konflik “sacred space” – tanpa menyebabkan mazhab mayoritas merasa dilecehkan, tetapi pada saat yang sama tanpa mendiskriminasi hak kebebasan beragama mazhab minoritas? Mungkinkah?”
Ketika berbicara dengan beberapa aktivis pada saat istirahat makan siang, dugaan saya ternyata diiyakan oleh mereka bahwa diskriminasi paling parah biasanya justru dialami oleh kalangan minoritas dalam mayoritas. Misalnya, di Indonesia, kita sudah melihat apa yang terjadi pada penganut Ahmadiyah. Kemudian, akhir-akhir ini dengan penganut Syiah. Syariat Islam yang diterapkan secara umum melindungi kebebasan beragama umat-umat non-Muslim, tetapi pada umumnya juga justru tidak melindungi kebebasan beragama golongan-golongan Islam lainnya (atau golongan-golongan lain yang juga mengklaim sebagai Muslim).
‘Ekumenisme’ Sebagai Jembatan Menuju Persaudaraan Lintas Iman
Eratnya persaudaraan Kristiani, persaudaraan Muslim, persaudaraan Buddhis, dan seterusnya memungkinkan terbangunnya jembatan menuju persaudaraan lintas iman. Di sini saya meminjam istilah “ekumenisme” dari dunia Kristen yang bercita-cita untuk menyatukan dan mensaudarakan seluruh umat Kristiani menjadi satu dalam tubuh Kristus walaupun dengan puluhan ribu sekte. Dunia Islam mengenalnya sebagai ukhuwah Islamiyah, dengan cita-cita yang serupa.
Ukhuwah Islamiyyah, persatuan dan kesatuan umat Islam – atau usaha-usaha ‘ekumenikal’nya umat Islam memang umurnya masih muda. Pada tanggal 9 November 2004, Raja Abdullah II bin Al-Husein dari Yordania menyerukan sikap toleransi dan persatuan di dunia Islam. Seruan ini kemudian dikenal dengan sebutan The Amman Message (رسالة عمان). Kutipan “Kesepakatan tersebut”, “Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang. Shalawat dan salam kehadirat Nabi Muhammad dan keluarganya yang baik dan suci. Siapapun pengikut salah satu dari empat mazhab hukum Islam Suni (Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali), dua mazhab hukum Islam Syiah (Ja’fari dan Zaidi), mazhab hukum Islam Ibadhi serta mazhab hukum Islam Zahiri adalah seorang Muslim.
Menyatakan pengikut (mazhab) tersebut sebagai kafir adalah hal yang mustahil dan dilarang. Sudah pasti bahwa darah, kehormatan dan hartanya adalah terjaga. Selain itu, berdasarkan fatwa Syekh Al-Azhar, adalah tidak mungkin dan tidak diperbolehkan untuk menyatakan kafir kepada penganut keyakinan Asy’ari atau yang mempraktikkan tasawuf dengan benar (sufi)…” The Amman Message (9-11-2004) yang dideklarasikan bersama oleh 200 ulama dari lebih 50 negara dikukuhkan kembali oleh pernyataan bersama lebih dari 500 ulama dan cendekiawan Islam dari seluruh dunia pada tahun 2006 akan komitmen ukhuwah Islamiyyah ini.
Dalam dunia Kristen terdapat hampir 40 ribu denominasi (mazhab atau sekte). Di antaranya termasuk denominasi Katholik Roma yang paling aktif dalam menyerukan ukhuwah di kalangan kaum Kristiani. Semenjak Konsili Vatikan II (Trent, 1962) Gereja Katholik Roma secara aktif menyelenggarakan kegiatan-kegiatan ekumenikal untuk menjembatani Gereja Katholik Roma dengan gereja-gereja Protestan, Ortodoks dan denominasi-denominasi lainnya. Ayat Yohanes 17 mengenai saudara-saudara seiman itu sesungguhnya satu, merupakan salah satu kutipan favorit yang terus-menerus menjadi inspirasi dan pendorong kegiatan-kegiatan ekumenikal ini.
Di dunia Katholik sendiri, gerakan-gerakan “lay” (kaum awam atau kaum selain pastor, suster, brother, rahib) seperti Focolare turut aktif dalam kegiatan-kegiatan ekumenikal tersebut. Sejak ditetapkan bahwa pada setiap bulan Januari adalah Pekan Doa Sedunia Umat Kristiani (antara tanggal 18-25) untuk berdoa bersama (demi persatuan umat Kristiani), almarhumah Chiara Lubich senantiasa secara aktif mendorong para Focolari untuk aktif dalam kegiatan ekumenikal semacam ini. Focolare sendiri selama beberapa dasawarsa terakhir dianggotai oleh berbagai penganut Kristen, bahkan juga kaum atheis dan kaum Muslim dan penganut agama-agama lainnya. Beberapa upaya ekumenikal Gereja Katholik Roma antara lain adalah memperkenankan para penganut Ortodoks yang telah dibaptis secara Ortodoks untuk menerima roti ekaristi/hosti, dalam misa-misa Katholik Roma, kendati kebanyakan gereja Ortodoks yang mempunyai wewenang otonomi, tidak memperkenankan umatnya menerima hosti di luar gerejanya. Sejumlah kebaktian bersama seperti antara Katholik Roma dengan Anglikan juga lazim dilaksanakan di gereja-gereja di Roma. Sejumlah gereja Katholik di Roma juga senantiasa meminjamkan gereja mereka untuk kegiatan-kegiatan misa berbagai denominasi Ortodoks dan Katholik Timur.
World Council of Churches (WCC) yang berdiri pada tahun 1948 dan berpusat di Geneva, Swiss, merupakan mitra Gereja Katholik Roma dalam kegiatan-kegiatan ekumenikal dan lintas iman. Gereja Katholik Roma sendiri tidak termasuk di dalam WCC. Namun, , melalui Pontifical Council for Promoting Christian Unity, Gereja Katholik Roma aktif bekerjasama dengan WCC dalam kegiatan-kegiatan ekumenikal dan lintas iman tersebut . WCC beranggotakan sejumlah besar gereja Ortodoks, gereja-gereja Protestan, Anglikan, beberapa gereja Baptis, Lutheran, Methodis, Reformed, beberapa gereja Pantekosta, beberapa gereja Old Catholic, dan gereja-gereja indipenden dan kecil lainnya, misalnya secara aktif menjalankan dialog dan pertemuan dengan Gereja Katholik Roma membahas isu-isu perdamaian, dan persoalan global lainnya. Pertemuan Assisi terakhir tahun 2011 membuktikan setidaknya pada tingkat kepemimpinan, adanya komitmen di antara kaum Kristiani yang ribuan alirannya ini dengan umat-umat beragama lainnya dan mereka yang tidak beragama untuk menyatukan visi dan misi dalam semangat “common words” yaitu dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan, perdamaian, pendidikan, kesehatan, dll.
Golongan-golongan Kristen lainnya,selain WCC, walaupun secara teologis sangat bertolakbelakang, seperti World Evangelical Alliance, World Convention of Churches, juga menyambut dengan baik kegiatan-kegiatan lintas iman sebagaimana di Assisi 2011.
Namun, memang terdapat sejumlah kecil golongan Kristen yang menolak atau menghindari dengan tegas kegiatan-kegiatan ekumenikal, atau dengan tegas menolak dialog bahkan secara aktif sangat berseberangan dengan umat Kristen pada umumnya. Saya tidak perlu menyebut di sini gereja-gereja mana saja, lagipula di Indonesia keadaannya agak berbeda dengan keadaan di Amerika Serikat secara khusus.
Mengamati golongan-golongan Kristen seperti ini sama seperti mengamati golongan-golongan Islam yang dengan aktif dan berapi-api senantiasa menyudutkan dan menyesatkan golongan-golongan Islam seperti Syiah, Ahmadiyah dan bahkan kaum Sufi. Mereka ini yang senantiasa dengan dingin menolak kegiatan-kegiatan “ekumenikal” dan dengan caranya sendiri menginginkan Islam mendominasi dunia sebagai kekuatan politik, moral dan ekonomi, tetapi secara tegas tidak mau melibatkan diri, bertoleransi, apalagi menghargai kekayaan ragam Islam – yang jika dibandingkan dengan dunia Kristen – sekte atau alirannya tidak terlalu banyak.
Golongan-golongan Kristen yang mau berdialog antara sesamanya juga dengan mudah mau berdialog dengan golongan-golongan umat agama lainnya, begitu pun dengan golongan-golongan Islam yang terbuka dan mau bersatu untuk mengatasi perbedaan antar dirinya pasti mau berdialog dengan umat-umat beragama lainnya. Dua umat agama ini merupakan umat terbesar di dunia, jikalau di dalam tubuh mereka sendiri terjadi pertumpahan darah, adalah tidak heran jika diantara keduanya juga terjadi pertumpahan darah. Memulainya dari dalam keluarga sendiri adalah langkah awal untuk mengikat tali silahturahmi dengan keluarga-keluarga lainnya.
Paradigma Peace-Building
Dalam perselisihan dan pertikaian, kita tahu bahwa penderitaan batin akibat kehilangan dan penindasan sifatnya lebih permanen dan sulit pulih. Karena itu, yang kita butuhkan adalah paradigma “peace building” bukan lagi paradigma mengatasi konflik, ibaratnya “polisi selalu datang setelah terjadi kemalingan atau kejahatan” tapi sebetulnya yang paling penting adalah bagaimana mencegahnya atau paling tidak mengurangi seminimal mungkin kehilangan dan kerusakan?
Anak-anak atau generasi muda merupakan korban pertama dan korban utama. Jika mereka mewarisi dendam dan luka batin ini, pertikaian akan terus terjadi, ladang-ladang baru bagi peperangan akan terus subur dan berkembang. Sebaliknya, jika mereka dapat mengatasi bekas-bekas luka mereka, maka mereka akan menjelmakannya sebagai benih-benih baru cinta dan perdamaian, menyemainya, menanamnya, dan merawatnya sehingga taman-taman persaudaraan akan menjadi indah karena pohon-pohon kasih mereka mekar bersemi.
Dalam hal ini, peranan perempuan sangat penting dalam mengembalikan paradigma ini kembali ke tengah-tengah paska konflik, dengan asumsi bahwa pada dasarnya perempuan secara spiritual penuh kasih sayang dan secara sosial adalah sekolah pertama dan sekolah utama bagi anak-anaknya. Di Bosnia, di Israel-Palestina, dan di Irlandia misalnya, andil mereka ternyata sangat besar dalam peace-building ini. Namun, sayangnya, hal ini sedikit terlupakan. Para pemimpin dan perwakilan kesepakatan-kesepakatan perdamaian kebanyakan lelaki, yang secara spiritual menyukai otoritas (baca: kekuasaan) dan secara sosial tidak intim dengan dunia keseharian rumah tangga yang lekat dengan kebutuhan akan suasana yang aman, tenteram, dan damai.
Jika pluralisme dan toleransi tidak diajarkan di rumah, dan di sekolah hanya teori (dengan maraknya sekolah-sekolah Islam terpadu yang tidak memberikan ruang kepada praktek pluralisme, malahan menyuburkan ekslusivitas – seperti hari-hari libur nasional non-Islam tetap menjalankan sekolah), maka kita bisa menduga apa yang dapat terjadi. Apalagi, jika di kalangan kaum perempuan pendidik generasi muda ini juga secara aktif terlibat menyesatkan sesama saudaranya, mengkampanyekan eksklusivitas atau dengan kata lain mengecam upaya-upaya ‘ekumenikal’ dan kegiatan-kegiatan lintas iman dengan klaim benteng agama, serta mengabaikan (jahil/ignorance) realitas kemajmukan (baik di Indonesia maupun di seluruh dunia) dengan meminimalisasi makna “toleransi” sebatas “lu-lu, gue-gue.”
Anak-anak tamatan “sekolah-sekolah” ini akan menemukan dunia di luarnya entah sebagai “musuh” yang mesti diperangi “sampai titik darah penghabisan” demi menjadi syahid, atau justru akan linglung, dan terperangkap ke dalam “kebingungan identitas”, menjadi apatis, pindah dari satu ekstremitas ke ekstremitas berikutnya. Mengapa? Sebab, yang diajarkan adalah “mengatasi konflik” dengan pedang atau kekuasaan baru, bukan mengajarkan “membangun perdamaian” dengan jembatan-jembatan toleransi, persahabatan dan kasih sayang. Yang diajarkan adalah “mengatasi konflik” dengan upaya-upaya “menjadikan semua yang berbeda menjadi satu warna, homogen”, bukan “membangun perdamaian” dengan mempraktekkan ‘ke-legawa-an’ (keikhlasan) bahwa realitas kemajmukan tidak dapat dihindari, melainkan patut disyukuri, dirayakan dan dikelola dengan menghapus keegoisan masing-masing: bahwa aku-lah yang paling benar, aku-lah yang patut berdiri di atas segala-galanya, dan seterusnya dan seterusnya. Di tengah carut-marut dunia yang semakin busuk dan semua haus kekuasaan ini, paradigma peace-building ini, mungkinkah?
Roma, 5-6 Januari 2011.
MEDITASI BERJALAN
Raihlah tanganku.
Kita akan berjalan.
Kita akan hanya berjalan.
Kita akan menikmati perjalanan kita
tanpa memikirkan akan tiba di mana.
Berjalan dengan damai.
Berjalan dengan bahagia.
Perjalanan kita adalah perjalanan nan damai.
Perjalanan kita adalah perjalanan yang bahagia.
Kemudian kita menyadari
Betapa tiada perjalanan nan damai
Betapa damai itu ialah perjalanan ini
Betapa tiada perjalanan yang bahagia
Betapa kebahagiaan itu ialah perjalanan ini.
Kita berjalan untuk diri kita sendiri.
Kita berjalan untuk setiap orang
selalu bergandengan tangan.
Berjalan dan menyentuh kedamaian setiap waktu.
Berjalan dan menyentuh kebahagiaan setiap masa.
Setiap langkah membawa angin segar.
Setiap langkah menyebabkan bunga mekar di bawah telapak kaki kita.
Ciumlah Bumi dengan kaki kita.
Cetaklah di atas Bumi cinta dan kebahagiaan.
Dunia akan aman sentosa
apabila dalam diri ini kita merasa cukup aman sentosa.
(Terjemahan bebas dari “Walking Meditation” oleh Thich Nhat Hanh)
Semoga damai di negeriku dan damai di seluruh penjuru Bumi. Amin yra.
*Sedang mengikuti program dialog lintas-agama disponsori oleh Nostra Aetate Foundation, dengan studi Kristenitas di Universitas Pontifikal Gregoriana dan Universitas Pontifikal St. Thomas Aquinas, Roma, Italia.












menarik untuk disimak saja. No coment !!
Terimakasih sdr. Dian. Itu pun sudah suatu komen. Hehehehe..